Selasa, 22 Mei 2018

Cinta Terencana Bisa Cegah Stunting Di Indonesia

Persoalan stunting masih menjadi suatu "pekerjaan rumah" bagi kita. Di dunia sebanyak 178 juta anak di bawah usia 5 tahun menderita stunting. Begitupun di negeri ini, beberapa wilayah  provinsi tercatat masih memiliki angka persentase stunting paling tinggi yaitu NTT (51,7%), Sulawesi Barat (48%), NTB (45,26%) Kalimantan Selatan (44,24%) dan Lampung (42,63%). Data yang mencengangkan bagi saya sebagai ibu yang juga memiliki anak masih usia dini. Tentunya banyak faktor yang melatarbelakangi hal ini.



Stunting (kerdil) adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak usia 2 tahun. Pada umumnya ukuran normal tinggi badan anak usia 5 tahun adalah 110 cm. Namun, anak yang stunting tinggi badannya kurang dari itu.

Salah satu upaya kita menekan angka stunting adalah membentuk cinta yang terencana.

Loh, apa hubungannya?

Mau tahu kan, simak terus ya...


Beberapa kali saya mengikuti seminar edukasi tentang stunting. Permasalahan gizi kronis ini tidak bisa dianggap remeh karena bisa berdampak dalam jangka waktu panjang bagi anak. Bayangkan saja 9 juta anak Indonesia terancam kehilangan IQ sebesar 10-15 poin, terlambat masuk sekolah dan prestasi akademik buruk. Bahkan Indonesia terancam kehilangan potensi GDP 11%. 

Stunting disebabkan oleh beberapa faktor multidimensional : 
  • Praktik pengasuhan yang tidak baik
  • Kurangnya akses ke bahan makanan bergizi
  • Terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan ANC, PNC dan pembelajaran dini berkualitas
  • Kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi

Stunting bukan permasalahan yang sulit secara finansial, tidak melulu soal gizi tapi juga pola asuh. 29 % diantaranya termasuk golongan orang berekonomi baik, namun kurangnya pengetahuan tentang gizi seimbang, mereka menjadi salah satu korbannya.



Stunting dapat diintervensi dengan gizi spesifik dan gizi negatif. 

Intervensi gizi spesifik adalah intervensi yang ditujukan kepada anak dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan dan berkontribusi pada 30% penurunan stunting. Kerangka kegiatan intervensi gizi spesifik umumnya dilakukan pada sektor kesehatan dimulai dari kehamilan ibu hingga melahirkan. Hal ini meliputi pemberian makanan pada ibu hamil, ibu hamil mengonsumsi tablet tambah darah, Inisiasi Menyusui Dini (IMD), pemberian ASI eksklusif, pemeberian ASI dan didampingi MPASI usia 6-24 bulan, memberikan imunisasi lengkap pada anak. Selain itu pemberian obat cacing rutin tiap 6 bulan juga perlu dilakukan.

Adapun intervensi sensitif merupakan menyediakan dan memastikan akses pada air bersih dan sanitasi, menyediakan akses ke layanan kesehatan dengan keluarga berencana, memberikan pendidikan pengasuhan pada orangtua dan memberikan edukasi kesehatan seksual dan reproduksi serta gizi pada remaja. Dilakukan melalui berbagai kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan dan berkontribusi pada 70% intervensi stunting. Kegiatannya dapat dilaksanakan melalui beberapa kegiatan yang umumnya makro dan dilakukan secara lintas kementrian dan lembaga. 

Masih ada yang bingung kah antara hubungan cinta terencana dengan stunting? 

Reading slowly ya...

Awalnya saya juga sempat bingung dengan hubungan ini. Maksdunya antara cinta terencana dan stunting ya, bukan hubungan yang lain. Setelah ditelusuri dengan cermat, saya menemukan hubungannya. Bermula saya menghadiri undangan blogger pada 15 Mei 2018 lalu berlokasi di Museum Penerangan TMII telah diselenggarakan Meet Up BKKBN Bersama Komunitas Blogger dengan tema "Membangun Keluarga Berkualitas Dengan Cinta Terencana". Pertemuan ini juga menyampaikan kampanye #CintaTerencana dari BKKBN dalam rangka menyambut Hari Keluarga Nasional pada 29 Juni 2018.

kiri : Ibu Eka Sulistya
tengah : Resi Prasasti Blogger Plus Community
kanan : Zein, moderator Media Indonesia

Dihadiri oleh ibu Eka Sulitya Ediningsih selaku Direktur Bina Ketahanan Remaja. Pada sesi ini beliau menjelaskan tentang cinta terencana. Cinta terencana suatu usaha menggalang optimisme masyarakat untuk menyambut bonus demografi dan Indonesia Emas 2045 dengan mengoptimalkan 8 fungsi keluarga juga 4 Program Substansi GenRe untuk menumbuhkan semangat revolusi mental yang dimulai dari keluarga. 

8 fungsi keluarga meliputi fungsi agama, sosial budaya, cinta dan kasih sayang, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi dan pelestarian lingkungan. 

