TANAH YANG MENDENGAR
Namaku tidak penting, yang penting adalah sudah enam puluh tiga tahun aku duduk di tepi jalan ini — jalan tanah merah di pinggir desa, dua kilometer selatan Imogiri, tempat pohon angsana tua yang batangnya sudah berlubang tapi tidak pernah mati itu berdiri.
Orang-orang memanggilku Mbah Woro.
Mereka datang dengan wajah yang sama. Selalu. mata yang sudah habis menangis tapi tidak bisa lagi mengeluarkan air. Tangan yang menggenggam terlalu keras karena takut kehilangan lebih banyak lagi. Dan pertanyaan yang sama — meski kata-katanya berbeda-beda:
Mbah, ada jalan lain tidak? Mbah, apa ada cara? Mbah, tolong.
Aku selalu mendengarkan.
Tapi malam ini bukan tentang mereka. Malam ini tentang gadis yang datang tiga bulan lalu. Yang aku — untuk pertama kalinya dalam enam puluh tiga tahun — seharusnya mengusir pergi.
Malam ini tentang kenapa aku tidak melakukannya.
Dan tentang apa yang sekarang sedang berjalan ke arah rumahku dari sawah di selatan, perlahan, dengan rambut panjang yang tidak tertiup angin karena tidak ada angin.
TENTANG GADIS ITU
Bukan karena wajahnya. Bukan karena cara dia duduk atau cara dia menggenggam tasnya. Tapi karena baunya.
Orang yang datang dengan kehilangan biasa — kehilangan uang, kehilangan jabatan, kehilangan kekasih yang pergi ke orang lain — mereka berbau seperti asap kayu yang masih basah. Berat. Menggantung. Tapi masih bisa hilang kalau dibawa angin.
Laras berbau seperti sesuatu yang sudah lama terkubur tapi baru saja digali.
Seperti tanah Bantul setelah hujan pertama musim kering yang panjang.
Aku harusnya langsung tahu.
Tapi aku tidak tahu — atau lebih tepatnya, aku tidak mau tahu.
Yang dia kehilangan bukan orang. Bukan barang. Bukan jabatan.
Yang dia kehilangan adalah dirinya sendiri.
Bukan dalam arti filosofis. Bukan dalam arti dia bingung akan hidupnya.
Dalam arti yang sangat literal : ada bagian dari dirinya yang sudah terambil. Oleh siapa — dia tidak bilang. Mungkin dia sendiri tidak tahu.
Dia hanya bilang : ada sesuatu yang setiap malam keluar dari tubuhnya saat tidur dan tidak sepenuhnya kembali waktu dia bangun. Setiap hari dia merasa sedikit lebih kosong. Seperti gelas yang bocor — tidak terlihat lubangnya, tapi isinya terus berkurang.
Aku dengarkan semua itu.
Dan kemudian aku membuat kesalahan terbesar dalam enam puluh tiga tahun hidupku.
Aku percaya padanya.
Karena dari semua orang yang pernah datang ke rumahku, Laras adalah yang pertama yang tidak datang meminta kekuatan.
Dia datang meminta untuk dikembalikan.
Dan ada bagian dari diriku — bagian yang sudah terlalu lama duduk di tepi jalan ini dan melayani niat-niat yang gelap dengan alasan yang membenarkan diri sendiri — bagian itu menginginkan satu pekerjaan yang bersih sebelum mati.
Ini, pikirku. Ini yang bisa aku lakukan dengan benar.
Aku bodoh.
Apa yang Aku Ajarkan, Apa Yang Tidak
"Ritual Rambut Sewu Wengi tidak bekerja dengan cara yang kamu pikir. Yang datang menjawab bukan sesuatu dari luar. Yang datang menjawab adalah sesuatu yang sudah ada di dalam pelakunya. Sesuatu yang selama ini tidur. Ritual hanya membangunkan. Dan yang terbangun — tidak bisa ditidurkan lagi dengan cara yang sama."
Aku tidak mengerti waktu itu.
Aku pikir guruku sudah senile. Sudah terlalu tua sampai kata-katanya berputar sendiri tidak karuan. Aku mengajarkan ritual itu kepada orang-orang selama puluhan tahun tanpa pernah mengingat bisikan itu.
Sampai malam ini.
Malam Jumat Kliwon, Tiga Bulan Lalu
Aku tidak ikut ke sawah malam itu.
Tapi aku tahu apa yang terjadi — bukan karena aku melihat, tapi karena di malam Jumat Kliwon, tanah ini berbicara kepada siapapun yang tahu cara mendengarkan.
Aku dengar waktu Laras mulai menyebut nama. Tujuh kali. Perlahan. Sesuai irama napasnya.
Aku dengar waktu suara sawah bergeser — jangkrik berhenti, katak berhenti, angin berhenti, dan nada rendah dari dalam bumi mulai naik.
Aku dengar waktu helai pertama rambut dibakar. Helai kedua. Ketiga.
