Senin, 30 September 2019

# Bebelac # kebesaran hati

Tumbuhkan Kebesaran Hati Anak Dari Daya Pikir Hebat dan Nutrisi Tepat

Setiap anak dilahirkan dengan potensi yang berbeda-beda, maka itu mereka unik. Hal itu terlihat dari kedua anakku. Gie yang cenderung kinestetik, suka lompat-lompatan, main sepeda dan sepak bola, sedangkan Sagara tak banyak tingkah. Saya jadi punya dua cara dalam menemani pertumbuhan dan perkembangan mereka. Secara rentang usia mereka terpaut 5 tahun. Yang satu dalam tahap sekolah dasar, yang satu dalam fase eksplorasi tinggi. 

Playdate sama si Kecil


FAMILY DATE with BEBELAC 

Dari jauh hari saya sudah persiapkan dress code warna turmeric, karena diundang ke acara FAMILY DATE with BEBELAC di Kantorkuu Coworking Space, Plaza Agro, Jakarta. Kali ini, saya bisa mengajak Sagara. Tidak ada kursi untuk kami duduki, yang ada hanya meja kecil. Konsep lesehan yang diberikan panitia terkesan santai dan menyenangkan.

Para narasumber yang hadir yaitu : 
🧡 Deska Hapsari Nugrahaini - Marketing Manager BEBELAC 
🧡Binky Paramitha Iskandar, M.psi., Psikolog - Psikolog Pendidikan Rumah Dandelion
🧡Orisa - Pendongeng 

Siap Playdate seru nih..
                 
Selama ibu-ibunya mendengarkan materi dari para narasumber, anak-anak diajak membuat kreasi mobil-mobilan, bermain pasir bersama para kakak pendamping dari Rumah Dandelion. Senangnya datang ke acara seperti ini. Ibu tenang, anak senang. 

Presentasi Bu Deska diawali dengan sebuah quote dari Aristoteles, Educating the Mind without Educating the Heart is no Educating at all. Ngerti nggak artinya? Maksudnya adalah pendidikan yang baik itu kepada anak harus seimbang antara daya pikir dan perasaan. Jika keduanya bersinergi, maka akan ada aksi hebat yang dilakukan olehnya. Percuma jika unggul salah satunya, jomplang kehebatannya. 

Deska Hapsari Nugrahaini

Bebelac berkomitmen mendukung Ibu dalam memberikan nutrisi dan stimulasi yang tepat agar si Kecil tumbuh dengan Tanggap yang Lengkap. Dimana kemampuan berpikirnya berkembang bersama kebesaran hatinya. 

Nutrisi yang tepat berperan penting untuk mendukung daya pikir dan kebesaran hati si Kecil. Ada nutrisi seimbang dan nutrisi spesifik. Nutrisi seimbang itu bisa dilihat dari pedoman Isi Piringku. Dimana karbohidrat, protein, lemak, mineral, buah dan sayur dikonsumsi sesuai porsinya tiap hari. Nutrisi spesifik yaitu prebiotik dan asam lemak dan asam emino esensial. 

Dukung nutrisi si Kecil dengan Bebelac

Prebiotik diperoleh dari Vitamin A, D, Mineral Zat Besi, Seng dan Serat seperti Inulin, fructo-oligisaccharide (FOS) dan Galacto-oligisaccharide (GOS), sedangkan asam lemak dan asam emino esensial didapati dari kelompok Omega 3 (DHA, EPA dan ALA) dan kelompok Omega 6 (asam linoleat). 

Ibu-ibu nggak usah bingung cari nutrisi yang disebutkan di atas karena Bebelac HiQ - EQ+ dengan formula yang ditingkatkan memiliki semua nutrisi itu. Jadi, tinggal berikan susunya sesuai rasa kesukaan anak, ada rasa madu dan vanilla, minimal 2 gelas per hari. 

Melatih Emosional Anak untuk Mendukung Daya Pikirnya 


Saya teringat dengan Wajendra Hanif Athoillah Luthfi atau Hanhan. Seorang atlet Taekwondo berusia 11 tahun kelas 5 SD memiliki hati mulia ingin membantu orang. Memang dari kelas 2 SD, dorongan rasa ingin menolong itu sudah ada, maka ia dalami olahraga taekwondo.