4 Substansi GenRe yang dimaksud adalah kependudukan dan pembangunan keluarga, kesehatan reproduksi remaja, keterampilan hidup pengembangan diri, perencanaan kehidupan berkeluarga. 


Cinta Terencana Bisa Cegah Stunting Di Indonesia


Cinta terencana itu bisa dibentuk saat belum menikah. Benar adanya istilah orang Jawa bilang memilih pasangan harus dilihat bibit, bebet dan bobotnya. Khususnya kawula muda yang mudah mabuk asmara, mudah teralihkan dengan tampan dan cantiknya pasangan atau cinta terdalam. Boleh saja semua itu dimiliki, namun memutuskan untuk melanjutkan hubungan yang lebih serius itu butuh rencana matang.

Stunting terjadi akibat ketidaktahuan dari cinta terencana tersebut. Kurangnya pengetahuan tentang praktik pengasuhan yang baik dalam sebuah keluarga. Maka itu stunting bisa dicegah dengan cara berikut.

Menunda Pernikahan Dini


Menikah itu kan ibadah, menghalalkan pasangan yang bukan muhrimnya. Benar juga sih pernyataan itu. Tapi, kalau menikah tidak direncanakan (misal hamil di luar nikah) bisa berantakan rumah tangganya.
sumber foto disini

Menurut UU No.1 tahun 1974 tentang perkawinan, usia diizinkan menikah pria 19 tahun dan wanita 16 tahun. Sementara usia ideal menikah yaitu pria 25 tahun dan wanita 21 tahun. Tuh, sudah ada patokannya kan. Maka itu disarankan bagi kaum remaja melewati 5 masa transisi yaitu tuntaskan dulu masa belajarnya, masuk ke dunia kerja, menikah di usia ideal, berinteraksi dengan lingkungan dan berperilaku hidup sehat. 

Dikutip dari mediaindonesia.com bapak Prof. Fasli Jalal seorang pakar gizi mengatakan, menunda usia pernikahan menjadi 20 tahun mengurangi stunting sekitar sepertiga (37%). Artinya memberikan kesempatan yang lebih baik kepada calon ibu untuk menyiapkan diri secara fisik dan psikologi. Bisa dengan memberikan tablet penambah darah bagi remaja, penyuluhan materi gizi seimbang dan perilaku hidup sehat.



Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memiliki prinsip zero toleran, artinya tidak mentoleransi pernikahan dini, perilaku sex bebas dan penggunaan narkoba. 3 aspek ini memang sangat dilarang di manapun. Sangat merugikan generasi bangsa. 

Menjalani hidup berkeluarga adalah suatu fase paling besar dan butuh kerjasama antar 2 individu yang beda isi kepala. Pasal 1 ayat 6 UU 52 tahun 2009 menyebutkan keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami-istri, sumai-istri-anak, ayah dan anak atau ibu dan anak.

Roslina Verauli M.Psi.,Psikolog memberikan kiat membangun keluarga sehat dan terencana dengan memahami keluarga dan peta keluarga. Keluarga itu berada dalam satu atap sebagai kelompok sosial dasar. Semua yang terbentuk dan dibawa keluar oleh orang tua dan anak-anak berasal dari dalam keluarga. Terdiri dari orang tua dan anak, tidak ada orang lain campur dalam satu atap. Keluarga juga kelompok individu dengan keturunan leluhur yang sama. Apabila keluarga memiliki cinta terencana berarti memiliki tujuan dan nilai kehidupan yang sama, komitmen jangka panjang dan umumnya tinggal bersama.

3 kunci kesuksesan untuk mewujudkan keluarga yang stabil dan terencana yang diberikan oleh mbak Roslina Verauli yaitu fleksibel, beri kelonggaran pada anggota keluarga agar tidak merasa terkekang. Seperti saat ini saya menghadapi 2 masa pada anak-anak. Arkana berada pada masa put me down, artinya lepas dia bermain dan ia akan kembali dengan sendirinya. Kalau Sagara pada masa posesif, misal mainan yang ia pegang tidak ingin dibagi oleh teman sebayanya.

Kedekatan sangat penting dijalin oleh keluarga. Anak-anak bisa percaya menceritakan apa pun yang dialami dengan kedua orangtuanya atau menanyakan pendapat sebelum bertindak. Jangan sampai anak-anak salah curhat lewat media yang salah.

Ciptakan komunikasi positif antar anggota keluarga. Saling memuji dan mendukung dalam kondisi apapun dapat memberikan semangat. Ucapkan kata-kata indah pada pasangan atau anak-anak.

Roslina Verauli

Jika remaja diberikan kesempatan untuk menggali ilmu lebih dalam tentang pola asuh keluarga yang baik, diberikan penyuluhan tentang intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif dan menunda usia pernikahan, maka peran BKKBN cegah stunting yaitu menggiatkan program Generasi Berencana (GenRe) dan Mewujudkan program pendewasaan usia perkawinan bisa terwujud. Semoga dengan melaksanakan program nasional pengurangan stunting di Indonesia tahun 2019 bisa mencapai target sebesar 28%. 


