Senin, 25 September 2017

# anak-anak # emosi pra sekolah

Sudah Siapkah Si Kecil Masuk Sekolah? Kenali Dulu Perilakunya Di Usia Pra Sekolah

Waktu terasa cepat berlalu. Rasanya baru kemarin aku melihat anak pertamaku, Arkana Gie Pratama belajar jalan atau selalu aku gendong kemanapun pergi. Nyatanya bulan depan ia akan berulang tahun yang ke lima. Ya, Gie sudah lima tahun. Itu artinya Gie bukan bayi di bawah lima tahun lagi atau balita. Anakku akan memasuki pengalaman baru, terutama terhadap lingkungannya. Lingkungan itu termasuk sekolah. Aku sebagai orang tua harus menyiapkan segala kebutuhannya untuk masuk sekolah nanti. Selain biaya yang sudah direncanakan, kesiapan dirinya terhadap tantangan baru aku juga persiapkan. 

Dari usianya 4 tahun, Gie sudah mau sekolah karena tiap hari melihat abang sepupunya berangkat sekolah. Memakai baju seragam dan bawa tas berisi buku-buku impian Gie saat itu. Antusiasnya ingin sekolah tinggi sekali. Tiap pergi dan pulang sekolah, kadang aku mengantar dan menjemput sepupuku. Antara semangat sekolah dan ingin bermain di halaman TK beda tipis sih ya. Karena saat permainannya banyak.

Persiapan masuk sekolah itu banyak, khususnya para orang tua menyiapkan dana dari jauh-jauh hari. Bahkan sekarang banyak asuransi yang menawarkan asuransi pendidikan yang bisa diambil beberapa tahun kemudian. Namun ada satu hal yang tak pernah terpikirkan oleh para orang tua, berlaku juga bagiku yaitu kesiapan emosional dan sosial sebelum masuk sekolah. Kedua persiapan ini akan mempengaruhi perilakunya saat masuk sekolab nanti. Anak kecil itu kan emosionalnya belum stabil, tapi kalau diarahkan dengan baik pasti bisa dikendalikan. Jujur aja aku khawatir dengan kesiapan Gie masuk sekolah. Bingung juga mau cari pencerahan kemana.

Bersama para moms parenting workshop

Beberapa minggu yang lalu aku mendapatkan e-invitation dari Clozette Indonesia untuk menghadiri #SmartParentingWorkshop bersama Parenting Club ID di Harlequin Bistro, Kemang, Jakarta pada tanggal 14 September 2017. Setelah aku baca brief emailnya ternyata sesuai temanya dengan kekhawatiranku saat ini. Tema "Kenali Perilaku Anak Usia Pra Sekolah" mewakili kegelisahanku terhadap Gie. Bisa pas begini ya. Anggap aja rejeki. Seminar kali ini berbeda dengan seminar lainnya yang sering saya datangi. Kenapa? Karena pihak penyelenggara memberikan fasilitas peserta workshop bisa membawa anak dan pendampingnya. Bahkan ada suaminya rela cuti sehari. Niat banget kan, hahaha..

Tapi memang enggak ada ruginya hadir di acaranya ini. Semua blogger bisa khidmat mendengarkan materi workshop yang disampaikan oleh Dr. dr. Rini Sekartini, Sp. A(K). Tentunya tanpa diganggu rengekan  anak ya.

Terus anak-anaknya kemana ?
Anak-anak dan pendampingnya bisa bermain di area playground yang luas dan banyak mainan. Kalau Gie suka banget mainan ini.

Photo by @miramiut

Sering-sering aja ya adain event kayak gini. Emak senang, anak lebih senang 😊. Back to the event, sebelum acara dimulai para blogger menyantap makan siang terlebih dahulu yang sudah disiapkan. Sambil menyapa para teman blogger lainnya yang sudah berdatangan. Sekitar pukul 1 acarapun dibuka oleh MC yang akhir-akhir ini ketemu di beberapa event, sapaan akrabnya Anka. Jangan tambahin 1 2 3 dst ya...Jadi berhitung nanti.

Sambutan hangat dari mbak Anka memulai blogger gathering dengan manis. Turut hadir pula public figure sekaligus ibu muda beranak satu Ayudia C bersama si kecil lucu Sekala. Aku suka sama mata Sekala, belo banget deh. Dalam seminar ini ada sesi story telling untuk anak-anak yang dibawakan oleh ka Budi Haha (Indonesian Ventriloquist) seorang ahli suara perut. Antara ruangan seminar dan stimulasi dibedakan. Jadi para ibu yang hadir bisa serius mengikuti acara sampai selesai.