Berawal dari niat ingin menolong orang, maka muncul sebuah challenge Triathlon, penggabungan tiga cabang olahraga dalam medium yang berbeda, Hanhan harus berenang sejauh 200 m, bersepeda 35 km, dan lari 6,7 km. 

Binky Paramitha Iskandar, M.psi., Psikolog

Allah SWT berkehendak menjodohkan pertemuan Hanhan dengan adik Farih di kitabisa.com yang mengidap kanker mata. Sebuah pertemuan yang indah di antara dua malaikat itu. 

Dari kisah di atas bisa kita simpulkan bahwa kebesaran hati anak mesti dipupuk sejak dini agar timbul rasa peduli dengan sesama, lebih bersyukur dan terasah rasa empatinya. Emosinya sudah terasah dengan baik. 

Kebesaran hati berhubungan dengan rasa empati. Empati adalah respon afektif dan kognitif yang kompleks terhadap kondisi emosional orang lain. Nah, perasaan ini butuh ditumbuhkan sejak dini. Dengan memiliki rasa empati, maka anak mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain, bersimpati, melihat sesuatu dan berusaha menyelesaikan masalah dari sudut pandang orang lain. 

Menaruh barang pada tempatnya wujud dari
 rasa peduli

Empati memunculkan perilaku prososial, yaitu perilaku membantu orang lain tanpa pamrih seperti menolong, berbagi, dan bekerja sama. Mbak Binky Paramitha Iskandar, M.psi., Psikolog, memberitahukan 5 tahapan pengambilan keputusan yang dilakukan anak : 

1. Menyadari adanya situasi bermasalah.
2. Menilai situasi tersebut butuh dibantu.
3. Menyadari adanya tanggung jawab diri untuk membantu.
4. Tahu apa yang perlu dilakukan.
5.Memutuskan untuk membantu.

Anak-anak antusias dengar dongeng kak Orisa

Lalu, bagaimana melatih atau mengajarkan anak agar memberikan respon positif saat ada orang sedang kesulitan? 

Di tengah-tengah acara ada dongeng yang diceritakan oleh kak Orisa. Ia menceritakan dongeng berjudul O'ow Harus Apa Ya? Dimana isi ceritanya itu tentang anak-anak yang belajar masak dengan seorang Chef. 

Anak-anak memunguti sendok sebagai wujud empati

Aplikasi cerita dongeng di atas langsung dipraktekkan oleh satu kakak dari Rumah Dandelion yang menjatuhkan sendok di depan anak-anak yang berbaris. Apa reaksi mereka? Bermacam-macam reaksi yang ditimbulkan. Ada yang bengong, diam, lihat kanan kiri. Kalau Sagara saat mendengar suara sendok berserakan dia kaget dan mungkin pikiran dia itu, "Ada apaan sih, rame banget. Orang-orang pada mungutin sendok".😁 

Di usia Sagara saat ini respon yang diberikan belum begitu cepat, secara umum belum terdorong membantu orang lain, kecuali mendapatkan intruksi yang jelas untuk menolong seseorang baru beraksi. Ia masih mengamati dan meniru ekspresi orang lain. 

Playdate seru bersama Bebelac

Tapi saya bangga saat dia memunguti gelas, spatula dan piring plastik yang sengaja ditebarkan di lantai agar diambil oleh anak dan dikembalikan ke tempatnya. Di rumah ia juga sering merapihkan mainannya sendiri yang dimasukkan ke dalam box mainan. 

Setiap anak lahir dengan potensi akal dan hati yang baik. Namun anak yang HEBAT akan melihat situasi dengan HATInya dan menyelesaikannya dengan akal hebat melalui DAYA PIKIRNYA. Saya setuju sekali. Kalau anak nggak didukung dengan nutrisi dan stimulasi yang tepat, tidak terwujud anak hebat tanggal yang lengkap. Mulai sekarang lagi rasa empati mereka untuk membuahkan kebesaran hati.


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar