Kelihaian Industri Rokok Membohongi Anak dan Remaja

Jumat, Juni 05, 2020

Industri rokok di Indonesia semakin lama terlihat semakin makmur. Tentunya ini berkat berbagai cara yang dilakukan untuk mempromosikan produknya. Ditambah sasaran target empuknya adalah anak dan remaja. Di mana kedua target tersebut mudah dirangkul.


Ada yang tahu tiap tanggal 31 Mei diperingati hari apa? Yap, tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) dan tahun ini mengusung tema khusus yaitu "Lindungi Kaum Muda Dari Manipulasi Industri dan Cegah dari Konsumsi Rokok dan Nikotin". Tema ini dianggap cocok dengan kondisi bangsa Indonesia yang sangat leluasa melakukan berbagai kegiatan untuk memanipulasi anak dan remaja.


Turut memperingati HTTS tahun ini, hari Sabtu, 30 Mei 2020 saya dan beberapa teman blogger berkesempatan ikutan webinar workshop online melalui aplikasi zoom bersama Yayasan Lentera Anak serta 3 narasumber yang berkompeten membahas soal fakta kebohongan industri rokok di era post-truth
  • Kiki Soewarso - menjabat sebagai Communication Specialist pada Tobacco Control Support Center (TCSC – IAKMI).
  • Hariyadi - Bergabung dengan Lentera Anak sejak awal tahun 2017, dan saat ini menjabat sebagai Data & Analyst Officer Lentera Anak.
  • Mouhamad Bigwanto - TIM Focal Point pada Tobbaco Control Policy Support in Indonesia SEATCA (South East Asia Tobacco Control Alliance.

Peserta webinar online HTTS 2020

Pembahasan yang menarik bagi saya si perokok pasif. Kalau omongin soal rokok, ayah saya berhenti merokok sebulan sebelum meninggal dunia. Bahkan diagnosa hasil rontgen-nya terkena TB paru. Makanya saya jauh-jauh banget deh sama perokok. 

Cara Lihai Industri Rokok Bohongi Anak dan Remaja


Lihat iklan rokok zaman sekarang beda banget sama zaman dulu. Lewat pemaparan webinar bersama kak Kiki Soewarso bertajuk Kisah Sukses Iklan Rokok di Indonesia, saya jadi tahu pesona iklan rokok di Indonesia dari zaman ke zaman.

Iklan rokok zaman dulu seringnya menggunakan model ternama atau ilustrasi gambar yang menarik. Salah satunya menampilkan model yang memerankan Boy dalam film Catatan Si Boy. 

Seiring berjalannya waktu, industri rokok mengubah promonya dengan sesuatu yang inovatif dan inspiratif lewat tagline atau video. Alih-alih rokok itu sebagai sesuatu yang memberikan hal yang positif bagi penggunanya. Padahal kebanyakan mudharatnya kan? Coba deh perhatikan iklan rokok sekarang di televisi, banyak yang menggunakan tagline inspiratif.

Dari kelihaian industri rokok mempromosikan produknya dengan berbagai cara dan akhirnya bisa merangkul kaum muda untuk mencobanya, artinya target tercapai. Peningkatan perokok dari tahun ke tahun terus meningkat. Mirisnya rentang usia penggunanya semakin muda, bahkan 2,5% sudah mulai merokok sejak usia 5-9 tahun. 

Promosi industri rokok lewat iklan di televisi bisa memaparkan anak dan remaja di bawah usia 18 tahun. Apalagi dengan iklan yang berkonsep inovatif dan inspiratif begitu, bisa mengubah mindset anak bahwa merokok dapat menjadikan diri anak tersebut orang yang keren. Ditambah dengan promosi rokok lewat baliho besar di pinggir jalan atau banner di suatu acara musik.

Persentase iklan rokok di media online
Dok.slide Kiki Soewarso

Gencarnya dunia internet menjadikan wadah empuk bagi industri rokok untuk menebarkan promosi produknya. Diiklankan melalui media online favorit anak dan remaja (Facebook, Instagram, Twitter, YouTube, TikTok, dll). Hasil riset yang dilakukan kak Kiki Soewarso bersama LSPR Jakarta tahun 2018 membuktikan bahwa iklan rokok di media online dianggap menarik oleh remaja dan kebanyakan menyadari isi dari iklan rokok. Persentasenya mencapai 57,8%. 