Dan aku dengar — di helai ke tiga ratus dua puluh tujuh — sesuatu yang harusnya tidak pernah terjadi.
Suara itu menjawab.
Bukan suara yang bisa didengar telinga. Suara yang dirasakan di ulu hati, seperti senar gitar yang dipetik terlalu keras sampai kotak resonansinya retak dari dalam.
Dalam empat puluh tahun mengajarkan ritual ini, tidak pernah ada jawaban.
Ritual biasanya bekerja seperti mesin — mekanis, sunyi, efektif. Kamu masukkan bahan yang tepat, kamu lakukan langkah yang tepat, mesinnya bergerak. Tidak ada dialog. Tidak ada transaksi personal.
Tapi malam itu ada jawaban.
Dan jawaban itu bukan untuk Laras.
Jawaban itu untukku.
Apa Yang Kubayar
Aku perlu menjelaskan sesuatu tentang cara ritual ini bekerja — sesuatu yang bahkan para sesepuh tidak sepenuhnya pahami.
Ritual Rambut Sewu Wengi adalah sistem pertukaran, ya. Tapi siapa yang menukar dengan siapa — itulah yang tidak pernah ada yang benar-benar tahu.
Yang aku tahu sekarang, setelah tiga bulan mengamati Laras dari jauh : ritual itu berhasil. Apa yang dia minta — dikembalikan kepada dirinya sendiri — terjadi.
Selama tiga minggu pertama.
Di minggu keempat, aku mulai mendengar cerita dari orang-orang desa.
Tentang perempuan muda yang berjalan di pematang sawah selatan malam-malam. Rambutnya panjang. Tidak tertiup angin. Berjalan ke arah yang sama setiap malam — ke selatan. Ke laut.
Tidak ada yang bisa melihat wajahnya.
Aku ketuk pintu kos Laras.
Perempuan yang membuka pintu itu memiliki wajah Laras. Tubuh Laras. Suara Laras.
Tapi matanya —
Matanya mengingatkanku pada sesuatu. Aku butuh tiga hari untuk mengingat apa.
Matanya persis seperti mata guruku di hari terakhir sebelum dia meninggal — ketika aku duduk di sampingnya dan memegang tangannya dan dia berbisik tentang hal yang tidak aku mengerti itu.
Mata orang yang sudah melihat sesuatu yang seharusnya tidak bisa dilihat manusia.
Dan yang sudah tidak bisa lagi untuk melihatnya.
Laras tersenyum padaku. Wajar. Normal.
Lalu dia bilang, dengan nada percakapan biasa seperti membicarakan cuaca:
Dia tunjukkan foto di ponselnya.
Aku kenal bunga itu. Itu bunga ketujuh. Bunga yang tidak bernama. Yang hanya muncul sendiri. Yang artinya ritualnya belum selesai.
Tapi Laras sudah melakukan semua tiga fase. Sudah menyegel. Sudah menutup.
Ritualnya seharusnya sudah selesai.
Mengapa bunga ketujuh masih datang?
Aku pulang dengan kepala penuh pertanyaan yang salah.
Pertanyaan yang benar harusnya adalah:
Siapa yang mengirimkan bunga itu?
Tentang Siluet di Pematang
Aku perlu bicara tentang siluet itu.
Laras pernah bilang padaku — waktu aku ajarkan ritual — bahwa mungkin dia akan melihat sesuatu berdiri di tepi sawah. Perempuan. Rambut panjang. Tidak tertiup angin.
Aku bilang itu biasa. Itu bagian dari prosesi. Jangan tatap, jangan berhenti. Yang tidak aku bilang adalah : aku tidak tahu itu dari mana.
Dalam empat puluh tahun mengajarkan ritual ini, belum pernah ada yang lapor melihat siluet itu. Tidak ada dalam catatan guruku. Tidak ada dalam cerita yang pernah aku dengar dari sesepuh manapun.
Siluet itu — dan ini yang baru aku mengerti semalam, ketika akhirnya aku tidur dan bermimpi dan dalam mimpiku guruku yang sudah mati empat puluh tahun itu duduk di depanku dan berbisik lagi dengan kata-kata yang sama tapi kali ini aku bisa mendengar sepenuhnya.
Siluet itu adalah bagian dari Laras yang sudah lama hilang. Yang dipanggil keluar oleh ritual.
Yang berdiri di pematang, menonton tubuhnya sendiri melakukan pengikatan.
Dan yang — karena sudah berdiri di luar terlalu lama di malam Jumat Kliwon, di tanah Bantul selatan yang lapisan spiritualnya terlalu tebal, di antara dua dunia terlalu lama — sudah tidak bisa sepenuhnya kembali ke dalam.
Yang tinggal di dalam tubuh Laras sekarang adalah sebagian besar dirinya.
Yang berkeliaran di pematang sawah setiap malam adalah sisanya.
Dan keduanya — keduanya masih Laras. Keduanya nyata. Keduanya lengkap merasa dirinya adalah yang asli.