Membentuk Kampung Keluarga Berencana (KB)


Mencegah stunting bisa membentuk kampung keluarga berencana atau kampung KB. Kampung KB adalah satuan wilayah setingkat desa dengan kriteria tertentu dimana terdapat keterpaduan program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) dan pembangunan sektor terkait dalam upaya meningkatkan kualitas hidup keluarga dan masyarkat. Sampai saat ini kampung KB di Indonesia mencapai sekitar 6681.

Kalau mendengar istilah "kampung" saya berasumsi tentang wilayah yang tidak beraturan, kumuh dan padat penduduk. Itulah latar belakang adanya  kriteria untuk membentuk kampung KB yaitu wilayah kumuh, kampung pesisir, daerah aliram sungai, bantaran kereta api, kawasan terpencil, kawasan industri, kawasan wisata, tingkat kepadatan penduduk tinggi. Kampung KB merupakan program yang dicanangkan oleh presiden Joko Widodo pada tahun 2016. Kampung KB sudah melewati 2 tahun pada 14 Januari 2018.


Kampung KB memiliki program di beberapa sektor yaitu :
  • Kegiatan kampung KB : posyandu, penyuluhan KB, program KKBPK.
  • Kegiatan lintas sektor kampung KB : bedah rumah, isbat nikah, pembuatan akte kelahiram dan kartu keluarga.
  • Kegiatan kesehatan : pemeriksaan kesshatan ibu dan gizi anak, sosialisasi kegiatan GERMAS, sosialisasi materi narkoba dan penyakit menular seksual. 
  • Kegiatan pendidikan : PAUD & BKB, penyuluhan KDRT, penyuluhan poktan.

Seperti tujuan kampung KB untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga dan masyarakat maka angka stunting di Indonesia bisa menurun. Adanya kegiatan yang dilakukan di kampung KB bisa memberikan insight pada masyarakat tentang gizi seimbang. Membawa anak ke posyandu sebagai tolak ukur kesehatan anak untuk mencegah stunting.

Menciptakan Sanitasi yang Baik


Salah satu penyebab stunting adalah kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi. 1 dari 5 rumah tangga masih buang air besar (BAB) di ruang terbuka dan 1 dari 3 rumah tangga belum memiliki akses ke air minum bersih. Fakta yang pernah saya temukan di beberapa wilayah. Khusus Jakarta biasanya saya temukan di daerah pesisiran atau bantaran sungai. Dengan seenaknya mereka membuang "hajat" ke aliran air besar. 

Dikutip dari indonesiabaik.id, ada 5 pilar sanitasi total berbasis lingkungan untuk mencegah stunting yaitu
  • Berhenti buang air besar sembarangan 
  • Cuci tangan menggunakan sabun 
  • Pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga
  • Pengelolaan sampah rumah tangga
  • Pengelolaan limbah cair rumah tangga
sumber foto disini

Kalau sanitasinya nggak baik, bagaimana mau membentuk keluarga yang sehat? Data Kemenkes tahun 2013 menunjukkan bahwa baru 68,8% penduduk Indonesia mendapatkan akses air bersih.

Jika 5 pilar sanitasi tersebut dibentuk dengan baik, maka kesehatan anggota keluarga juga baik. Salah satu syarat cinta terencana itu membantu pasangan hidup sehat. Utamanya sehat berasal dari dalam keluarga. Nggak mau kan punya pasangan yang jorok bin kumel. Kalau pasagan kita nggak sehat, bagaimana keturunan kita nanti?

Salam GenRe

Jangan merasa sedih kalau belum bertemu dengan jodoh saat ini. Rencanakan dari sekarang hidup masa depanmu bersama pasangan. Anak zaman sekarang harus pintar merencanakan masa depan misalya merencanakan memiliki hunian dengan cara memilih properti.

Stunting bukan penyakit menular. Ia seperti hantu yang bisa menggentayangi keluarga yang tidak melek gizi. Merencanakan membangun rumah tangga dengan cinta bisa dimulai dari sekarang. Kenalilah pasanganmu lebih dalam, bersama-sama menggali wawasan tentang pola asuh yang baik dalam keluarga agar anak-anak nanti tidak mengalami stunting. Kampanye #CintaTerencana dari BKKBN bisa berhasil dijalankan dan cegah stunting.



***







6 komentar:

  1. Kasihan kalau anak sampai mengalami kurang gizi, apalagi stunting . Jangan buru buru nikah ya kecuali sudah cukup umur dan matang secara finansial dan emosional.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perdalam lagi ilmu mumpung masih muda dan bertenaga.

      Hapus
  2. Merencanakan nikah dengan kesiapan financial emosional dan pengetahuan mengenai cinta terencana

    BalasHapus
  3. Tapi kalo ngikutin program wajib belajar kan masuk SD umur 7 tahun , belajar sampe SMA berati 12 tahun ya terus lanjut kuliah 4 tahun,kelar sarjana udah umur 23 tahun,belom meniti karir banyak persaingan, pengangguran. Ya Allah jadi pusing mikirin anak anak,mulai sekarang gak terlalu berharap untuk minta dibahagaikan anak. Mudah2an anak2 kita pada sukses,punya keluarga yg baik,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak usah pusing mak Abid, semua ada jalannya.

      Hapus