Selasa, 11 September 2018

# #ibuberbagibijak # kelola keuangan

Belum Bijak Kelola Keuangan Rumah Tangga dan Usaha Sendiri? Cari Tahunya Caranya Disini

Gaji 1 juta habisnya tanggal 1, gaji 5 juta habisnya tanggal 5 atau gaji 10 juta habisnya tanggal 10. Terus saja begitu perhitungan gaji tiap bulan. Saya pernah dengar ada yang bilang begitu. Itu hanya perumpamaan saja. Artinya berapapun besar nominal gaji seseorang kalau tidak dikelola dengan baik, maka apa yang mau disimpan? Khususnya buat emak-emak nih yang dinobatkan sebagai menteri keuangan harus pintar dan bijak mengatur keuangan rumah tangga. Tepat sekali saya bisa hadir di workshop #IbuBerbagiBijak Bijak Kelola Keuangan, Kunci Keluarga dan Masa Depan Sejahtera bertempat di RPTRA Ciganjur Berseri Jakarta Selatan.




Baru pertama kali datang ke daerah Ciganjur. Lingkungannya nyaman dan bersih. Saya bersama teman - teman blogger antusias sekali mengikuti workshop ini yang sudah diadakan selama 1 tahun. Kampanye #IbuBerbagiBijak di tahun kedua ini diluncurkan oleh Visa, sebuah program literasi keuangan yang digelar dalam rangka mengedukasi dan mendorong para perempuan untuk berbagi  pengetahuan seputar literasi keuangan. Program yang telah berkolaborasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini telah menjangkau lebih dari 200.000 perempuan di seluruh Indonesia. 

Workshop yang saya ikuti kali ini menghadirkan pakar finansial ternama yaitu Prita Hapsari Ghozie untuk mengajarkan para perempuan Indonesia agar mampu mengelola keuangan dengan bijak dan mendatangkan salah satu womenprenuer yang punya bisnis kue brownies yaitu Gladies Rahman

Prita Ghozie 
Saat sesi workshop


Coba cek dompet ibu-ibu dulu, ada lembar bergambar gedung MPR atau gambar pahlawan MH.Thamrin? Kalau kebanyakan gambar yang kedua diawal bulan begini tandanya ibu harus cek kesehatan keuangan. Jangan cuma badan saja yang dicek, isi dompet juga harus dicek. Nah, mbak Prita memberikan penjelasan yang mudah agar bisa kelola keuangan dengan bijak. 

1. Financial Check Up
Proses menimbang dan mengukur isi dompet kita dengan cara memiliki buku catatan keuangan layaknya buku kesehatan anak. Kalau mau nimbang berat badan anak ke posyandu atau puskesmas pasti yang dibawa buku warna pink itu kan sebagai catatan riwayat kesehatan anak. Begitupun dengan menjaga kesehatan keuangan kita. 

Kalau di buku mba Prita Ghozie berjudul Make It Happen ada 8 indikator sehat finansial yaitu punya dana darurat, mampu mengelola utang, punya rumah tinggal, punya dana pendidikan, punya tabungan hari tua, mampu mengendalikan gaya hidup, punya asuransi, tahu portofolio keungan keluarga.

Siapa yang punya utang atau cicilan? Pastikan cicilan itu tidak lebih dari 30%. Biaya hidup minimal setengah dari penghasilan atau 50%. Punya dana darurat itu penting lho, buat jaga-jaga kalau tulang punggung keluarga tidak bekerja lagi karena sakit misalnya. Minimal 3x lipat dari pengeluaran rutin. Misalnya tiap bulan 1 juta, maka 3 juta untuk dana darurat. Harus punya tabungan, misalnya buat mudik tahun depan.

Sudah bijak belum kelola keuangan? 