Dan keduanya sedang mencari cara untuk menjadi satu-satunya.
Malam Ini
Sudah lewat tengah malam.
Aku duduk di kursi rotan di depan pintu — pintu yang sudah aku kunci dengan tiga lapis, kayu, besi, dan hal lain yang tidak perlu aku sebutkan di sini.
Pohon angsana di depan rumahku tidak bergerak. Tidak ada angin.
Lampu minyak di tanganku sudah hampir habis.
Dan dari arah selatan — dari arah pematang sawah, dari arah yang berbatasan dengan laut — ada suara langkah kaki yang sangat pelan, sangat teratur, yang makin lama makin jelas.
Aku tahu siapa yang datang.
Bukan Laras yang tadi siang aku tinggalkan di kosnya di Kotagede. Bukan sesuatu yang asing. Bukan makhluk dari luar.
Yang datang adalah Laras yang satunya — yang sudah terlalu lama di luar, yang sudah hampir lupa bagaimana caranya masuk, yang sekarang tidak mencari jalannya sendiri lagi.
Yang sekarang mencari orang yang mengeluarkannya. Aku.
Langkah kaki berhenti di depan pintu.
Tidak ada ketukan. Hanya diam.
Lalu — suara yang aku kenali. Suara Laras. Persis. Sampai ke cara dia sedikit menarik napas sebelum mulai bicara.
"Mbah." Satu kata. Aku tidak menjawab.
Lampu minyakku padam. Bukan karena angin. Tidak ada angin. Hanya — padam. Seperti ada sesuatu yang memutuskan bahwa cukup sudah cahaya untuk malam ini.
Kegelapan total.
"Mbah... saya butuh Mbah ajari satu hal lagi. Satu hal saja."
Suaranya terdengar normal. Wajar. Bahkan sedikit memohon — persis seperti suara Laras yang pertama kali datang tiga bulan lalu.
Tapi ada yang berbeda. Suaranya datang dari dua arah sekaligus. Dari balik pintu — ya. Tapi juga dari dalam rumah. Dari arah kamarku. Dari dalam.
Apa Yang Guruku Tidak Selesai Bisikkan
Aku duduk dalam gelap dan aku mencoba mengingat.
Guruku berbisik tentang sesuatu yang tidur di dalam setiap pelaku ritual. Sesuatu yang terbangun. Sesuatu yang tidak bisa ditidurkan lagi.
Tapi ada bagian dari bisikan itu yang dulu tidak aku dengar dengan jelas — karena nafasnya sudah sangat lemah, karena aku sudah menangis, karena suara di luar kamarnya terlalu keras.
Malam ini, dalam gelap total dengan suara Laras datang dari dua arah, aku akhirnya mengingat sisa bisikan itu.
"...dan pengajarnya, Woro. Pengajar yang mengajarkan ritual ini kepada orang yang salah — pengajar itu juga membayar. Bukan dengan rambutnya. Dengan sesuatu yang jauh lebih lama dia miliki."
Aku tahu sekarang apa yang guruku maksud.
Kenapa aku tidak pernah sakit dalam enam puluh tiga tahun? Kenapa aku tidak pernah tua dengan cara yang wajar? Kenapa kulitku masih seperti perempuan lima puluhan meski umurku sudah melampaui delapan puluh?
Karena yang membuatku tetap hidup selama ini adalah sesuatu yang sama dengan yang berdiri di depan pintu dan di dalam kamarku malam ini. Sesuatu yang sudah lama tinggal bersamaku.
Sesuatu yang sekarang terusik — karena aku menggerakkan ritual yang lebih besar dari yang bisa aku kendalikan, dan sesuatu yang lebih tua dari aku terbangun, dan sesuatu itu sekarang ingat bahwa aku berhutang.
Bahwa sudah terlambat sekali.
Suara Laras di balik pintu berhenti.
Suara Laras dari dalam kamar — tidak.
Dari dalam kamar, perlahan, ada suara langkah kaki yang mendekati pintu kamar. Pelan. Teratur. Seperti orang yang tidak terburu-buru karena tahu kemana mereka akan pergi dan tahu tidak ada yang bisa menghalangi.
Pintu kamarku — yang tidak aku kunci karena aku tidak pernah berpikir bahwa ancaman akan datang dari dalam — mulai terbuka.
Perlahan.
Satu sentimeter.
Dalam celah yang terbuka itu, dalam gelap total malam ini, aku melihat satu hal saja.
Sepasang mata.
Mata yang aku kenali.
Mata yang sudah enam puluh tiga tahun aku lihat setiap kali aku bercermin.
Mataku sendiri.
Dan aku akhirnya mengerti apa yang guruku coba katakan.
Ritual Rambut Sewu Wengi tidak pernah memanggil sesuatu dari luar.
Ia selalu memanggil sesuatu dari dalam.
Dari dalam pelakunya. Dari dalam pengajarnya. Dari dalam siapapun yang pernah menyentuh ritual ini dengan niat yang belum selesai.


Tidak ada komentar