Hal-hal yang disadari oleh remaja pada iklan rokok di media online antara lain dari iklannya, bintang dan penampilan bintang iklan. Mungkin gini kali ya pemahaman remaja, si artis A aja merokok pakai merek rokok ini bisa keren. Apalagi kalau anak dan remaja itu adalah followernya si artis tersebut. Makin kena deh sasarannya.

Kesimpulannya pesona iklan rokok di Indonesia semakin menggoda buat anak dan remaja. Terpaan iklan dan promosi rokok di media online menjadikan sikap remaja merokok makin gencar. Bahkan bagi yang tidak merokok sebelumnya. Jadi, larang iklan, promosi atau kegiatan apapun tentang rokok. 

Tahu enggak kalau industri rokok diatur oleh berbagai peraturan, namun banyak yang dilanggar? Kak Hariadi menjelaskan detail soal regulasi sponsor, CSR sampai iklan di televisi. Hampir semuanya melanggar aturan yang ada.

Dok. Slide webinar bersama kak Hariadi

Sponsor Produk Tembakau adalah segala bentuk kontribusi langsung atau tidak langsung dalam bentuk dana atau lainnya, dalam berbagai kegiatan yang dilakukan oleh lembaga atau perorangan dengan tujuan mempengaruhi melalui Promosi Produk Tembakau atau Penggunaan Produk Tembakau. 

Sponsor biasanya menampilkan brand image dari rokok tersebut. Padahal ini melanggar aturan sesuai dengan PP 109 tahun 2012. Namun kenyataannya masih banyak yang blak-blakan memamerkan brand image di tiap kegiatan seperti konser musik, apalagi sampai diliput oleh media. Pada PP 109 tahun 2012 pasal 37 menerangkan bahwa regulasi sponsorsip juga memiliki tanggung jawab sosial.

Pada Corporate Social Responsibility (CSR) rokok juga punya andil. Tahu kan audisi olahraga badminton yang disponsori oleh merek rokok tersohor itu? Jadi bahan pro kontra atas dana beasiswa yang diberikan. Padahal ada unsur pelanggaran dalam penyelenggaraan sponsorship sebagai CSR yaitu menggunakan nama merek dagang dan logo Produk Tembakau termasuk brand image Produk Tembakau dan bertujuan untuk mempromosikan Produk Tembakau.

Audisi badminton tersebut merekrut anak dan remaja yang masih berusia sekolah. Hal ini tentunya melanggar PP 109 Tahun 2012 pasal 47 yang isinya pelanggaran promosi dengan bertujuan mempromosikan Produk Tembakau mengikutsertakan anak di bawah usia 18 tahun. 

Ilustrasi promosi rokok pada CSR
Dok.gambar Lentera Anak


Iklan rokok di televisi juga diatur pada PP 109 tahun 2012 pada pasal 29 yang berbunyi selain pengendalian produk Tembakau sebagaimana dimaksud pada pasal 27 iklan di media penyiaran hanya dapat ditayangkan setelah pukul 21.30 WIB - 05.00 WIB waktu setempat. 

Di ruang terbuka seperti di sarana olahraga juga ada regulasinya. Beberapa daerah juga mempunyai peraturan daerah buat kawasan tanpa rokok. Enggak nyambung juga kan kalau tempat olahraga yang image-nya buat kesehatan malah ada iklan rokok. Kalau mau tuh iklan minuman isotonik, vitamin atau sepatu olahraga.

Intinya regulasi di Indonesia terhadap promosi rokok masih lemah. Memang orang lihatnya hasil dari bantuan industri rokok tersebut, tapi kalau dipahami lebih dalam sebenarnya ada pesan terselubung dibalik tujuannya.

Saat ini kita hidup di era 4.0 atau revolusi industri keempat, di mana semua sistem teknologi berinovasi pada big data atau wireless secara massif, digitalisasi informasi. Nah, industri rokok memanfaatkan peluang ini.

Kak Mouhamad Bigwanto menjelaskan Tipis Muslihat 4.0 Industri Rokok pada webinar ini. Aduh, industri ini ya benar-benar lihai mencari peluang untuk memajukan produknya. Salah satu perubahan masyarakat saat membeli barang, sekarang gampang lewat sistem daring. Tinggal klik-klik aja, transfer, barang pun datang ke rumah. Berlaku juga pada sistem transportasi.

