Jumat, 10 November 2017

# Film indonesia # Review film

Kesadisan Marsha Timothy Dalam Film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak

Beberapa bulan lalu perfilman Indonesia riuh dengan genre film horor. Hal ini berkaitan dengan menyambut suasana Halloween. Bahkan satu film horor Indonesia sukses meraih sekitar 4 juta penonton. Wow, penonton masih suka yang serem-serem ya. Suasana Halloween sudah lewat saatnya berganti genre film Indonesia lainnya. Saya paling antusias banget kalau nonton film Indonesia yang bagus dan berbeda dari lainnya. Bukan hanya pemainnya, tapi juga segala elemen pendukungnya. 

Kamis sore (9 Nov 2017) saya mendapatkan kesempatan nonton perdana dalam gala premier film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (Marlina The Murderer In Four Acts) di XXI Plaza Indonesia. Saya nonton pada show pertama bersamaan dengan undangan media. Saya pun bisa hadir di gala premier ini karena menang kuis dari instagram @cinesurya selaku rumah produksinya. Memang sudah saya incer dari jauh hari kalau ada kuisnya saya mau ikutan. Eh rejeki anak soleh dapet juga tiketnya. Thanks mimin...😊

Di red carpet gala premiere

Studio 2 full house oleh para undangan. Saya dapat duduk di row A nomor 18. Row paling atas tapi untungnya nggak dipojok. Iseng juga kan. Lumayan lama nunggu filmnya mulai, ditambah banyak iklan sponsor. Tapi tetep semangat nunggu film ini. Setelah sambutan dari MC, barulah lampu-lampu dimatikan and show time...

Kalau saya jabarin semuanya kan jadi spoiler ya. Jadi saya cuma jelasin film ini setengah-setengah, biar bikin penasaran kalian untuk nonton dong. Menceritakan seorang janda dari pulau Sumba yang rumahnya didatangi sekawanan perampok. Film ini dibagi menjadi empat babak atau bagian yang memiliki judul babak berbeda, tapi ceritanya masih ada keterkaitan dari babak pertama hingga ke empat. Marlina tengah dirundung duka akibat suami dan anaknya meninggal. Bukan ketenangan yang ia dapat, tapi malah ia mendapatkan tamu tak diundang. Semua babak berawal dari rumah Marlina. Ia pun membunuh semua kawanan perampok dan salah satu ketua perampok bernama Markus dipenggal kepalanya saat memerkosa Marlina.


Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak akhirnya pulang ke Indonesia setelah melewati banyak festival film di beberapa negara seperti festival film internasional Cannes,  festival film internasional Toronto, festival film Maroko, festival film internasional Bussan, festival film internasional Melbourne Australia, Sitges festival film di Catalonia yang memberikan penghargaan kepada Marsha Timothy sebagai best actress. Prestasi yang membanggakan pastinya. Film belum tayang di negeri sendiri, tapi apresiasi dari banyak negara sudah diakui.

Bersama Marsha Timothy, pemeran Marlina

Selama menonton film ini mata penonton dimanjakan oleh bentangan pemandangan bukit savana warna kuning keemasan karena musim kemarau. Jalanan berliku dan berbatu yang hanya bisa dilewati truk, kuda atau motor rx king. Mungkin kalau mobil alphard yang lewat bisa lecet-lecet bodynya, apalagi kalau belum lunas cicilan, hehehe...Keindahan alam Sumba ditunjukkan secara sederhana. Tidak ada kebisingan suara-suara disekitar. Bayangin aja ya Marlina tinggal di rumah yang jauh dari tetangga, sekalipun ada bisa 1 km jaraknya. Sekitar rumah hanya ada binatang ternak dan sebuah kuburan. Kuburan siapa? Nonton aja nanti filmnya ya.

Selama kurang lebih 1 jam 30 menit saya menonton film ini penuh ketegangan. Beberapa adegan atau scene bikin saya tahan nafas. Karena adegannya benar-benar mengejutkan. Apalagi adegan yang bagi saya itu paling ekstrem, penggal kepala. Hmm... saya jadi berfikir, mungkin nggak ya perampok sekaligus pemerkosa sebenarnya di Indonesia bisa dihukum seperti itu? Nggak ada tawar menawar atau naik banding di pengadilan lagi. Tapi Indonesia adalah negara hukum, segala sesuatu ada prosedurnya.

