Hari Air Sedunia 2018 "Nature for Water" Solusi Pelestarian Air Di Alam

35 komentar
Bulan Maret segera berlalu. Pertanda siklus musim 6 bulanan berganti, dari musim hujan beralih ke musim kemarau. Namun beberapa tahun belakangan ini saya merasakan siklus rutin tersebut tidak tepat pada waktunya. Harusnya bulan September masuk musim penghujan, malah kemarau masih melanda. Padahal beberapa daerah di Indonesia sudah mengalami kekeringan air. Bahkan sampai harus berjalan berkilo-kilo meter mengambil air dari sumbernya. Mengambilnya pun tak banyak, hanya 2 ember air dibawa pulang. Mencuci dan mandi dilakukan di sumber air secara bergantian. Air begitu berharga saat musim kering tiba. 

Seperti makan buah simalakama. Musim kemarau kering air, musim hujan sering banjir. Serba salah rasanya manusia di bumi ini diberikan kenikmatanNya. Berlimpah air di planet ini, tapi masih saja ada yang kekurangan. Sebagai peringatan untuk kita akan pentingnya air sebagai sumber kehidupan, maka tiap tanggal 22 Maret diperingati Hari Air Sedunia. Tahun ini tepat peringatan ke 25. Tiap tahun United Nations Water (UN Water) mengusung tema yang berbeda. Tahun ini dengan tema "Air untuk Alam" atau "Nature for Water" yang berfokus pada Solusi Berbasis Alam (SBA) untuk menghadapi tantangan dalam pelestarian air di abad 21.  Kampanye "The Answer is in Nature" atau "Jawabannya Ada Di Alam" bertujuan agar menambah wawasan kita bahwa alam memiliki solusi dalam mengurangi krisis air seperti banjir, kekeringan dan polusi air. Saya mendapatkan kesempatan emas dari Danone - Aqua berkunjung langsung ke pabrik dan daerah sekitar yang sudah melakukan pemanfaatan air dari alam.

Rombongan blogger saat di Kubang
Dok. Karyanto Wibowo

Masih pagi buta saya menuju gedung Cyber 2, Jakarta. Sampai disana sudah hadir teman-teman blogger dan wartawan lainnya. Sekitar 2 jam perjalanan menuju Cicurug, Sukabumi, pabrik Aqua berada. Meskipun mata mengajak untuk dipejamkan, tapi pemandangan gunung Salak terlalu indah dilewatkan. Dimana air jernih mengalir dari dalam tanah kawasan pegunungan. Sambutan hangat dari staff Danone - Aqua dalam ruangan Learning Center PT Tirta Investama Babakan Pari, Sukabumi. Ditambah coffee break menjadi booster saya mengikuti kegiatan ini seharian. 

Acara "Bincang Air" diawali dengan sambutan dari bapak Arif Mujahidin (Communications Director Danone Indonesia). Kalimat beliau yang saya masih ingat yaitu "Air bisa menjadi anugerah dan bencana bagi manusia jika tidak bisa mengelolanya". Tinggal kita mau pilih yang mana agar tetap hidup sepanjang masa. Takjubnya saya terhadap fakta-fakta air yang dipresentasikan bapak Karyanto Wibowo  (Sustainable Development Director Danone Indonesia). Fakta-fakta yang diinformasikan agak panjang nih. Simak baik-baik ya.



