Sabtu, 29 Juni 2019

# GERMAS # Kesehatan

Segera Cegah dan Kendalikan Penyakit Tidak Menular (PTM)

Hampir 1,5 tahun ibu saya menjalani pengobatan jantung di salah satu RS umum di Cisalak, Depok. Saya masih ingat betul kejadian ibu terkena serangan jantung. Kaget dan bingung tindakan apa yang harus dilakukan. Rasanya kematian itu dekat sekali. Penyakit jantung salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang bisa  mematikan. Kalau tidak ada pengendalian dan pencegahannya, maka bisa merenggut nyawa kapan saja.

Sekarang ibu saya terlihat lebih sehat setelah menjalani 2 kali pemasangan ring pada jantungnya. Kontrol ke dokter dan minum obat juga rutin tiap bulan. Alhamdulillah semuanya menggunakan BPJS. Biaya pengobatan tidak terlalu membebani. Ibu saya juga masih bisa beraktivitas seperti biasanya.

Banyak penyakit tidak menular timbul dari merokok


Penyakit tidak menular itu ibarat pembunuh berdarah dingin, silent killer, berdiam dalam tubuh kita yang kapan saja bisa mematikan. Sebagai anak, ibu dan wanita, saya harus menyampaikan dan menyebarkan informasi tentang bahayanya penyakit tidak menular bagi diri kita dan orang sekitar. Tentunya dimulai dari keluarga dalam satu rumah.

Pengetahuan saya bertambah setelah menghadiri workshop Blogger Kesehatan "Cegah dan Kendalikan PTM" dalam rangka Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2019 di Hotel Royal Kuningan, Jakarta serta kunjungan lapangan ke 5 rumah sakit di Jakarta. Benar-benar bergizi banget deh ikutan workshop ini. Tentunya saya pribadi makin sadar akan bahayanya penyakit tidak menular serta menerapkan GERMAS (Gerakan Masyarakat Sehat).

Baca juga : Pijat Bayi Dengan Sentuhan Cinta

Workshop dilaksanakan selama 2 hari. Hari pertama tanggal 18 Juni 2019 diadakan di Hotel Royal Kuningan, Jakarta dan hari kedua, Rabu 19 Juni 2109 langsung menunju ke rumah sakit yang sudah dibagikan menurut kelompok masing - masing. Kebetulan saya mendapatkan kunjungan ke RSUP Persahabatan, Jakarta Timur.


Kebijakan dan Strategi Pencegahan & Pengendalian Penyakit Tidak Menular 


dr.Theresia Sandra Diah Ratih, MHA

Workshop hari pertama mendatangkan beberapa narasumber yang kompeten. Sesi pertama diisi oleh dr.Theresia Sandra Diah Ratih, MHA tentang Kebijakan dan Strategi Pencegahan & Pengendalian Penyakit Tidak Menular.

Beberapa data membuktikan bahwa angka kematian terbesar di dunia berasal dari penyakit tidak menular. Salah satunya data dari WHO 2018 menunjukkan sekitar 80% kematian akibat dari penyakit tidak menular terjadi di negara berpenghasilan menengah dan rendah.  So, Indonesia termasuk di dalamnya.


Persentase menurut data WHO 2018

Beberapa faktor risiko penyebab penyakit tidak menular yang harus diperbaiki sebagai pengendalian penyakit yaitu tingginya konsumsi gula, garam, lemak dan obesitas. Daerah Yogyakarta merupakan konsumsi gula tertinggi sebanyak 16,9%. Mungkin karena disana suka makan yang manis-manis ya kayak gudeg, bakpia patok atau mba dan mas nya yang manis juga 😂. Lihat aja Duta Sheila on 7 manisnya kebangetan kan.

Ada 9 target global pengendalian penyakit tidak menular tahun 2025. Salah satunya penurunan konsumsi tembakau sebesar 30%. Memang penjualan rokok itu untung secara ekonomi besar banget. Karena masyarakat Indonesia hobi banget ngerokok. Padahal penyakit turunan akibat dari merokok itu banyak banget.

Pas banget nih dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2019 penggunaan tembakau dibatasi atau kalau perlu dihilangkan. Oleh karena itu, ada strategi pengendalian konsumsi tembakau yaitu MPOWER.  Diharapkan bisa mengurangi dan pengendalian penyakit tidak menular.

