Ketika yang Nge-Hits Enggak Pantas Ambil yang Receh

Kenapa? 
Why? 
Wae?
Nande?
Limadha?
Waarom?
Kyon?
Napa?
Warum?
Neden?
...
Orang yang nge-hits "kayak gue" dianggap spesial saat mengambil yang receh? Bahkan cenderung enggak pantas dapat yang recehan. 

Dari sudut pandang mana gue dibilang blogger hits?

Apa dari semua job yang gue terima, dari upah yang masuk ke rekening gue, dari baju dan sepatu yang gue pakai, dari acara yang sering gue datangi, dari komunitas yang gue gabung, dari pertemanan yang gue jalin, dari postingan semua media sosial. Dari mana menurut lo?!

Gue aja bingung lihat hits-nya gue dari mana dan apa? Gue belum bisa mempengaruhi orang lain untuk jadi lebih baik, gue aja masih buruk.

Gue bangga dibilang hits, bangga gue dibilang jobnya banyak, bangga gue dibilang fee-nya mio-mio. Apa itu yang lo maksud kehitsan gue selama ini sehingga saat gue ambil yang receh dianggap enggak pantas? 

Cuma segitu pemikiran lo terhadap gue yang sudah berlama-lama ngebacot di grup yang sama? What the fuck!

Gue...
Masih jauh dari kata sempurna, masih jauh dari istilah populer, masih jauh follower gue dibanding mereka yang beli akun palsu. 

Kalau pemikiran lo seperti yang gue sebut di atas terhadap gue, terserah lo. Tapi gue merasa direndahkan dengan anggapan yang nge-hits ambil yang receh. 

Eh, mereka yang dianggap hits juga banyak yang ambil recehan. Mereka yang sibuk tanya soal rate card, nego sana sini, juga akhirnya banyak yang ambil recehan. Mereka yang sering bawa mobil ke event, tinggal di komplek, nongkrong di Coffee shop terkenal ada yang ambil recehan. 

Semua butuh uang. Gue butuh uang dari hasil kerja gue sendiri meskipun receh juga buat beli susu mini anak gue. Buat beli kopi sasetan di warung sebelah biar tetangga gue ada pemasukan. 

Seberapa hits-nya sih gue di mata lo?
Sehitsnya orang bakal mati juga, bakal dikubur, dibakar, ninggalin semua yang didapat selama nge-hits dalam hidupnya.

Gue ga suka cara lo nganggap gue sereceh itu. Nganggap gue lebih baik dari lo yang suka receh. Padahal gue enggak apa-apa Nerima yang receh juga, asal recehan itu masih memanusiakan gue. 

Gue jarang ambil yang receh karena banyak alasan. Gue sibuk, gue males, gue ketinggalan daftar, gue ga kepilih, gue ga suka jobnya, gue bingung, gue ribet, gue pusing, gue memberikan kesempatan ke yang lainnya untuk dapetin job receh itu.

Gue berharap ini adalah doa lo buat gue. Selalu terhindar dari yang receh. Gue selalu dapat yang mewah-mewah, biar lo saksiin kalau gue bisa dapat yang lebih. 


***

Komentar

  1. Aamiin aamiin. Hoho.. prioritas sihhh.... Aku jg pilih2 banget ambil job.. sampe akhirnya ga ada sama sekali yang mau undang aku di bulan bulan tertentu. Dibilang banyak duit, kagak juga. Buat bayar kosan bulanan aja telat telat.

    Kalo ada yang bilang hits, yaudahlah ya. Berarti anggapan mereka, kita udah satu tingkat di atas mereka. Hehe

    BalasHapus
  2. Wah itu yang komen kurang piknik atsu bercanda kaki Rul Tapi dari kata-kata tuh orang bisa jadi doa suatu ketika hits beneran, siapa tahukan? Bukan sekedar hits dari pikiran orang itu.

    Ambil positifnya aja, anggap doa bisa jadi beneran hits dan bisa sekolahin anak setinggu-tingginya dari ketja keras emaknya.

    Huts memang ga mudah butuh talenta, kerja keras, doa dan hal yang positif. Tapi jika Allah berkehendak, siapa tahu

    BalasHapus
  3. Ngebedain receh sama mewah apa sih? Kalau emang suka dan sejalan sih dengan minat gpp lah yaaa. Yang penting hati senang :))

    Anw aku mau misuh misuh juga, suka telat isi form kerjaan huhuhu sepiii jadinya �� ada

    BalasHapus
  4. Belum bisa menilai yang receh sih, karena bagi pemula semuanya mewah dan berharga. Hehe. Tapi, memilih adalah hak setiap orangnya.

    BalasHapus
  5. Semangat! Aku selalu takjub sama blogger Jabodetak. Mereka pantang lelah

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cek Kehamilanmu Dengan Sensitif Digital

Review Produk Yummy Bites Kiddy Extra Virgin Olive Oil, Segala Kebaikan Dari Minyak Zaitun

Sudah Siapkah Si Kecil Masuk Sekolah? Kenali Dulu Perilakunya Di Usia Pra Sekolah