Ka Budi Haha sedang story telling bersama anak-anak

Ruangan seminar 

Seperti yang saya bilang sebelumnya bahwa persiapan anak masuk sekolah itu bukan hanya masalah biaya, tapi juga kesiapan emosi dan sosial anak yang bisa mempengaruhi perilakunya. Perilaku adalah kemampuan memahami dan bertindak bijaksana dalam menghadapi atau berhubungan dengan orang lain. Di usia pra sekolah itu sifat anak masih cenderung tantrum atau suka ngambek berlebihan. Memang terlihat wajar jika anak tidak mendapatkan sesuatu lalu marah hingga nangis meronta-ronta. Tapi kalau kelamaan di diamkan saja bisa terbawa sampai ia besar nanti.

Istilah perilaku dibedakan dari dua sudut pandang antara orang tua dan para ahli. Bagi orang tua perilaku mengartikan dalam bentuk beragam dan bermaca.-macam. Kemudian para ahli menyatakan perilaku merupakan suatu produk hasil kerja dari aktivitas otak. Perilaku bisa juga berasal dari berbagai respon yang terkoordinasi. Respon tersebut bisa didapatkan dari bawaan sejak lahir atau melalui proses belajar. 


Jika dilihat dari segi karakteristik waktu, perilaku anak usia pra sekolah antara  3-6 tahun. Orang tua mendapatkan kesempatan terakhir untuk mengoreksi bila ada kekurangan kemampuan pada usia bayi (0-1 tahun) dan pada masa anak kecil (1-3 tahun) sebelum memasuki prestasi sekolah.



MC Anka, Ayudia, dr.Rini

Dr.Rini Sekartini Sp.A (K) menjelaskan bahwa periode emas anak itu berlaku hanya sampai 2 tahun pertama. Dimana selama perjalanan 2 tahun itu tumbuh dan kembang anak sangat pesat. Sebesar 80% otak anak sudah mencapai otak orang dewasa. Maka dari itu berikan stimulasi - stimulasi yang bermanfaat bagi tumbuh kembangnya. Pada saat usia masuk sekolah nanti bisa dengan mudah mengenali bakatnya. Selain mengenali kepintarannya, orang tua juga harus mengenal kesiapan akal, fisik dan sosial sebelum anak masuk sekolah. Agar kepintarannya optimal maka nutrisi yang tepat dan stimulasi yang konsisten bisa membentuk sinergi kepintaran fisik, akal dan sosial.


1. Kepintaran Akal merupakan kepintaran yang berkaitan dengan kemampuan kognitif si kecil yang meliputi Word Smart, Number Smart, Picture Smart, dan Nature Smart.
  • Word Smart    : Suka membaca, menulis, berbicara, mendengarkan cerita.
  • Number Smart : Tertarik pada angka, matematika, sains, hal-hal yang berhubungan dengan logika, menanyakan kenapa, contohnya seperti "mengapa burung bisa terbang?"
  • Picture Smart          : Suka menggambar, seni, suka berimajinasi, bermain membangun sesuatu menggunakan balok.
  • Nature Smart           : suka beramin di alam terbuka, suka dengan hewan  dan tumbuhan.

Tanda bahaya (red flag) jika anak : 
  • Belum bisa memegang pensil dengan ibu jari dan jari telunjuk
  • Sangat kesulitan dengan coret-coret
  • Belum bisa membuat kalimat dari tiga kata
  • Belum bisa meniru dari gambaran lingkaran
  • Sangat mudah diatraksi dan tidak konsentrasi pada sebuah aktivitas dalam kurun waktu 5 menit
  • Tidak dapat menceritakan aktivitas sehari-hari

Ajak camping bisa mengasah nature smartnya

2. Kepintaran Fisik merupakan kepintaran yang berkaitan dengan kemampuan fisik si kecil meliputi Body Smart dan Nature Smart. 
  • Body Smart   : Suka mengerjakan sesuatu dengan tangan, suka olahraga, menari, menyentuh benda-benda dan mempelajarinya.
  • Nature Smart : suka berada di alam, menyukai binatang, dapat menggolongkan tanaman, mengoleksi dedaunan, peduli terhadap lingkungan alam.

Tanda bahaya (red flag ) jika anak :
  • Sering kali jatuh dan kesulitan dengan                  tangga
  • Meneteskan air liur terus menerus
  • Anak belum bisa melemparkan boal di atas kepala
  • Belum dapat melompat di tempat
  • Menunjukkan ke -pasif-an fisik yang tidak wajar

Mencopoti stiker dan menempelkannya mengasah
 body smartnya

3. Kepintaran Sosial merupakan kepintaran yang berkaitan dengan kemampuan sosial si kecil meliputi: Self Smart dan People Smart.
  • Self Smart     : Memilih untuk bermain sendiri, memiliki hobi, tahu dia mau jadi apa saat besar nanti, punya rasa percaya diri yang kuat, bisa mengkomunikasikan perasaannya.
  • People Smart : Suka bermain dengan teman-temannya, memiliki empati terhadap orang lain, suka memimpin, bisa memahami perasaan orang lain.

Tanda bahaya (red flag) jika anak : 
  • Sangat agresif
  • Sangat penakut dan pemalu 
  • Nampak sangat tidak bahagia dan sedih sepanjang waktu
  • Sangat tidak tertatik dengan permainan interaktif
  • Seringkali meronta-ronta tanpa kontrol.jika marah atau kesal
  • Sangat tidak mempunyai ketertarikan bermai  dengan anak-anak lain.
  • Tidak menampakkan kesukaan terlibat dalam permainan "pura-pura".

Bermain bersama mengasah kepintaran sosial



Cari Tahu Kepintaran Anak
Dengan Smart Strength Finder Tool


Smart Strength Finder adalah tool yang dirancang oleh Thomas Armstrong, Ph. D yang dapat membantu para orang tua mengenali kepintaran si kecil dengan menjawab pertanyaan seputar perilaku si kecil. Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab dan hasilnya langsung bisa dilihat. Sebelum bisa menggunakan smart strength finder tool ini, pastikan kamu sudah registrasi dulu di www.parentingclub.co.id. Tool ini bisa disesuaikan dari usia anak. Kebetulan saya sudah mencoba. Setelah saya menjawab semua pertanyaan yang berhubungan dengan Gie, hasilnya dari sinergi kepintaran akal, fisik dan sosial Gie lebih dominan ke word smart, body smart dan people smart. 

Hasil sinergi kepintaran Gie

Saat seminar berlangsung, para ibu diperlihatkan secara langsung aktivitas anak-anak yang berada di ruangan stimulasi, dimana ka Budi Haha mengajak bercerita sambil bermain. Saya sempat masuk ke dalam ruangan stimulasi, semua anak antusias sekali mengikuti instruksi-instruksi yang disebutkan kak Budi Haha. Menurut kak Budi Haha story telling atau bercerita kepada anak bisa membentuk sinergi kepintaran anak. Bercerita sama dengan menstimulasi 8 kepintaran tersebut. 

Mau jadi pendongeng yang baik dan disukai anak-anak? Perhatikan dulu hal-hal berikut ini ya :
  1. Usia pendengar, lihat target pendengar cerita dan tentukan tema yang tepat.
  2. Pilihan cerita dan kata, cerita harus menarik dan kata-kata yang bisa dimengerti oleh pendengar.
  3. Keterlibatan pendegar, bisa merangsang kepintaran akal, fisik dan sosialnya.
  4. Suara, ekspresi dan gerak. Kalau pendongengnya kau atau enggak ekspresif pendengarnya bisa bosen.
  5. Peralatan pendukung. Bisa menggunakan alat-alat yang ada dirumah. Misalnya kaos kaki bekas bisa dibuat menjadi boneka tangan.
  6. Referensi. Gali terus informasi seputar target pendengar. Jadi bercerita juga nambah pengetahuan.

Jadi, manfaatkan waktu sedini mungkin untuk menggali potensi anak. Masa periode emas anak yang hanya berlangsung di dua tahun pertama akan membentuk pribadi diri seumur hidupnya. Dr. Rini Sekartini memberikan pesan bagi para orang tua yaitu perhatikan tumbuh kembangnya di 1000 HPK, penuhi kebutuhan dasar untul tumbuh kembang optimal, stimulasi dan nutrisi harus diberikan seimbang, pantau pertumbuhan dan perkembangan anak (bisa melihat melalui Kartu Menuju Sehat). Sudah siap kan si kecil masuk sekolah? 



****
rtari
pada angka, matematika, sains, hubungan dengan logika, menanyakan kenapa, contohnya sepertigapa langit berwarna  sains, hal-hal yang berhubungan dengan logika, menanyak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar