Sabtu, 17 Agustus 2019

# Ario Rubbik # Film indonesia

Pasang Surut Karir Sutradara Film Versi Ario Rubbik

Siapa yang suka nonton film? Saya dong pastinya. Kali ini saya mau ngebahas tentang karir seorang sutradara yang cukup ternama. Namanya Ario Rubbik. Bagi yang belum kenal, gugling aja namanya sebagai keyword-nya ya.

Sebuah film nggak akan berjalan lancar kalau nggak ada sutradaranya. Ibarat mobil nggak ada supirnya, bisa nabrak nanti. Memang sih kesuksesan film itu hasil dari kerjasama semua orang yang terlibat, tapi arahan dan kendali ada di tangan sang sutradara.

Bicara tentang film, saya terima #tantanganKomik nih. Sebuah komunitas yang antusias dengan film, alhamdulilah saya salah satu pemenangnya. Tulisan ini saya copas di sini supaya ada konten baru atau taikin traffic (pengen juga dong tinggi traffic gue). Salah satu sutradara yang saya temui yaitu Ario Rubbik.


Mungkin nggak tahu yang mana orangnya, tapi kalau saya sebutkan karya filmnya pasti tahu. Menjadi sutradara dalam Satu Jam Saja, The Last Barongsai, Hijabers in Love. Script supervisor di film Radit Jani, Serigala Terakhir, Kuntilanak 1,2,3, serta Co Director di film Si Doel the Movie 1 & 2. Bocorannya dia sedang syuting Si Doel the Movie 3.

Film yang disutradarainya memang nggak masuk daftar box office movie Indonesia. Bagi dia itu nggak jadi masalah. Karena Ario Rubbik mendapatkan "keuntungan" lain yang bermakna dibalik semua karya filmnya. Bisa dibilang lebih dari sebuah materi.

Kenalan dulu yuk sama Ario Rubbik. Ia lulusan Fakultas Hukum Universitas Pancasila yang terjun di dunia perfilman Indonesia dari tahun 1999. Ia salah satu keluarga dari Karnos Film, tepatnya anak dari Rubby Karno dan keponakan Rano Karno.

Baca juga dong Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak


Sebelum jadi sutradara, ia pernah jadi pembantu umum, lighting, camera boy. Karirnya benar-benar dari nol. Kemudian ia sekolah lagi di Usmar Ismail, dari situ karirnya menanjak jadi asisten editor analog, assisten sutradara (Astrada) dan jadi sutradara.

Di usianya ke 32 tahun ia pernah bermimpi menjadi sutradara, akhirnya terwujud. Jadi sutradara itu nggak senikmat yang penonton lihat di filmnya. Kalau filmnya diapresiasi dengan baik, maka sutradara akan merasa dihargai.

Ario Rubbik pun melewati banyak belokan dari mimpinya itu. "Karena yang belok-belok itu jadi lebih nikmat," kata Ario. Sutradara nyentrik kelahiran Bogor tahun 1978 ini membagi pengalaman pasang surutnya selama menjadi sutradara. Bikin film itu "perangnya" di awal. Banyak hal yang mesti didiskusikan dengan crew dan pemainnya.

Film perdananya yaitu Satu Jam Saja (2010) yang dibintangi oleh Andhika Pratama, Vino G. Bastian dan Revalina S.Temat. Ia melalui banyak hal menggarap film ini. Mulai dari driver-nya mogok karena duit bensin belum dibayar, dll. Ario berusaha cari solusi dengan mereka. Dari situ dia belajar bahwa label sutradara dan crew sebatas cut & action.

Film Hijabers in Love (2014) dapat jumlah penonton 3000an, filmnya belum tayang eh, diboikot oleh ustad ternama. Filmnya nggak laku, tapi ada value lain yang ia dapat. Istrinya bisa berhijab atau hijrah dari hasil riset film tersebut. 

Allah nggak ngasih rejeki dari sini, tapi dari rejeki yang lain, tuturnya.


Film The Last Barongsai (2017) dapat penonton cuma 7900 an pada saat itu. The Last Barongsai pernah diminta tayang di Cina. Bahkan filmnya dijadikan tesis seorang mahasiswa yang mengejar-ngejarnya di suatu mall dan mengantarkannya sampai lulus kuliah. Meskipun filmnya nggak laku miliyaran , tapi ada value lain yang ia dapat.

Lalu, bagaimana menjadi sutradara? Banyak baca dan banyak nonton film. 2 hal itu yang beliau katakan.

Dari situ dampak atau insight apa yang didapat. Perang di awal yang dimaksud Ario Rubbik sebagai sutradara yaitu PERSIAPAN, mulai dari pengembangan skenario sama penulisnya, ketemu sama tim artistik, ketemu sama orang wadrobe, riset, reading sama pemainnya, dan masih banyak lagi.

 Berantemlah saat persiapan, ucapnya. 

Maksudnya tuh, semua dibahas dan didebatkan sebelum proses syutingnya dimulai. Karena tiap scene yang ditulis merupakan sebuah imajinasi si penulis, maka butuh kekompakan sama sutradara. Begitupun dengan artistik, rancangan desain-desainnya harus sesuai skenario dan konsep sutradara. Sutradara juga harus riset busana apa yang dipakai pemainnya saat syuting nanti. Ario Rubbik jadi paham juga tentang shading foundation. Hahaha... 

Pokoknya banyak perdebatan di sesi persiapan ini. Kasih kepercayaan sama crew, ibarat presiden percaya sama menteri-menterinya. Film itu sebuah kolaborasi yang berhubungan dengan banyak kepala. 

Boleh punya ego, tapi jangan ada -isme di belakangnya, jelasnya.