Fakta pertama, bumi terdiri dari 70% air. Dimana 1% air berada di permukaan, 97% air laut, 3% air tawar dan 20% air serapan. Dari bumi terbentuk jumlah air tidak pernah berubah. Dalam sehari manusia bisa mengkonsumsi air sebanyak 190 liter. Tak terbayang sudah berapa juta-juta liter air yang dikonsumsi manusia sejak berada di bumi, namun masih ada sampai sekarang. Kedua, 2/3 dari hutan di dunia sudah terjadi degraded (alih fungsi hutan) menjadi lahan pertanian. Perubahan tersebut mengakibatkan banjir, badai, sekitar 4 Miliar orang terkena dampaknya dan kerugian mencapai $1 Triliun. Ke tiga2,1 M manusia secara global masih krisis air dan sekitar 844 juta tidak memiliki layanan air bersih. Ke empat40 Miliar ton air tanah / topsoil hilang. Ke lima80% air limbah masuk ke sungai tanpa dikelola. Contohnya sungai citarum yang sudah tercemar airnya dari pabrik sekitar. Ke enam2,1 juta org di dunia tdk mendapatkan akses air minum yg layak. Kebutuhan air akan naik 50% pada tahun 2030 nanti.

Fakta yang begitu mencengangkan bagi saya terhadap satu anugerah Tuhan ini. Masih mau kita mensia-siakan air? 

Aqua berada di bawah naungan DANONE bukan hanya peduli pada bisnis saja, tapi juga terhadap lingkungan air. Karena pengelolaan sumber daya air merangkul masyarakat yang berada di lingkungan serapan air. Seperti komitmen pendiri Aqua
Golden Missisipi, Tirto Utomo, perusahaan bisnis harus berkontribusi dengan pelestarian lingkungan sekitar harus terjaga. Selain itu ada #OnePlanetOneHealth adalah komitmen perusahaan yaitu tangkapan air, kelola air pada lahan pertanian, karyawan pabrik yg dibatasi pemakaian air, memberikan akses air kepada masyarakat.

Dok @aqualestari

Sebagai wujud nyata pelestarian air, Danone-Aqua melakukan upaya konservasi air dengan memanfaatkan solusi ilmiah yang digabung dengan grey infrastructure (alamiah bercampur buatan manusia) seperti yang sudah dilakukan Danone - Aqua di daerah Sukabumi. Rombongan blogger dan media dibawa ke sebuah tempat dimana sumber air yang mengalir sampai ke pabrik. Rumah Pompa yang berada di Taman Kehati Mekarsari , sumber air yang muncul dan dialirkan ke dalam pabrik. Di area ini pengunjung dilarang foto dan sangat steril. Sebelum masuk ruangan peserta mencuci tangan dan membuka alas kaki. Dijaga ketat oleh security dan alarm yang menandakan waktu maksimal dalam ruangan tersebut. Kami pun melihat langsung air yang menyembur ke atas dalam sebuah tabung besar. Atas kuasaNya air itu menggolak-golak bagaikan air mendidih dari kedalaman 60 meter. Bening dan bersih airnya. 

Setelah melihat sumber mata air dari pabrik, kami berangkat menuju lokasi berikutnya. Jalanan berliku dan berbatu  dengan medan yang ditempuh mobil kijang yang kami kendarai. Dengan lihai pak supir melewati tanjakan dan turunan terjal. Perjalanan menjadi tak membosankan karena candaan kami di dalam mobil. Di saung sederhana sambil menikmati makan siang seiring turunnya hujan, Dr. Ir. Nana Mulyana Arifjaya, Msi (Dosen dan Peneliti Fakultas Kehutanan IPB) menjelaskan tentang pemodelan SWAT (Soil Water Assessment Tool) dan kegiatan konservasi air. Bekerjasama dengan IPB Bogor, pemodelan SWAT sudah dilakukan di beberapa daerah yang salah satunya mata air pabrik Mekarsari Danone - Aqua 201.

Pak Nana Mulyana (tengah baju putih) 

Konservasi air yang dilakukan yaitu penanaman 580.000 pohon di 8 desa seperti desa Pasawahan, Tenjolaya, Cisaat, Kuyajaya, Jayabakti, Tangkil, Girijaya, dan Cidahu. Para warga sekitar dipekerjakan untuk merawat pohon-pohon tersebut. Bukan hanya sekedar menanam saja, tapi juga merawatnya.