Para pemain dan sutradara saat press conference 
usai screening

Usai menonton, para pemain yaitu Marsha Timothy, Dea Panendra dan Yoga Pratama juga sutradara Mouly Surya hadir untuk bertemu dengan para penonton undangan. Salah satu suksesnya sebuah film adalah minat masyarakat untuk menonton sebuah film. Bagi Mouly Surya tidak ada target jumlah penonton yang diinginkan. Ia ingin penonton untuk mencoba menonton film yang keluar dari zona nyamannya. Bagi yang suka nonton drama, komedi atau horor coba nonton film yang bergenre satay western. Dikategorikan menjadi genre ini karena elemen-elemen yang ada dalam film ini menggambarkan genre tersebut, seperti jagoan yang berjuang sendiri, lokasi yang jauh dari mana-mana, ada jarak dengan aparat serta minimnya orang-orang di daerah sekitar.

Film berawal dari ide dan premisnya Garin Nugroho lalu dikembangkan secara apik oleh Mouly Surya. Garin Nugroho memberikan cerita tentang wanita Sumba, padahal Mouly belum pernah mengunjungi Indonesia bagian timur, jadi ia belum memiliki gambaran tentang pembuatan film ini. Film yang digarap olehnya selama 2 tahun (dari 2015) melalui riset dan mendapatkan pencerahan setelah berkunjung ke Sumba barat dan timur. Pastinya juga dibantu oleh komunitas lokal. Marsha Timothy juga mengikuti workshop selama 3 bulan untuk mendalami dialek Sumba.

Official poster

Saya suka banget sama sinematographi dan scoringnya yang sederhana tapi menegankan. Tidak terlalu banyak iringan musik yang mewakili tiap scene. Pada bagian-bagian menegangkan musik semakin kencang yang membuat ketegangan makin terasa. Gambaran hidup Marlina dalam film ini menampakkan bagaimana perjuangan seorang wanita yang diperlakukan semena-mena oleh lelaki nakal. Sosok Marlina seperti fenomena gunung es yang muncul ke permukaan saat ada banyak wanita di Indonesia bahkan di dunia yang mendapatkan perlakuan yang sama. Marlina dalam film ini hanyalah fiksi, tapi banyak diluar sana sesungguhnya "Marlina" yang bernasib sama.

Rasanya masih kurang puas nonton sekali film ini. Sampai saat ini saya masih teringat sup ayam yang dibuat Marlina untuk kawanan perampok. Ada apa dengan sup ayamnya? Nonton aja filmnya tanggal 19 November 2017 di seluruh bioskop. Sempatkan waktu kalian untuk menonton film yang berbeda dari biasanya. Beberapa teman ada yang tidak mau menonton film ini karena membaca status facebook saya dengan membaca judulnya saja. Plis deh, be smart audience. Nonton film berkualitas yang sudah diakui dunia. Pasti akan membawa pulang kesan yang beda setelah menontonnya.

Siapkan diri kalian untuk menonton kesadisan Marsha Timothy dalam film ini. Yang punya sakit asma, jangan tahan nafas lama-lama nanti kambuh lagi asmanya, yang punya sakit jantung jangan nonton deh. Pokoknya tiap babaknya menampilkan ketegangan yang berbeda. Original soundtrack yang melantun indah berjudul "Lazuardi" oleh Cholil Ahmad. Perlu diingatkan lagi nih, film ini untuk usia 18+, pastikan nggak bawa anak kecil kalau mau nonton. Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak, kembali ke tanah air untuk mendapatkan keadilan.


Official trailer






Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak
Marlina The Murderer in Four Acts 



Produksi
Cinesurya 
Kaninga Pictures



Sutradara
Mouly Surya



Pemain
Marsha Timothy
Dea Panendra
Yoga Pratama
Egi Fedly





Tidak ada komentar:

Posting Komentar