Tampilkan postingan dengan label BPOM. Tampilkan semua postingan

Open House BPOM - Kunjungan Ke Contact Center dan Laboratorium

8 komentar
Semakin banyak obat, pangan dan produk yang beredar di sekitar masyarakat. Namun belum tentu bagus kualitasnya. Bahkan ada istilah barang KW, kualitas yang tidak 100% mutunya. Bentuk dan kemasan dibuat semirip mungkin sebagai daya tarik masyarakat untuk membeli. Memang orang paling suka dengan harga yang lebih murah dibandingkan beli di toko yang harganya jauh lebih mahal. Istilahnya yang penting gaya 😊. Kalau ada kejadian yang tidak diinginkan, bagaimana? Misalnya beli obat ternyata palsu atau makanan ternyata berbahaya bagi kesehatan. 

Nah, mayoritas masyarakat belum tahu harus kemana jika ada keluhan atau pertanyaan seputar mutu produk-produk yang ada. Dalam hal ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan ( BPOM ) yang berwenang untuk mengelolanya. BPOM merupakan lembaga pemerintah non kementerian yang dibentuk untuk melaksanakan tugas pemerintahan dibidang pengawasan obat dan makanan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. BPOM berada di bawah & bertanggung jawab kepada Presiden juga berkoordinasi dengan Menteri Kesehatan. 



Selasa, 21 Februari 2017 saya dan rekan bloggers mendapatkan kesempatan menghadiri open house BPOM dengan agenda kunjungan ke contact center dan laboratorium BPOM. Sebelum diajak berkeliling, sedikit paparan tentang layanan pengaduan dan informasi konsumen BPOM melalui contact center oleh Kepala Biro Hukum dan Humas, Riati Anggraini, SH, MARS, M.HUM. Beliau mengatakan secara rutin BPOM melakukan pengawasan obat dan makanan dan jika ada sesuatu yang mencurigakan terhadap obat dan makanan yang ditemui bisa segera hubungi contact center BPOM.

Beberapa Contact center yang bisa dihubungi

Disambung penjelasan tentang laboratorium pusat pengujian obat & makanan nasional oleh Kepala Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPOMN) Drs. Tepy Usia, Apt, M.Phil, Phd. Semua obat dan makanan harus diuji ke laboratorium agar terjaga keamanannya. Di tiap propinsi pasti ada laboratorium pengujian obat dan makanan dan sudah terkareditasi ISO 17025 diakui secara nasional dan internasional, bahkan WHO juga mengakui akreditasi laboratorium.

Drs. Tepy Usia

Ini yang ditunggu-tunggu, bisa melihat langsung ruangan contact center dan laboratorium-laboratorium yang ada di BPOM. Tiap peserta dibagi beberapa kelompok agar bisa bergantian. Ruangan yang saya datangi pertama contact center. Ada di gedung  belakang dan terletak di lantai 2. Saya pikir akan ada banyak karyawan yang bekerja, tapi setelah saya masuk ruangan hanya ada 6 orang wanita yang duduk berhadapan qubiclenya.

gambaran prosedur layanan pengaduan dan informasi

Layanan contact center beroperasional dari Februari 2014. Mayoritas yang menghubungi contact center menanyakan tentang pemahaman prosedur dan informasi dokumentasi. Untuk keluhan obat dan makanan masih minim. Jam operasional contact center mulai dari jam 8 pagi sampai jam 6 sore (hari kerja), lewat dari jam operasional dialihkan ke mobile phone. Sebelum terjun langsung dengan penelpon, para agent diseleksi dan ditraining dulu. Salah satu syaratnya yaitu para lulusan farmasi.

Suasana ruangan contact center BPOM

Pindah ke gedung lainnya, saya mengunjungi laboratorium pertama yaitu laboratorium obat tradisional, kosmetik dan produk komplemen yang berada di lantai 1. Bertemu dengan kepala laboratorium yaitu ibu Hermini. Segala macam obat herbal, kosmetik dan produk komplemen diuji di lab ini. Waktu perolehan hasilnya pun tergantung dengan proses ujinya. Sayangnya para blogger tidak diperbolehkan mengambil foto di area laboratorium.