Ilustrasi grafis Made by @nurul_gie

Sering kan belanja di minimarket dan lihat rak rokok di dekat kasir ditutup sama hordeng? Ternyata itu salah satu pembatasan promosi rokok. Aksesnya juga dibatasi dengan pelarangan menjual rokok pada anak usia kurang dari usia 18 tahun dan ibu hamil serta meningkatkan cukai dan harga produk tembakau. Cakeeppp...

Stakeholder atau pelaku penjualan rokok bersama mitra kesehatan melakukan advokasi dalam melindungi masyarakat dari PTM dan dampak buruk kesehatan. Tidak lupa juga tetap membudayakan CERDIK atau bisa simak tips seperti foto di bawah ini. Bisa juga hubungi Quit-Line INA Berhenti Merokok 0-800-177-6565, free call service.

Dok. Gambar Twitter @p2tmkemenkesri

Baca : Perilaku "CERDIK & PATUH" Kendalikan Tekanan Darah (Hipertensi)


Dr.Rita Ramayulis, DCN, M.Kes

Dalam riwayat kesehatan keluarga ada dua orang yang terkena serangan jantung. Adiknya ibu atau om saya meninggal dunia akibat serangan jantung juga. Memang dia punya kolesterol tinggi, namun tidak rutin cek kesehatan. Hingga ajal merenggut nyawanya tahun 2017. Ibu saya termasuk beruntung karena masih bisa terselamatkan.

Siapa yang suka diet? Yakin sudah benar dietnya? Dr.Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, menyampaikan materi tentang Diet Seimbang dan Aktivitas Fisik. Penyakit tidak menular menurut keseimbangan gizi RISKESDAS 2018 ada beberapa macam yakni berat badan berlebih, obesitas, obesitas sentral, aktivitas fisik kurang, kurang konsumsi buah dan sayur dan konsumsi tinggi gula, garam dan lemak.

Tubuh kita membutuhkan banyak asupan gizi makro dan mikro. Masing-masing gizi mempunyai peranan fungsi. Zat gizi makro terdiri dari karbohidrat, protein, lemak dan air berguna untuk mengahasilkan energi atau sel lemak. Sedangkan zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral untuk serat alami. 


Sumber : Kemenkes RI

Tiap selesai sholat subuh sekitar pukul setengah enam pagi ibu mengelilingi danau yang ada di depan rumah. Katanya lumayan dapat 3 putaran jalan santai. Tandanya dia semakin kuat setelah pemasangan ring jantung itu. Aktivitas fisik seperti ini bisa dilakukan tiap hari. 

Ada perbedaan makna antara aktivitas fisik, latihan fisik dan olahraga. Aktivitas fisik merupakan gerakan yang tidak terlalu mengeluarkan banyak energi, latihan fisik lebih terencana & berstruktur demi kebugaran, dan olahraga untuk kompetisi. Cukup seminggu 3 kali latihan fisik dapat membantu menguatkan otot serta kapasitas ketahan jantung paru.

Kendalikan asupan gula dan garam untuk terhindar dari penyakit tidak menular. Untuk gula maksimal 50 gr jika lebih tinggi dari itu bisa menyebabkan timbulnya produksi hormon dopamin. Kalau garam sekitar 5 gram saja karena kalau berlebihan bisa mengganggu penyerapan beberapa mineral seperti kalsium sehingga terjadi osteoporosis.


Perbanyak makan buah dan sayur

Jangan ketinggalan konsumsi buah dan sayur karena jika kurang bisa berakibat pada metabolisme pada tubuh terganggu. Untuk usiaku takaran porsinya sekitar 3-5 porsi buah dan sayur tiap hari. Konsumsi lemaknya juga jangan kebanyakan biar nggak obesitas. Makan 1 gorengan saja jumlah lemaknya sudah 5-10 gram. Jadi, Jagan beli banyak-banyak gorengan ya.

Usahakan makan buah dan sayur tiap hari. sesuai porsi sudah cukup memenuhi kebutuhan energi harian kita. Ada perbedaan patokan porsi tiap usia dan gender. Kalau saya cukup 4-5 porsi/hari. 



Bertemu Pasien Penyakit Tidak Menular di RSUP Persahabatan


Hari kedua dari rangkaian workshop, saya berkesempatan mengunjungi RSUP Persahabatan, Jakarta Timur. Ada 10 blogger yang ikut dan bersama beberapa perwakilan dari Direktorat P2TM. Jam 9 saya sudah sampai di rumah sakit dan bertemu teman blogger lainnya.