Pada produk rokok, yang tadinya produknya berupa batangan, beralih pada produk rokok elektronik. Di beberapa perusahaan besar rokok  di dunia sudah banyak yang mengeluarkan produk rokok elektrik. Katanya sih efek nikotinnya lebih kecil dibandingkan rokok hisap. Padahal sih sama aja bikin penyakit.

Ilustrasi endorsement rokok era 4.0
Dok.gambar Lentera Anak


Iklan rokok di era 4.0 juga melonjak tajam. Jika dibandingkan antara total belanja iklan di televisi dan iklan digital di Indonesia. Enggak nanggung-nanggung pencapaiannya bisa ratusan triliyunan dolar Amerika. 

Era Post Truth atau pasca kebenaran dalam kamus Oxford adalah dikaburkannya publik dari fakta-fakta objektif. Dalam iklan rokok di era ini kelihaiannya semakin menjadi. Bisa berupa konten iklan dan promosi di kanal berita daring (pop up iklan), giveaway di media sosial, endorsement, user generated content (UGC), membangun komunitas dan promosi lewat games.

Iklan rokok di era Post Truth terus menunjukkan hal-hal yang salah dianggap benar jika terus menerus ditunjukkan. Dengan kata lain merokok baik yang dihisap atau elektronik dianggap normal oleh publik. Malah makin menjerumuskan anak dan remaja. 

Industri rokok akan terus gencar mempromosikan produknya dengan berbagai cara. Kelihaian promonya yang membohongi anak dan remaja yang jadi target utama. Karena perokok remaja adalah satu-satunya sumber perokok pengganti. Ditambah dengan kegiatan anak dan remaja yang ada sponsor produk tembakau ini. Mereka sih senang aja kan kalau dikasih sample rokok gratis kalau sedang di acara konser musik misalnya.

Akhir dari webinar workshop online ini ditutup oleh pesan dari 3 narasumber. Buatlah iklan yang tepat sasaran atau lebih menyenangkan, kalau bisa hapus iklan rokok di waktu kapanpun. Untuk memerangi bahaya rokok bisa memberdayakan komunitas. Kita harus mampu mengimbangi kondisinya, jangan tergantung atau menunggu siapa pun untuk menghentikan manipulatif promosi rokok. 

No Smoking Anytime, Anywhere!



***

You Might Also Like

5 Comments

  1. Gak nyangka segitu lihainya perusahaan rokok melakukan manipulasi dalam mempromosikan produknya. Pantesan banyak anak dan remaja yang jadi korbannya, soalnya mereka banyak yang melanggar aturan :( Semoga pemerintah menetapkan aturan secara tegas ya mbak biar peredaran produk tembakau bisa lebih terkontrol lagi.

    BalasHapus
  2. Bersyukur banget aku ketemu mas suami yang nggak merokok. Lega rasanya, kalau kena asap rokok aku esensitif banget. wkwkwk songong ya. Alhamdulillah ada edukasi pencerahan macam gini jadi lega. Semoga kita semua bisa menyebarkan semangat untuk orang meninggalkan kebiasaan merokok.

    BalasHapus
  3. Memang loh, Kak. Aku tuh suka heran sama iklan rokok. Manipulatif banget. Dibuat sekeren mungkin padahal dampak rokok sendiri berkebalikan dengan kekerenan itu.

    Keluargaku tuh mayoritas nggak merokok. Paling 1-2 orang, ya. Jadi saat di jalan ketemu banyak teman yang merokok, duh ... rasanya pengen kumatikan rokok mereka. Udah gitu, jaman kuliah aku pernah kena TB Paru padahal sama sekali nggak merokok. Dapat asap rokok dari mana coba kalau bukan karena aku perokok pasif?

    BalasHapus
  4. Aku jadi ingat, salah satu Pojok tempat kampusku berada dulu adalah hasil dari sponsorship sebuah merk rokok ternama lo.... Dan kampusku ada 3 lokasi. Ketiganya ada.
    Heran!
    Pihak kampus kenapa mengijinkan mereka memasang merk rokok di spot mahasiswa gitu loo..

    When money can speak more loudly sih yaa...

    BalasHapus
  5. Nah itu dia kak..sepakat...lemahnya regulasi menjadi salah satu penyebab banyaknya pelanggaran terhadap makin maraknya sebaran rokok dan vape...

    BalasHapus

Popular Posts