Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Setahun Ayah Meninggal Dunia (190420-190421)

3 komentar
Nggak ada satu pun mahluk hidup yang tahu kapan waktunya berpulang menghadapNya. Jikalau tahu, berarti kematian bukan lagi jadi misteri Illahi. Gue juga nggak bakal sangka kalau ayah meninggal dunia tepat di tanggal 19 April 2020. Di saat kondisi PSBB pandemi Corona baru dimulai dan bulan Ramadan datang. Bulan puasa tahun ini, kali kedua tanpa ayah. 

3 Permintaan Ayah Sebelum Meninggal Dunia

18 komentar
Sebenarnya kematian itu hal yang biasa, jika beriman. Namun cerita kehidupan meninggalkan kenangan mendalam bagi setiap insan. Tinggal nunggu giliran. Entah waktunya kapan, cuma DIA yang bisa memutuskan.

Saya menulis kata-kata tersebut di IG story saat mengetahui almarhum Glenn Fredly meninggal dunia. Kepergiannya membuat semua orang yang mengenal dekat beliau sangat kehilangan. Para fans-nya pun juga turut bersedih kehilangan pelantun lagu patah hati ini. Maksud saya dari ungkapan tersebut adalah tidak perlu berlarut-larut menangisi bagi siapapun yang kembali padaNya. Cukup kenangannya saja yang bisa kita ambil hikmahnya.

Ketika yang Nge-Hits Enggak Pantas Ambil yang Receh

5 komentar
Kenapa? 
Why? 
Wae?
Nande?
Limadha?
Waarom?
Kyon?
Napa?
Warum?
Neden?
...
Orang yang nge-hits "kayak gue" dianggap spesial saat mengambil yang receh? Bahkan cenderung enggak pantas dapat yang recehan. 

Dari sudut pandang mana gue dibilang blogger hits?

Apa dari semua job yang gue terima, dari upah yang masuk ke rekening gue, dari baju dan sepatu yang gue pakai, dari acara yang sering gue datangi, dari komunitas yang gue gabung, dari pertemanan yang gue jalin, dari postingan semua media sosial. Dari mana menurut lo?!

Gue aja bingung lihat hits-nya gue dari mana dan apa? Gue belum bisa mempengaruhi orang lain untuk jadi lebih baik, gue aja masih buruk.

Gue bangga dibilang hits, bangga gue dibilang jobnya banyak, bangga gue dibilang fee-nya mio-mio. Apa itu yang lo maksud kehitsan gue selama ini sehingga saat gue ambil yang receh dianggap enggak pantas? 

Cuma segitu pemikiran lo terhadap gue yang sudah berlama-lama ngebacot di grup yang sama? What the fuck!

Gue...
Masih jauh dari kata sempurna, masih jauh dari istilah populer, masih jauh follower gue dibanding mereka yang beli akun palsu. 

Kalau pemikiran lo seperti yang gue sebut di atas terhadap gue, terserah lo. Tapi gue merasa direndahkan dengan anggapan yang nge-hits ambil yang receh. 

Eh, mereka yang dianggap hits juga banyak yang ambil recehan. Mereka yang sibuk tanya soal rate card, nego sana sini, juga akhirnya banyak yang ambil recehan. Mereka yang sering bawa mobil ke event, tinggal di komplek, nongkrong di Coffee shop terkenal ada yang ambil recehan. 

Semua butuh uang. Gue butuh uang dari hasil kerja gue sendiri meskipun receh juga buat beli susu mini anak gue. Buat beli kopi sasetan di warung sebelah biar tetangga gue ada pemasukan. 

Seberapa hits-nya sih gue di mata lo?
Sehitsnya orang bakal mati juga, bakal dikubur, dibakar, ninggalin semua yang didapat selama nge-hits dalam hidupnya.

Gue ga suka cara lo nganggap gue sereceh itu. Nganggap gue lebih baik dari lo yang suka receh. Padahal gue enggak apa-apa Nerima yang receh juga, asal recehan itu masih memanusiakan gue. 

Gue jarang ambil yang receh karena banyak alasan. Gue sibuk, gue males, gue ketinggalan daftar, gue ga kepilih, gue ga suka jobnya, gue bingung, gue ribet, gue pusing, gue memberikan kesempatan ke yang lainnya untuk dapetin job receh itu.

Gue berharap ini adalah doa lo buat gue. Selalu terhindar dari yang receh. Gue selalu dapat yang mewah-mewah, biar lo saksiin kalau gue bisa dapat yang lebih. 


***