Minggu, 09 Desember 2018

# HIV AIDS # Kesehatan

Orang Dengan HIV AIDS Bisa Diobati

Wanita bertubuh kurus itu namanya Neneng Yuliani. Ia adalah Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) sudah 15 tahun lamanya karena terinfeksi dari sang suami. Pada saat ia mengetahui bahwa terinfeksi HIV AIDS sekitar tahun 2001, ia sedang mengandung 4 bulan. Perasaannya hancur, bingung, sedih karena tak tahu harus berbuat apa. Dipikirannya yang ada adalah kematian. Seperti malaikat mau dekat sekali dengannya. Selang setahun kemudian suaminya meninggal dunia akibat HIV AIDS. Namun, Bu Neneng Yuliani sekarang bisa sembuh dan masih bertemu dengan saya seperti difoto ini. Bahkan ia memiliki 3 orang anak dengan status negatif HIV AIDS. Kok bisa? Bisa dong karena HIV AIDS ada obatnya.

Saya berani dekat sama ODHA


Pengertian HIV AIDS


Tiap tanggal 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. Dilambangkan oleh pita berwarna merah dengan bentuk huruf V terbalik. Arti V dari lambang tersebut adalah Victory atau kemenangan. Namun, bagi pengidap HIV AIDS tidak ada kemenangan melawan virus yang menyerang kekebalan tubuh ini. HIV AIDS masih menjadi penyakit yang menakutkan bagi masyarakat. Hal ini dikarenakan tidak ada penyebaran sosialisasi yang merata tentang HIV AIDS. Oleh karena itu, Kementrian Kesehatan RI mengadakan temu blogger di Ruang Rapat Germas pada tanggal 5 Desember 2018.

HIV adalah (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus yang terdapat dalam tubuh manusia dan menyebabkan turunnya kekebalan tubuh, sehingga tubuh tidak mampu lagi melindungi dari berbagai penyakit lain yang menyertainya (infeksi oportunistik). 

Sedangkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Deficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala dan tanda fisik (infeksi oportunistik) karena penurunan kekebalan tubuh akibat tertular virus HIV dari yang lain.

Infeksi opotoportunistik sendiri artinya infeksi yang umumnya tidak berbahaya pada orang dengan tubuh normal namun dapat berakibat fatal pada ODHA karena sistem kekebalan tubuhnya lemah.

HIV terdapat di dalam darah dan cairan lainnya seperti sperma, cairan vagina dan air susu ibu (ASI). HIV menyerang kekebalan tubuh tepatnya pada sel darah putih (limfosit) sehingga kekebalan tubuh menurun. Memiliki kemampuan untuk memperbanyak diri dalam tubuh manusia. Virus HIV diibaratkan mesin photocopy, tiap ada sel baru, virus ini akan mencetak dirinya atau memperbanyak. Makanya butuh obat yang bisa menghancurkan si mesin photocopy itu.

kiri-kanan : Moderator, dr.Wiendra Waworuntu, Neneng Yuliani

Dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes menjelaskan bahwa virus HIV TIDAK MENULAR, ingat ya itu. Penularannya sangat terbatas sekali melalui :

  • Hubungan seksual dengan orang yang telah terinfeksi HIV. Peluang penularan semakin besar jika bergonta-ganti pasangan tanpa menggunakan kondom. Tindakan seksual dapat berupa seks oral (mulut), vaginal dan anal (dubur).
  • Menggunakan jarum suntik, alat tindik, alat tato bersamaan.
  • Transfusi darah dan produk darah lainnya yang terkontaminasi HIV. Makanya perlu skrining darah saat donor.
  • Ibu hamil yang terinfeksi HIV ke bayi yang dikandung. Penularan dapat terjadi selama kehamilan,melahirkan dan menyusui. 

Kebanyakan orang masih takut berdekatan dengan ODHA. Takut melakukan atau memakai sesuatu secara bersamaan. HIV AIDS tidak menular melalui ciuman, pelukan, penggunaan WC bersama, sentuhan, alat makan, gigitan nyamuk, tinggal serumah, berenang bersama, keringat atau bertukar pakaian. 

Lalu, bagaimana cara mencegah penularan HIV AIDS? Sebenarnya mudah ya kalau ditaati pencegahannya. Ikuti saja pencegahan ini :

  • A : Abstinence - tidak melakukan hubungan seksual berisiko.
  • B : Be faithful - bersikap saling setia dengan pasangan.
  • C : Use Condom - melakukan hubungan seksual selalu pakai Condom  secara benar dan konsisten.
  • D : No Drug -  menghindari penggunaan jarum suntik tidak steril secara bergantian.
  • E  : Education - mencari informasi HIV AIDS yang tepat dan benar diperoleh dari layanan kesehatan. 

ODHA itu kan tidak kelihatan sakitnya ya kalau belum muncul gejala. Cuma bisa dilihat sih dari kondisi fisiknya juga. Namun tidak bisa menebak orang yang kurus atau gemuk itu pengidap HIV AIDS sebelum pemeriksaan darah atau tes HIV di layanan kesehatan. Setiap orang yang mempunyai risiko terinfeksi HIV dianjurkan melakukan tes HIV untuk mengetahui statusnya.

Pengobatan HIV AIDS


Saya mungkin termasuk satu dari beberapa orang yang hadir di temu blogger ini yang belum tahu pengobatan HIV AIDS. Saya masih beranggapan bahwa penyakit ini tidak ada obatnya yang akan berujung pada kematian. I was so lucky that day, bisa tahu infonya langsung dari narasumber terpercaya. Saat Bu Neneng dipanggil oleh dr. Wiendra dengan sebutan ODHA dan ia maju ke depan, saya sedikit terpana. Keadaannya tidak seperti orang sedang sakit saja. Namun terlihat tubuhnya kurus,bahkan lebih kurus dari saya.

Menurut pengakuan Bu Neneng, ia sudah minum obat dengan terapi Anti Retroviral (ARV) sejak tahun 2001 setelah ketahuan ia terinfeksi HIV AIDS. Ada beberapa obat yang ia konsumsi. Memang jaman awal tahun 2000an harga obat ini sangat mahal. Bisa mencapai Rp 1juta. Sekarang obat tersebut diberikan gratis oleh pemerintah. Jangan mentang-mentang gratis terus pada penyakit HIV AIDS ya.

Obat Antiretroviral
Sumber foto disini

ARV adalah obat bagi ODHA  untuk mengendalikan pertumbuhan jumlah HIV dalam tubuh agar tidak terkena infeksi oportunistik sehingga bisa hidup lebih sehat. ARV dikonsumsi seumur hidup sehingga penting menjaga kedisiplinan minum obat. Pastinya ARV yang diberikan sesuai dengan petunjuk dokter ya. Obat yang Bu Neneng minum tiap 12 jam sekali, misal minum jam 9 pagi, maka minum obat lagi jam 9 malam. Ada juga yang tentang waktunya 24 jam yaitu obat kombinasi dosis berisi Tenofovir, Lamifudin, dan Efavirens (TDF, 3TC, EFV) yang dikemas dalam 1 tablet, 1 kali sehari, pada waktu yang sama. Sayangnya saat itu Bu Neneng tidak membawa obatnya, jadi saya tidak lihat rupanya seperti apa.

Sebenarnya pengidap HIV AIDS sama seperti penyakit kronis lainnya seperti hipertensi,  diabetes melitus, kolesterol yang harus minum obat tiap hari dan tepat waktu supaya bisa meningkatkan kualitas hidupnya dan dapat mencegah penularan.

AIDS dapat terjadi 5-10 tahun sejak sudah terinfeksi HIV, jika tidak segera diobati. Dengan meminum obat ARV bisa menekan jumlah virus dalam darah menjadi sangat rendah (viral load) sehingga tidak dapat menularkan HIV kepada orang lain.

Beberapa fakta membuktikan bahwa ODHA jika tidak diobati maka kekebalan tubuhnya akan menurun dan rentan terhadap penyakit seperti tuberkulosis (TBC), pneumonia pneumocystis (PCP), toksoplasma dan kriptokokus, 30 kali lebih besar berisiko berpenyakit TBC dibandingkan orang yang tidak terinfeksi HIV AIDS, dan fatalnya lebih dari 25% kematian pada ODHA disebabkan oleh TBC.  Untuk mendapatkan Paket Pengobatan Lengkap bisa berkonsultasi dengan dokter atau petugas kesehatan.


Upaya Percepatan Target 3 Zero 


Dari tahun 2012 sampai 2018 progress respon Kementrian Kesehatan RI terus meningkat. Hal ini bisa dilihat dari upaya percepatan pencapaian target HIV AIDS. Kementrian Kesehatan RI memiliki program bernama STOP. Ini bukan lirik lagu dangdut ya. STOP artinya :
  • S : Suluh artinya masyarakat paham HIV
  • T : Temukan artinya 90% ODHA tahu                    statusnya
  • O : Obati artinya 90% ODHA mendapatkan         ARV
  • P : Pertahankan artinya 90% ODHA yang           ARV nya tidak terdeteksi virus 

Upaya lainnya 3 Zero target 2030 yaitu Zero New HIV Infection, 3 Zero AIDS related death, dan 3 Zero discrimination. 


Propinsi Papua rawan HIV AIDS

Sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1987 sampai saat ini telah tersebar di Indonesia. Propinsi paling banyak kuotanya adalah Papua. Data terakhir yang Kementrian Kesehatan RI miliki sampai bulan Juni 2018, jumlah kasus baru HIV di Indonesia adalah 301.959 orang (47% dari estimasi ODHA) dan jumlah AIDS 108.829. Samapai saatini ODHA yang mendapat pengobatan ARV sebanyak 65.826 orang (semakin bertambah tahun bisa meningkat atau menurun jumlahnya).

STOP tidak hanya berlaku bagi pengidap HIV AIDS, tapai juga berlaku terhadap masyarakat luas. Mereka harus benar -benar diberitahu bagaimana menghadapi ODHA dan pencegahan HIV AIDS. STOP bagi masyarakat sekitar untuk mendiskriminasi para ODHA karena juga layak hidup produktif seperti orang sehat lainnya.

Momen STOP Penularan HIV
Sumber gambar Kementrian Kesehatan

STOP  dalam peran mansyarakat dan pengendalian HIV AIDS  yaitu Suluh (Pencegahan) mengedukasi kesehatan reproduksi di sekolah-sekolah. Biasanya SMP sudah bisa diberikan, menganjurkan hidup sehat dan merubah paradigma baru mengenai HIV AIDS. Temukan (Penemunya kasus) lakukan tes HIV dan jika sudah diketahui ada yang terinfeksi HIV AIDS segera dijangkau lebih jauh lagi. Obati (Pengobatan) obati dengan ARV yang disediakan gratis oleh pemerintah. Pendampingan  perlu dilakukan terhadap ODHA, terutama dari keluarga. Memastikan kepatuhan ODHA untuk minum obat secara teratur.

Jadi, kalau ada orang yang bilang penyakit HIV AIDS tidak ada obatnya salah besar. Edukasi dan sosialisasi tetapi ARV ini memang tidak begitu terdengar kencang. Maka itu sebagai warga yang peduli akan informasi penting tentang kesehatan, saya harus menyebarkan kabar ini. Pengidap HIV AIDS bisa hidup berkualitas dan sehat jika rutin minum obat. Ada obat ada jalan. Kita sebagai masyarakat hanya bisa menjadi pengingat mereka untuk minum obat dan penyemangat hidup. Jangan takut lagi ya dengan ODHA, buktikan #SayaBeraniSayaSehat.



***

10 komentar:

  1. Odha butuh pendampingan dan disiplin dalam pengobatan minum antivirusnya, suka kasian kalau ada bayi yang tertular dari ibunya yang salahnya adalah bapaknya yang bawa penyakitnya..

    BalasHapus
  2. Stigma yg disandang penderita aids HIV msih sangat kuat pdhl mereka bs diobati jd memamg sebaiknya kita mendampingi

    BalasHapus
  3. Jangan pernah takut ya berteman dengan ODHA. Karena mereka juga nggak tahu kalau tertular

    BalasHapus
  4. Waaahhh, ini info yg menarik banget! Semoga bisa jd jawaban utk para survivor AIDS ya
    Kindly visit my blog: bukanbocahbiasa(dot)com

    BalasHapus
  5. Ya mereka juga bisa hidup sehat dengan arv ini jadi mereka tetap bisa beraktivitas sama seperti yang sehat

    BalasHapus
  6. iyah, selain bisa diobati, mereka juga butuh support untuk bisa diterrima di masyarakat ya Mba biar bisa kuat lagi

    BalasHapus
  7. Dulu pikiranku juga gitu mba.. kalo HIV tuch deket ngomong aja bisa nular ternyata gk ya.. perlu d support Dan utk Kita pola hidup sehat

    BalasHapus
  8. Bisa sembub, kuncinya disiplin minum obat, semangat juang yang tinggi dan dukungan dari orang2 sekitar ODHA

    BalasHapus
  9. Emang masih melekat ya stigma negatif pada ODHA ini, padahal mereka sebenarnya butuh support butuh disemangati juga

    BalasHapus
  10. Informasi seperti ini mesti di sebarkan lebih luas, agar ada pemahaman dan tidak salah kaprah
    Sering banget saya mendengar odha terkucilkan dari lingkungannya padahal penyakit itu ada blm tentu karna kesalahannya seperti Bu Neneng yg tertular tanpa disadari dari almarhum suaminya

    BalasHapus