Pak Mohammad Ali Toha ditengah berbaju batik

Kegiatan dari kunjungan ini bertujuan agar kita bisa melihat langsung pasien yang sudah terkena salah satu penyakit tidak menular yaitu kanker paru. Sebelum mengunjungi pasien yang dimaksud, kami pun disambut oleh Direktur Utama RSUP Persahabatan dr. Mohammad Ali Toha, MARS, Direktur Medik dan Keperawatan DR. dr. H. M. Alsen Arlan, Sp.B-KBD, MARS dan Direktur Umum, SDM dan Pendidikan drg. Setiawaty, M.Kes.

Selanjutnya dr. Feni Fitriani, Sp.P(K) menjelaskan dampak dari merokok sehingga menimbulkan penyakit tidak menular yang begitu banyak orang alami.



Saya tuh nggak suka asap rokok karena punya asma. Hidung saya sensitif banget kena asap rokok langsung bersin - bersin dan bengek. Beberapa fakta dari Global Youth Tobacco Survey (2014) mencatat jumlah perokok di Indonesia berada di peringkat SATU di Asia Tenggara. Sungguh bukan prestasi yang patut dibanggakan. 

Zat adiktif bernama nikotin itu yang membuat perokok ketagihan (craving & withdrawl). Merokok itu bisa menurunkan berat badan karena ada pelepas dopamin pada otak yang menekan nafsu makan. Mau diet tuh ngerokok aja, paling hancur paru-paru. Bayangin aja ada 7000 zat kimia pada kandungan rokok.


Pak Adang yang di kursi roda
saat diwawancara

Timbullah penyakit akibat dari merokok yaitu kanker paru, penyakit jantung iskemik, dan penyakit paru obstruksi kronik (PPOK). Seperti yang dialami oleh Pak Adang dari Ciamis, ia menderita kanker paru stadium 4. Ini akibat dari merokok selama 50 tahun. Tiap hari ia menghabiskan 2 bungkus rokok isi 20 batang. Duh, bayangin itu nikotin yang sudah melekat dalam darah dan dagingnya. Beliau baru berhenti merokok setahun belakangan ini karena merasakan sakit mata, kaki bengkak, nafas sesak, pusing.


Baca lagi : Pencegahan Penyakit Talasemia


Saya saja yang kena asap rokok dikit aja udah ngerasain bengeknya minta ampun. Apalagi si bapak yang merokok setengah abad, dampaknya baru sekarang dirasakan. Inilah efek dari penyakit tidak menular yang sangat berisiko. Baginya merokok itu seperti putus cinta, sakiit. Susah banget dipisahkan. Baru 2 bulan putus, eh balik lagi merokok. Beliau juga tidak mendapatkan informasi tentang bahaya rokok dari lingkungan sekitar.

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) mempunyai ciri-ciri seperti nafas sesak/berat, batuk kronik, berdahak, aktivitas terbatas. Paling banyak kasusnya dialami oleh perokok. Udah deh nggak usah merokok, nambah beban ekonomi dan beban kesehatan aja. Nggak ada untungnya. 


Kang Arul

Selesai kunjungan dari RSUP Persahabatan, kami bertolak ke kantor Kementrian Kesehatan RI. Ada sesi bersama Dr. Rulli Nasrullah, M.Si atau biasa dipanggil kang Arul tentang pengoptimalan mesin telusur dan konten di media sosial. Materinya cocok banget nih buat blogger supaya tulisannya mudah ditemukan pembaca melalui optimasi mesin pencari atau biasa disebut search engine optimazation (SEO).

Workshop selama dua hari ini sangat bergizi ilmunya. Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh pada tanggal 31 Mei 2019 membuat kita makin sadar akan pencegahan  dan pengendalian penyakit tidak menular yang perlu diterapkan di kehidupan sehari-hari. Kejadian yang dialami ibu saya dan Pak Adang cuma segelintir orang yang diketahui, masih banyak orang yang belum memeriksakan kondisi kesehatannya. Lakukan CERDIK dan GERMAS demi umur kita yang tersisa. 