Hujan berhenti cuaca pun kembali terang. Pihak panitia membagikan kelompok agar tidak bentrok saat dijelaskan jenis konversi air berbasis alam yang dimaksud. Bersama pak Irawan (Direktur Lapangan Aqua-Danone) mengenalkan Pemanen Air Hujan (PAH). Bentuknya seperti toren, namun pengisian airnya berbeda. PAH merupakan proses mengalirkan air hujan yang jatuh ke atap lalu masuk ke dalam tangki penampungan. Sedangkan air limpasan dari tangki penampungan disalurkan ke sumur resapan. Dengan cara ini masyarakat dapat memanfaatkan air hujan untuk keperluan sehari-hari sekaligus membantu menjaga keberadaan air tanah dan mengurangi limpasan ke permukaan. PAH menjadi sumber air alternatif di lokasi yang menggunakan aliran sungai sebagai sumber air utama karena saat hujan pipa saluran masuk sering tersumbat oleh sampah atau lumpur yang terbawa. 

PAH bisa menampung air sebanyak 1000 L dengan pengukuran luas area tangkapan (atap) dikali jumlah hujan. Air yang masuk ke dalam tangki akan disaring dengan kampas filter. Kampas yang sama buat aquarium ikan. Tiap 3 bulan sekali filternya diganti. Biaya pembuatan PAH ini menghabiskan dana Rp 4,5 juta. PAH sudah terpasang di mesjid, musollah dan sekolah. Salah satunya ada di musollah desa Pesawahan ini. 

Pak Irawan disamping PAH 

Airnya bisa buat wudhu

Upaya konservasi air lainnya yaitu kolam waterpond. Saya baru dengar istilah ini. Waterpond adalah salah satu teknik konservasi tanah dan air yang beirfungsi untuk meningkatkan resapan air ke dalam tanah. Caranya dengan mengalirkan air mengarahkan aliran air yang kontinyu kemudian menampunya pada kolam resapan. Air yang ditampung akan diresapkan melalui lubang biopori yang di bor dengan diameter 12,7 cm dan kedalaman 4-8 meter. Tujuannya untuk meresapkan air ke dalam tanah yang kemudian meningkatkan kelembaban tanah dan meringankan kekeringan, mengisi ulang sumur dan mata air dangkal. Untuk mengukur kapasitas dan laju infiltrasi air pada lubang resapan dengan menggunakan Autimatic Water Level Recorder (AWLR). Waterpond bisa diisi dengan ikan air tawar lho. 

Waterpond

Lubang biopori

Mengejar hari yang semakin senja, rombongan pun pindah lokasi ke desa Cisaat. Dimana sumur resapan inovatif dibuat. Tepat berada di halaman rumah pak RT Ishak. Sumur resapan inovatif sebuah teknik konservasi tanah dan air yang berfungsi untuk menampung limpasan air di permukaan tanah lalu meresapkannya secara perlahan ke dalam tanah yang ada di sekitarnya. Teknik ini diperlukan mengingat sering terjadinya banjir dan kekeringan. Teknik ini sangat baik dalam mengendalikan dan mengurangi limpasan permukaan sehingga menurunkan banjir dan kekeringan. Bagi rumah warga yang memiliki sumur timba, airnya bisa diperoleh dari sumur resapan inovatif ini.

Bentuknya berupa galian tanah sedalam 2,5 meter dan lebar 1 meter, kemudian pada bagian atas dinding sumur dipasang buis beton sebagai penahan atau penguat dinding tanah. Buis beton berbentuk persegi dengan lubang di tengah-tengahnya sebagai media resapan air ke samping sumur resapan atau resapan horizontal. Pada bagian bawah sumur resapan diisi batu dan ijuk yang berfungsi untukbair yang diresapkan. Mampu menampung air hujan per hari sebanyak 3-10 m kubik. Cisaat, Pasawahan dan Tenjolaya adalah 3 desa yang memiliki sekitar 40 sumur resapan inovatif. Biaya pembuatan sumur ini sekitar Rp 3,5 juta.