2. Mengelola Arus Kas
Kayaknya peribahasa besar pasak daripada tiang nggak berlaku deh kalau sudah bijak kelola keuangannya. Bukan berapa banyak uang yang dipakai, tapi berapa banyak yang disimpan. Setelah menerima gajian alokasikan uang dengan pembagian sebagai berikut :

Zakat 5% = memberikan kembali kepada komunitas.
Assurance (jaminan) 10% = melindungi keluarga untuk hal tak terduga.
Present Consumption 30% = menyisihkan dana untuk kebutuhan hidup bulan ini.
Future spending = menabung untuk rencana-rencana cantik di beberapa tahun mendatang
Investment 15% = untuk masa depan pensiun yng cantik,gaya dan tetap kaya
Cicilan utang 30% 
Gaya hidup 15% 


3. Merencanakan Keuangan
Mau punya rumah, apartemen, liburan atau usaha apapun harus direncanakan keuangannya. Jangan sampai meminjam ke orang lain. Misal mau liburan uangnya hasil dari minjam, alhasil pulang liburan bukannya merasa senang malah mumet mikirin tagihan utang.



Mau punya penghasilan tambahan? Tenang bisa kok. Mba Prita memberikan tipsnya nih :

  1. Bekerja secara aktif 
  2. Menjadi investor
  3. Menjadi Womanpreneur

Tantangan yang sering dihadapi seseorang jika ingin menjadi womanpreneur pasti banyak. Ada 3 hal yang disimpulkan oleh mba Prita yaitu
  • Mau usaha apa, sesuaikan dengan hobi atau passion kita, ada target pasarnya,bisa menyesuaikan jam kerja. Jangan harap sih kalau jadi pengusaha jam kerja bisa 9 to 5 ya.
  • Untung VS rugi, pisahkan keuangan pribadi dengan penghasilan usaha, modal investasi
  • Pertimbangan lain, seperti pilih usaha sendiri atau join dengan teman atau kerabat. Tentukan modal dari mana, modal sendiri atau pinjam. Kalau baru memulai bisnis usahakan modalnya dari hasil tabungan sendiri.


Kelola Keuangan a la Womanpreneur 


Sharing siang itu menghadirkan Gladies Rahman. Seorang womanpeneur yang sukses membuat bisnis kue brownies panggang. Coba cek Instagram @dapurgladies. Saat acara berlangsung, tiap peserta dibagikan sampel brownies ya lho. Rasanya enak banget. Sayangnya cuma sepotong 😀.


Gladies Rahman
Owner brownies @dapurgladies

Bisnis kue brownies ini berawal dari ia sering melihat ibunya menjual aneka makanan. Kemudian dia sekolah jurusan tata boga di universitas di Bandung. Setelah lulus ia mencoba membuat kue brownies. Awalnya bikin dan jual sedikit. Melihat hasil yang cukup memuaskan ia melebarkan sayap usahanya Drai Bandung ke Jakarta.

Dapur Gladies baru berdiri sekitar 5 tahun. Alhamdulillah usahanya lancar terus. Karena usaha yang dibangun oleh mba Gladies berasal dari passionnya. Banyak tantangan yang dihadapi selama berbisnis kue ini. Mulai dari harga bahan baku yang naik turun, produk kompetitor yang serupa. Namun brownies Dapur Gladies tetap bertahan karena resep rahasia yang dimiliki. Maka rasanya nggak pernah berubah dari dulu hingga sekarang.

Sampel brownies yang diberikan

Bagaimana mengelola keuangan hasil dari berbisnis sendiri? Banyak godaan pastinya saat usaha membawa keuntungan. Maka hal yang mba Gladies lakukan dalam mengelola keuangan dari hasil usahanya yaitu memisahkan rekening pribadi dan usaha. Tujuannya agar tahu untung atau ruginya usaha tersebut. Bahkan 3 bulan pertama memulai usaha, mba Gladies nggak dapat upah gajinya sendiri lho. Sekarang browniesnya mba Gladies bisa dibilang sukses dan menguntungkan. Jakarta dan Bandung sudah menjadi dua kota besar andalan browniesnya.

Bagaimana sudah paham kan mengatur keuangan dalam rumah tangga dan berbisnis?  Intinya harus pintar memposkan uang penghasilan sesuai arus kas. Semoga makin bijak kelola keuangan ya ibu. Info lengkap mengenai tips keuangan bisa follow akun Instagram @ibuberbagibijak



****



22 komentar:

  1. Aku sangat bahagia kalau di dompet selalu berbaris Uang dengan gambar Soekarno Hatta. Mengelola keuangan, terutama buat perempuan memang penting banget. Biar gaji nggak habis seperti tanggal kalender, hahaha. Financial Check Up, Mengelola Arus Kas, dan Merencanakan Keuangan harus bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    BalasHapus
  2. Ada zakatnya disisihkan 5% bagi Bunda ini sangat Amaging . . . waach keren ya Prita Gozie banyak kelilingJawa

    BalasHapus
  3. Bijak dalam kelola keuangan keluarga harus bisa dilakukan oleh ibu rumah tangga agar kualitas finansial bisa terjaga.

    BalasHapus
  4. present consumption 30% dimulai dari belanja di pasar ketimbang di swalayan :D

    BalasHapus
  5. suka banget sama ilmu dari #IbuBerbagiBijak benar2 manfaat dan bisa di aplikasikan agar financial rumah tangga terjamin keamanannnya.. makasih mbak sharingnya

    BalasHapus
  6. Ibu Berbagi Bijak ini ilmu literasi keuangannya bermanfaat banget. Soalnya udah sering ikut. Membuat saya semakin semangat mengatur keuangan

    BalasHapus
  7. Kalau udah ketemu financial planner ke baca deh bagaimana cara penggelolaan keuangan kita ya. Hahaha

    BalasHapus
  8. Bagian yang ini mau aku cetak deh, buat ngingetin diri sendiri:

    Zakat 5% = memberikan kembali kepada komunitas.
    Assurance (jaminan) 10% = melindungi keluarga untuk hal tak terduga.
    Present Consumption 30% = menyisihkan dana untuk kebutuhan hidup bulan ini.
    Future spending = menabung untuk rencana-rencana cantik di beberapa tahun mendatang
    Investment 15% = untuk masa depan pensiun yng cantik,gaya dan tetap kaya
    Cicilan utang 30%
    Gaya hidup 15%

    BalasHapus
  9. Aku ni apa nggak bijak ya, sisa uang belanja kutabung semua wkwk.. ga kepikiran buat jajan apa belanja belinji 😵😵

    BalasHapus
  10. Investasi nih yang aku masih bingung mikirinnya. Huhu.

    BalasHapus
  11. Tutup mata aaahhh klo udah ngomongin perencanaan keuangan atau pengelolaan keuangan. Sereeeemm... hahaha

    BalasHapus
  12. Punya usaha tidak langsung dapat untung. Butuh proses dan akhirnya laris manis.

    Mengatur keuangan antara bisnis dan rumah tangga perlu komitmen untuk tidak mencampur adukan keduanya

    BalasHapus
  13. wa ini yang sering kelupaan, zakat itu perlu dimasukkan ke dalam bujet juga. Makasih rul sharingnya

    BalasHapus
  14. Menjadi Perencanaan keuangan penting agar bisa mengelola keuangan keluarga

    BalasHapus
  15. pulang dari acara makin pede ngatur keuangan dong ya Rul, sukur2 langsung bisa buka usaha :)

    BalasHapus
  16. Aku belum menjadi menteri keuangan yang baik untuk keluarga. Semoga setelah baca artikel ini aku bisa memisahkan uang berdasarkan kebutuhan nya

    BalasHapus
  17. kalau buat bapak2 gimana mama sagara?? aku juga mau donk merencanakan keuangan

    BalasHapus
  18. Aku selalu suka nih kalau ada mbak Prita Ghozie, karena masih perlu banget belajar untuk mengelola keuangan apalagi baru tau nih kalau dana darurat ternyata harus 30% dari pendapatan bulanan.

    BalasHapus
  19. Kesalahan yg paling sering terjadi adalah mencampuraduk semua keuangan baik itu utk usaha maupun kebutuhan sehari hari

    BalasHapus
  20. Pengen belajar lebih dalem nih kelola keuangan. Soalnya kadangbkok gak pas ya.

    BalasHapus
  21. Sudah pernah mencoba mengatur keuangan, sayangnya waktu pemasukannya itu gak barengan sehingga dana yang ada kalau di pos-poskan gak mencukup :D

    BalasHapus
  22. Aku usaha sampingan apa ya biar bisa dapat pemasukan lebih , harus pintar lihalihat peluang dan atur keuangan agar gak besar pasak dr pd tiang nih

    BalasHapus