Foto bersama peserta workshop kesehatan




Pantau juga media sosial tentang penyakit tidak menular
Twitter: @p2ptmkemenkesRI
Instagram : @p2ptmkemenkesri



***

15 komentar:

  1. Kalau baca beginian, jadi semangat untuk jaga makan dan olah raga biar sehat.

    BalasHapus
  2. Penuh gizi banget nih acaranya!
    Wawasan dan ilmu nge-blog juga merangkak naik.
    Paling suka acara seperti ini, silaturahmi sekaligus berbagi pengalaman.

    Baidewei,
    Aku juga termasuk yang peka banget terhadap bau rokok sekaligus gak nyaman banget sama baunya. Langsung lengket di baju dan jilbab. Duh...

    BalasHapus
  3. Nah, ini dia, penyakit tidak menular seringkali terabaikan oleh masyarakat ya. Papahku dulu pernah bypass, dll jantungnya. Penyakit kronis lainnya juga menghinggapi tubuhnya. Padahal ga merokok :( Bisa jadi terkena asap rokok orang2 di sekelilingnya. AKu aja tiap nyium asap rokok bisa batuknya gawwwat pisan. Gaya hidup, pola makan harus kita perhatikan ya supaya terhindar dari penyakit tidak menular ini. TFS ilmunya bermanfaat banget nih.

    BalasHapus
  4. Penyakit Tidak Menular (PTM) ini memang menyeramkan ya, karena papa dan mamaku korban PTM. Papaku perokok dan kemarin meninggal karena kanker hati yang sudah dipenuhin oleh nikotin, disini aku sedih banget. Bisa kecolongan banget, apalagi kanker hati ini rata-rata kalau ketauan sudah stadium akhir. Alangkah baiknya memang menjaga pola makan dan mengubah gaya hidup yang lebih baik dan sehat.

    BalasHapus
  5. Nah jenis penyakit seperti ini yang bahaya karena kerap nggak dianggap. Padahal bahaya banget. Aku lagi perbanyak aktifitas fisik dan makan sayur dan buah yang banyak :)

    BalasHapus
  6. gak nular tapi bahaya banget, aku aja ngeri ini, banyak soalnya pada kena serangan jantung masih muda2

    BalasHapus
  7. Alhamdulillah ya Ras ibu makjn sehat setelah pasang ring. Semogaaa sehat2 selalu.. Penyakit nggak menular memang silent killer yak, banyak kejadian Yang tetiba kena. Gaya hidup mesti diubah lebih sehat ya. Duh, aku pun Masih suka gak sehat makannya. Kalo ngerokok alhamdulillah sekeluarga enggak tapi tetap aja suka terpapar asap juga dari orang lain..

    BalasHapus
  8. Masya Allah lihat fotonya Pak Adang yang bersedia diwawancara Teman-Teman Blogger walaupun kondisinya sedang kurang fit ya. Dan bangga juga lihat semua Blogger yang begitu antusias hadir disana, dan membagikan informasi penting ini. Aku pun jadi semakin ingin jaga pola hidup supaya terus lebih baik, karena kesehatan adalah salah satu harta berharga yang sesungguhnya.

    BalasHapus
  9. Mesti waspada banget ya mbak soal penyakit tidak menular ini, krn si pengidap gak tau eh tau2nya udah sakit aja. Saya jg lagi belajar utk rutin berolahraga dan menjaga pola hidup lebih sehat

    BalasHapus
  10. Dilema sama rokok nih, gak mungkin bisa dibrangus sekaligus, udah candu bagi penghisapnya, kalo udah sakit baru deh insaf, mana penyakitnya banyak yg mengerikan, diam-diam tapi menggerogoti ya

    BalasHapus
  11. Wah komplit nih materinya. Ada bahasan tentang kesehatan, Ada materi ngeblognya juga. Penyakit tidak menular justru jadi pembunuh nomor satu ya.

    BalasHapus
  12. Seru ya acaranya, isinya dagiiing semua. Sarat ilmu. PTM memang bahaya karena gejalanya awalnya tak tampak, biasanya keliatan penyakitnya kalau sudah parah. Mulai sekarang ayo mulai ubah lifestyle, diet seimbang, dan olahraga supaya terhindar dari PTM ini

    BalasHapus
  13. Penyakit tidak menular ini memang disebabkan pola hidup ya aepeeti pola makan tidak sehat, stres dll. Aku harus mulai banyak makan buah dan sayur nih

    BalasHapus
  14. Mari kita gencarkan germas.... untuk indonesia yang lebih sehat....

    BalasHapus