Antusias rombongan melihat sumur resapan inovatif

Sumur resapan inovatif yang ada di halaman pak RT

Kunjungan ke rumah pak RT ini menjadi tempat perpisahan rombongan menuju Jakarta. Saya pun kembali ke mobil dan pulang membawa berita bagus di hari air sedunia. Tentang alam dan air yang tak bisa dipisah. Dalam agenda acara harusnya bisa melihat DAM. Karena faktor cuaca tidak mendukung, jadi dibatalkan.

Bulan Maret hanya tinggal hitungan hari. Mumpung hujan masih turun ke bumi, mari manfaatkan upaya konservasi ini. Sehingga tidak ada lagi kekeringan di beberapa deaerah yang membuat masyarakat resah takut haus dahaga. Kembalikan hakikat air yang berada di dalam tanah. Dengan menjaga ekosistem yang baik bisa membuka lapangan kerja seperti rekreasi, pemancingan, arung jeram. Pastinya  dapat menambah sumber income masyarakat. Asal manusianya tahu apa kendala air maka akan ditemukan solusinya. Jawabannya ada di alam. Mari #BersamaMerawatAir.


Sumber video : worldwaterday.org



***

Trisomy, Kelainan Kromosom Penyebab Kelainan Pada Janin

14 komentar
Adam Fabumi Kamaludin dan Abhi Satya Irawan adalah dua bayi mungil yang kini sudah berada di taman surga. Mereka belum sempat merasakan keindahan alam semesta. Kepergian mereka meninggalkan kesedihan mendalam sekaligus menjadi penyemangat orangtua untuk tetap tegar menjalani kenyataan hidup. Memang tidak mudah, namun bagi yang masih bernyawa perjuangan belum berakhir.


Onggy Hianata, Anak Kampung yang Sukses Terbang di Perantauan

10 komentar
Jangan menyebutnya kegagalan, 
Sebut itu sebuah proses menuju kesuksesan

Seketika saya tertegun dengan quote penyemangat itu pada sebuah flyer. Kegagalan seperti partner untuk orang - orang yang ingin berhasil. Memang tidak semudah membalikkan tangan mencapai kesuksesan, ada ratusan tetesan keringat dan putaran jam dikorbankan. Mulai dari tangan hampa sampai memiliki banyak harta. Begitupun yang dialami oleh seorang anak kampung dari daerah Tarakan, Kalimantan Timur. Ia berjuang di daerah perantauan dengan usaha apapun asal halal.



Onggy Hianata Chunnardy. Nama yang asing sekali di telinga saya, bahkan mbah google pun nyaris tak mengenalinya. Siapakah beliau?  Saya sungguh tak mengenalnya. "Itu dia pak Onggynya", ucap Andiyani Achmad, salah satu teman menunjukkan seorang pria yang menggunakan batik biru elektrik sedang bicara dengan kerabatnya searah jam 9 dari posisi saya berdiri. Saya pun langsung melihat dengan seksama. "Oh itu pak Onggynya Ai", balas saya. Meskipun saya melihat tidak terlalu jelas, tapi saya sudah mengenali outfitnya hari itu, saat Bloggers Gathering with inspirator Bapak Onggy Hianata di D'Lab Hive (14032018). Ia seorang inspirator yang sudah melanglang buana ke mencanegara, namun namanya di negeri sendiri masih mengawang di atas awan belum sampai ke bumi Indonesia. 

Pria kelahiran tahun 1962 ini berasal dari keluarga miskin yang tinggal di kampung Bugis, Tarakan, Kalimantan Timur. Saking miskinnya ia tidak mengalami sekolah taman kanak-kanak seperti anak lainnya. Ia pun bisa bersekolah langsung masuk kelas 3 SD, bukan karena pandai, ia melompat kelas karena usianya sudah tidak pantas lagi ada di kelas 1 SD. Celana merah sobek menjadi teman sekolahnya kala itu, menjadi saksi kegigihannya menempuh pendidikan. 