FYI, Ario Rubbik Army lho, suka BTS juga. Dia nggak suka K-Pop, tapi ia berusaha cari sesuatu dari yang ia nggak suka supaya kalau diserang dia punya pelurunya. Benar juga sih, kalau terlalu benci malah lama-lama jadi cinta kan.



Nggak cuma pasang surut jadi sutradara film aja yang dia alami, pasang surut kehidupan pun dia pernah lewati. Dia pernah jadi pemulung di Karawang selama 4 bulan. Dari situ dia jadi belajar cara hidup pemulung. Misalnya jadi tahu lagu yang sering didengar oleh pemulung itu lagu-lagunya Wali atau Kangen band. Saya terkejut sih pas dia bilang begitu. Nggak nyangka aja.

Saat dilokasi syuting nggak ada lagi perdebatan panjang. Semua sudah digeluti hal - hal yang ingin dilaksanakan nanti pas dilapangan. Ada plan A,B,C yang sudah dirancang saat persiapan. Kalau sudah matang, nggak ada lagi berantem di lapangan. Buat timeline supaya punya standar pembuatan film. Syuting itu tinggal eksekusinya.

Kalau ada kendala gimana? Biasanya karena faktor alam sih. Kalau hujan ya harus nunggu sampai reda. Estimasi toleransi waktu maksimal sampai 3 jam, jika lebih dari itu maka ditunda syutingnya. 

Baca juga nih Preman Pensiun Versi Layar Lebar

Kalau film kita nggak laku atau nggak menang, jangan salahkan siapa pun. Tapi nikmati saja prosesnya. Butuh komitmen, pilih tim yang harus sejalan bukan karena pertemanan. Bangun silaturahmi dari jauh-jauh hari sama pemain atau crew yang mau diajak gabung. Jangan belajar dari satu senias film saja. Attitude tetap harus dijaga. Nggak cuma sutradara aja sih, berlaku buat pekerjaan apapun.

Jadi mau serius jadi sutradra, pelajari semua tentang film, cintai film, dan yakini diri untuk jadi sutradara. Sebagai penonton sepantasnya kita menghargai karya produksi kreatif dari para sineas. Sutradara yang berhasil, tidak luput dari kerja keras timnya. Bagi Ario Rubbik keberhasilan sebuah film bukan hanya dari besarnya jumlah penonton, tapi juga ada nilai-nilai yang lebih dari materi.

Masih yakin mau jadi sutradara? Siap hadapi pasang surutnya?


***

16 komentar:

  1. Sesuatu yang di mulai dari nol hasilnya emang gak akan mengecewakan ya.. keren banget mas Ario.

    BalasHapus
  2. Pastinya kalo jadi sutradara dan penulis skenario dll tuh kudu brilian, kreatif, tahan banting, punya leadership tinggi dan paham selera pasar.
    https://bukanbocahbiasa(dot)com

    BalasHapus
  3. Salut ya sama perjalanan karirnya dan udah juga nonton bbrp film arahannya bagus jeli ambil shoot dn tema filmya

    BalasHapus
  4. klo dari nama langsung memng tidak terlalu familiar tapi klo disebut nama film-filmnya saya tau mba he he

    BalasHapus
  5. Wah salut sama masnya, walau dari keluarga yang gak asing sama dunia perfilman tapi tetep mulai dr 0 ya.
    Btw aku suka nih sutradara yang idealis kyk gini, kyknya bener2 cinta bikin film yg gak sekadar meraup keuntungan semata ya...

    BalasHapus
  6. Banyak sutradara sukses yg memulai karirnya dari nol. Dari bukan siapa2 di industri film. Dan saya yakin ario juga akan sukses.

    BalasHapus
  7. Aku nonton nih beberapa film Ari rubbik, tapi baru tahu orangnya yang ini. Perjalanan hidup seseorang apapun profesinya memang selalu ada pasang surut sih menurutku. Namun beliau udah memiliki karya yang keren, seperti The Last Barongsai, aku nonton filmya. Bagus loh, mengapa kurang laku ya

    BalasHapus
  8. Kadang nggak bisa bayangin profesi sutradara yang luar biasa deh dari cerita dan pilih angle tempat dan pemain. Hasil akhir memang tergantung sikon pasar ya

    BalasHapus
  9. kalau aku memang ga pernah sama sekali kepikiran mau jadi sutradara. dah yakin duluan kalau itu susah dan banyak tantangannya haha

    BalasHapus
  10. Kalau lihat orang-orang dibelakang layar sebuah film kayaknya seru banget..dulu udah terlanjur cinta sama radio, jadi nggak tertarik ke televisi..giliran sekarang malah pengen

    BalasHapus
  11. loh dia yang bkin film last barongsai?,, baru tau gue mba.. banyak film dia yang gue tonton

    BalasHapus
  12. wah sharingnnya bagus, cocok diterapkan buat yang bercita2 menjadi sutradara

    BalasHapus
  13. Sharingnya bermanfaat sekali nih apalagi dibaca oleh para calon sutradara ya, karena hidup bukan sekedar cut and action saja ya

    BalasHapus
  14. Profil yang menarik kak.. sutradara juga mengalami pasang surut ya..sama dengan profesi lainnya.. Tapi Ario sukses melaluinya ya

    BalasHapus
  15. Hijabers in love itu dia yang bikin yaa. Jadi filmaker memang harus mental baja, nggak cuma kerjaan berat, honornya juga nggak pasti, wkwkw.. Tapi sutradara mas Ario keren ya, udah bikin film islami. Salutttt...

    BalasHapus
  16. Aku yakin banget profesi sutradara ini memang kunci suksesnya sebuah film.
    Hebatnya, setiap karya memiliki value.
    Ini penting daripada hanya profit yang besar tapi dampaknya terhadap penonton "merusak".

    BalasHapus