Laboratorium kedua yaitu bidang pangan yang berada di lantai 2. Di sudut lorong laboratorium terpajang beberapa sample produk makanan dan minuman yang pernah diuji coba. FYI, saya juga baru tahu si, kalau kerupuk berwarna merah yang biasa dimakan sebagai pelengkap lontong sayur padang memakai pewarna tekstil. Oleh karena itu tidak boleh diedarkan lagi. Ayo, kamu pernah makan engga 😊.

Pindah ke lantai 3 mengunjungi laboratorium bidang produk terapeutik dan bahan berbahaya bertemu dengan ibu Mira. Di lab ini menguji berbagai macam jenis napza/sejenis narkoba, nikotin dalam rokok, juga kualitas dari kondom dan popok sekali pakai. Ada 2 pegawai lab saat itu sedang memisahkan beberapa kondom yang akan diuji. Menurut bu Mira, untuk satu merek kondom diuji sebanyak 300 sample. Jadi dari 300 sample tersebut harus ada 1 yang kualitasnya bagus (tidak bocor).

Foto dari dok.BPOM

Kunjungan ini sangat bermanfaat sekali buat saya pribadi. Jadi lebih mengetahui tentang layanan pengaduan BPOM bagi masyarakat dan bagaimana proses uji coba obat dan makanan yang beredar. Sudah seharusnya sebagai masyarakat yang cerdas dan tetap aware dengan produk - produk yang beredar. Jaman sekarang sangat sulit memeriksa suatu produk dengan kasat mata. Harus diteliti lebih dalam. Oleh karena itu, jangan ragu untuk menghubungi layanan pengaduan dan informasi konsumen ke contact center BPOM di 1500533 (tarif lokal) atau bisa hubungi email dan social media BPOM. Ingat, satu tindakan untuk masa depan, baca label sebelum membeli 😊.



***


Manakah Vaksin yang Palsu?

10 komentar
   Vaksin palsu akhir-akhir ini masih menjadi buah bibir di pemberitaan. Apalagi setelah tertangkapnya para tersangka dari pembuat vaksin palsu. Vaksin palsu terungkap karena adanya keluhan dari masyarakat yang mengaku bahwa balita mereka tetap sakit meski sudah di vaksin. Kemudian pihak yang berwajib menyelidiki keluhan ini dan terkuaknya produsen dan distributor vaksin palsu di daerah Tangerang dan Bekasi. 



    Memang sangat mengerikan pemberitaan ini. Membuat rasa cemas juga takut bagi ibu-ibu yang memiliki bayi yaang usianya masih butuh imunisasi. Menjadi dilema besar tentunya. Di jaman sekarang macam penyakit bermunculan, jika anak tidak diberi pencegahan dini, maka fatal efek panjangnya untuk kesehatan anak. 

  Beruntungnya saya bisa menghadiri undangan dari Media Sahabat Ibu dan Blogger Cronny dalam talkshow mengenai isu vaksin di aula gedung C BPOM,Jakarta dengan narasumber dari BPOM RI yaitu Drs. Arustiyono, Apt, MPH selaku Direktorat Pengawasan Distribusi Produk Terapetik dan PKRT dan Riati Anggriani selaku Kepala Biro Hukum dan HUMAS. Para narasumber yang hadir menjelaskan tentang vaksin, peredaran vaksin palsu dan penentuan mana vaksin yang asli atau palsu.

Apa Itu Vaksin ?
Vaksin adalah antigen mikroorganisme yang sudah mati, masih hidup tapi dilemahkan, masih utuh atau bagiannya, yang telah diolah berupa toksin berupa mikroorganisme yang telah diolah menjadi toksoid, protein rekombinan yang bila diberikan kepada seseorang akan menimbulkan kekebalan spesifik terhadap penyakit infeksi tertentu. Vaksin merupakan salah satu produk biologi yang dikategorikan sebagai produk yang beresiko tinggi (high risk) sehingga memerlukan pertimbangan dan perhatian khusus serta pengawasan yang lebih ketat dibandingkan dengan produk obat pada umumnya. 


(Ki-ka) Pak Arus, bu Riati dan moderator Dyah Loretta

     Seperti pemberitaan yang ada tentang vaksin palsu yang terungkap sudah berproduksi dan beredar sejak tahun 2003. Bisa dibayangkan berapa jumlah anak yang telah dimasuki oleh vaksin palsu. Kemana saja peran BPOM terhadap peredaran vaksin palsu tersebut? Apakah ada korban baru ada pencegahan? Disini BPOM memang bertugas dalam pengawasan obat dalam melindungi masyarakat. BPOM hanya berwenang pada pengawasan produknya, bukan mencabut ijin usaha suatu dinas kesehatan seperti rumah sakit, klinik atau bidan, menutup apotek / toko obat.

     BPOM sudah mengerahkan semua BPOM ditiap daerah untuk menyegel vaksin palsu. Sudah dikantongi sekitar 9 propinsi, 27 titik seperti rumah sakit, klinik dan bidan dalam pemberian vaksin palsu. Kebanyakan dari lembaga kesehatan tersebut adalah swasta (bukan milik pemerintah seperti puskesmas dan posyandu). Distributor vaksin dari BPOM itu sudah mendapatkan sertifikasi. 

Lalu bagaimana membedakan vaksin yang palsu dan asli? Lakukan dengan cara pembandingan. Sebenarnya saat ini BPOM masih sulit membedakan mana vaksin palsu atau asli. Namun dengan cara melakukan pembandingan seperti 
  1. Lihat kemasan,expired date
  2. Lihat tutupnya ada bekas congkelan / tidak 
  3. Lihat kekeruhan / kejernihan dari vaksin 
  4. Cetakan tulisan tidak tepat 
  5. Tertera nama pabrik / no.Batch
  6. Cek di website industri vaksin (botol/kemasan)

    Untuk kita sebagai orang awam dengan melakukan pembandingan tersebut, maka akan terlihat yang mana vaksin palsu atau asli. Kira-kira seperti itu pembandingan bagi masyarakat agar tidak terkecoh. Lebih bagus lagi sebelum diberikan vaksin tersebut, tanyakan kepada dokter atau tenaga medis lainnya untuk memastikan asal dari vaksin tersebut. Tepatnya lebih kritis dengan produk yang belum kita ketahui benar. BPOM akan segera malakukan pembandingan dan menginfokan kepada masyarakat yang bisa diakses di website resmi BPOM.

Jadwal imunisasi dasar dan pilihan

      Sebenarnya vaksin yang palsu dimaksud selama ini adalah vaksin pilihan. Vaksin pilihan adalah vaksin yang bukan diberikan dari program pemerintah (Hepatitis B, BCG, DTP, POLIO). Vaksin pilihan seperti Rotavirus, Influenza, MMR, Tifoid, Hepatitis A, Varisela, PCV, HPV. Inilah vaksin yang terindikasi palsu. Kenapa? Karena vaksin ini sebenarnya harganya mahal dibandingkan vaksin dari program pemerintah, harganya murah karena dipalsukan. Namun ternyata ada oknum tak bertanggung jawab  yang menyalahgunakan program ini. Jangan mudah percaya diimingi dengan harga yang lebih murah. Malah jika itu terjadi patut dicurigakan. 


    Jadilah masyarakat yang kritis dan cerdas dalam memilih produk, sekalipun vaksin. Tanyakan lebih detail tentang produk tersebut, lihat kemasan apakah ada bagian yang rusak atau masih tersegel rapih, beserta tanggal kadaluarsa juga pabrik distributor. Satu-satunya pabrik yang memproduksi vaksin di Indonesia adalah Biofarma dan itu diawasi oleh BPOM. Jangan sampai anak-anak kita terkena (lagi) efek dari vaksin palsu tersebut.