Bercocok tanam, menyangkul, memberikan makan ayam dan bebek, serta memetik sayur di ladang menjadi kebiasaannya di dalam keluarga. Hidup bersama orang tua berketurunan Tionghoa yang selalu menjunjung nilai-nilai kebersamaan dan kejujuran. Sosok ayahlah menjadi teladan Onggy Hianata di kemudian hari. Nasihat-nasihat sang ayah selalu diingatnya.

Bersama pak Onggy. Semoga Sagara ketularan sukses ya nak...

Di masa muda ia mengalami banyak kegagalan dalam usaha untuk bertahan hidup. Tetapi ia mencoba berdiri dan bangkit membuka peluang usaha lainnya. Hingga ia bisa meraih impiannya menjadi orang sukses dan ingin menularkan kunci kesuksesannya kepada banyak orang. Sebagai salah satu wujud terimakasih atas kesuksesannya ia merasa terpanggil untuk memberikan semangat untuk banyak orang dengan mendirikan Edunet Global, sebagai wadah untuk menyentuh lebih banyak kehidupan orang lain melalui pembinaan mental utama yaitu "Value Your Life -A Life Changing Bootcamp". Bertujuan untuk menggali potensi dan mengembangkan karakter individu. 

Sejak tahun 2003 sampai saat ini (2018) , Bootcamp sudah merekrut banyak peserta lebih dari 75 negara di 5 benua. Dahsyatnya lagi semua berkumpul di Indonesia, Tanah Air beta. Berbagai macam problema, warna kulit, bentuk manusia, menjadi satu dalam ruangan besar. Beberapa orang yang telah mengikuti Bootcamp memberikan testimoni positif. 

Mantan peserta Boothcamp seperti Dra. Ary Hellya Kurniati, Apt dan Ir. Sudarmono Djoko Nugroho, Dr.Erry Gautama dan Dr.dr.Anggraini Dwi S.,Sp Rad(K) dan Yulianto SE yang sempat bunuh diri. Mereka semua memiliki latar belakang masalah yang berbeda. Setelah mengikuti bootcamp seperti bayi yang baru lahir ke dunia. Lepas, bebas tanpa beban. Membawa dampak positif ke dalam kehidupan seterusnya.

Sagara mau juga Terbang nih...

Sutradara handal Fajar Nugros menggambarkan kisah hidup Onggy Hianata melalui sebuah film berjudul "Terbang Menembus Langit". Mewakili perjalanan serta perjuangannya menuju kesuksesan. Dibintangi oleh Dion Wiyoko, Laura Basuki, Dinda Hau, Alin Tumbuan, Baim Wong, Marcel Darwin, dan bintang lainnya. Film produksi Demi Istri ini memberikan suasana yang beda pada cinematografinya. Setting pantai dan kapal yang mengangkut dan mengantarkan barang ke Surabaya menjadi inspirasi anak kampung itu untuk merantau. Dengan modal nekat ia menyebrangi lautan Jawa hingga sampai di kota pahlawan. Berbagai kegagalan ia alami tak membuatnya menyerah begitu saja. Selengkapnya bisa ditonton filmnya tanggal 19 April 2018.

Anak kampung dari Tarakan ini menjelma menjadi orang sukses. Memberikan inspirasi banyak orang di dunia dan menjadikan Indonesia rumah ke dua bagi mereka. Menganggap suatu berkat, Onggy Hianata ingin terus menularkan semangatnya ke banyak orang. Belajar dari kekurangan dan kegagalan menjadikan ia pribadi yang kebal. Pada hakikatnya kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, maka terus wujudkan agar menjadi nyata.




***


Trik Foto Jitu Dengan Modal Smartphone

5 komentar
Lihat foto-foto keren berseliweran di timeline instagram bikin saya iri. Hasil jepretannya itu lho memanjakan mata. Banyak dugaan yang terlintas dalam pikiran. Pasti kameranya mahal, pasti yang moto seorang photographer atau belajar photography di luar negeri. Tambah bikin mundur cantik ya kalau semua dugaan itu benar. Bagaimana nggak minder coba,  saya pakai smartphone kalau foto sedangkan foto-foto kece itu pakai kamera DSLR yang lensanya bulet gede-gede. Perbandingannya bagai bumi dan langit. Jauh bro..

Pixabay.com
Kegiatan photography memang sedang digandrungi banyak orang. Mengambil gambar dengan kamera dan mengunggah di sosial media sudah menjadi makanan sehari hari. Memotret makanan atau minuman sebelum makan menjadi habit baru dilakukan. Kalau yang ini jangan di contoh ya. Saya pun tertarik untuk belajar photography yang sesuai dengan tools yang saya punya yaitu smartphone. Karena modalnya cuma punya ini. Bersama @kompakersdepok komunitas penggemar photography di Depok, saya ikut workshop "Foto Keren Dengan Modal Smartphone" di Gedung Felfest IFC UI Depok Sabtu lalu (10032018). Memang bisa moto pakai hape doang? Bisa dong.

Dibalik foto yang bagus ada trik yang digunakan oleh si pemoto. Saya pikir pasti menggunakan kamera canggih selayaknya photographer. Ternyata cuma menggunakan smartphone yang kita punya bisa menghasilkan foto sekeren kamera profesional. Titus O.Mainassy sebagai narasumber acara workshop ini memberikan kelas fotografi ponsel. Pemuda tinggi ini memiliki pengalaman mengisi acara workshop Smartphone Photography Class di British Council pada September 2017. Ia mengatakan ada beberapa trik foto menggunakan smartphone :

Rule of third, salah satu prinsip komposisi photography yang paling dikenal dan populer bagi mayoritas penggemar potret memotret. Menjadi pondasi bagi keseimbangan elemen foto sehingga secara keseluruhan foto jadi lebih enak dilihat.

Cahaya. Lebih baik memotret pada pada waktu tertentu (golden time) jam 8-10 pagi dan jam 3-5 sore. Pada waktu tersebut cahaya alami dari matahari terlihat lebih putih. Kalau siang hari warnanya agak kekuningan.

Peka. Pemoto harus lebih peka terhadap objek yang ingin dipoto. Sebisa mungkin objeknya punya makna dibaliknya.

Titus O. Mainassy

Moment
. Paling ditunggu oleh pata photographer. Karena adegan yang diinginkan atau ditunggu-tunggu tidak bisa diulang lagi. Penting banget kepekaan diperhatikan. Misalnya gerhana bulan atau munculnya pelangi.

Timing. Pemotret harus menentukan waktu pada objek yang mau diambil momennya. Memperhitungkan waktu adegan apa yang ingin dipoto. Harus tahu waktu yang tepat momen yang diinginkan muncul.

Aplikasi. Sekarang sudah banyak ya aplikasi editan foto yang langsung diunduh di smartphone. Aplikasi yang harus ada di smartphone kamu yaitu Snapseed, Adobe Lightroom Mobile dan Picsay Pro.

Kemunculan banyaknya smartphone membuat masyarakat kesulitan memilih. Maunya kan sesuai kebutuhan  dan canggih ya. Tapi tiap ponsel kan beda-beda keunggulannya. Ada yang ingin kameranya bagus, baterenya tahan lama atau awet pulsanya. Untuk mewakili kecanggihan smartphone lainnya, sebagai produk lokal Advan mengenalkan produk andalannya. Seri Advan G2 bisa jadi pilihan kamu memiliki smatphone rasa flagship  (semua kebutuhan konsumen akan kecanggihan smartphine) dengan harga lebih baik.

Advan G2
Do Great, Make Better


Spesifikasi Advan G2
✔Display 5,5"(1980x1080) Full HD LTPS
✔iDOS 7.2 based on android 7.0 Nougat Octa core 1.5 GHz GPU MALI T860
✔RAM 3GB
✔ROM 32 GB
✔Micro SD up to 128 GB
✔Bluetooth USB OTG
✔Dual camera
( Depan 16 MP + Belakang 13 Mp)
✔Wi-fi 802.11 b/g/n
✔Battery 35000 mAh

Ada 6 bukti pada Advan G2 paling jitu di kelasnya. Kamera bagus dengan harga yang bersahabat sesuai dengan slogannya selfie in detail bisa melihat bulu mata dengan jelas, warna cerah dan garis rambut terlihat jelas. Batere yang tahan lama bisa mengurangi beban membawa power bank. Kalau punya, kalau nggak punya ribet juga kan cari colokan. Desain yang keren bisa menunjang pemakainya. Tidak kelihatan kan kalau handphone merek lokal rasa internasional. Advan G2 dilengkapi dengan keamanan yang dinamakan Advan Secure terdiri dari Fitur anti theft yang bisa melacak handphone jika terselip, Face Id bisa membuka handphone dengan deteksi wajah dan Privacy System bisa menyimpan file rahasia, dijamin aman. Hebatnya lagi 

Advan G2 ada finger print sebuah sistem keamanan yang bisa menghemat waktu 22 jam. Jadi tidak perlu lagi mengunci dan membuka handphone dengan password atau pola.

Mba Eska mempraktekan trik foto yang diberikan
 oleh Titus
Selain Titus memberikan materi foto jitu dengan modal smartphone. Satu narasumber yang tak kalah kerennya yaitu Rika Ekawati, seorang halal food influencer yang tergabung dalam komunitas upload kompakan. Food photography yang menjadi concernnya. Food photography merupakan salah satu bidang fotografi yang spesialisasi memotret makanan. Produk yang biasa digunakan dalam iklan, majalah, paketan, buku menu atau resep masakan. Bekerja dengan kolaborasi antara pengarah seni, fotografer, food stylist, prop stylist dan asisten-asistennya. 

Seorang food photography harus memahami dasar-dasar fotografi digital, peralatan untuk food photography, lighting, props and styling, framing & komposisi dan editing. Trik-triknya hampir sama dengan smartphone, tapi photography digital lebih dalam dan detail lagi. Apalagi mba Rika Ekawati menggunakan kamera profesional seperti DSLR. 

Rika Ekawati

Seru banget belajar fotografi itu. Saya jadi nggak minder lagi kalau foto dengan smartphone karena sudah tahu trik jitu dari narasumbernya langsung. Tinggal ikuti saja langkah-langkahnya sebelum dan sesudah foto. Hasil yang diunggah jadi bagus kan. Para follower jadi betah lihat feed instagram kita. Disangka punya kamera pro padahal modal smartphone doang. Nah, keunggulan Advan G2 tadi bisa jadi pilihan. Saya juga mau punya ahhh. 

Nanti kalau ada worshop photography saya mau ikutan lagi. Semoga sudah punya kamera profesional dan mempraktekan trik-trik yang diberikan mbak Rika Ekawati. Foto makanan yang bikin semua oranng pada ngiler. Saat workshop berlangsung kemarin banyak sekali aneka kue yang dijadikan objek foto. Ada Gigieat Cake kuenya Nagita Slavina, roti Bebelly yang lucu punya Laudya C. Bella dan Prilly Latuconsina dan kue-kue dari para usaha komunitas kompakers Depok. Saya sudah cobain semua kuenya dan rasanya enak banget. Terima kasih untuk @ummifikri yang sudah mengajak saya ikutan workshop mengenyangkan ini. Let's take a picture !

Peserta workshop dari blogger


***