Kamis, 23 Juni 2016

# Film Dokumenter # Gajah

"Save Our Forest Giants" - Film Dokumenter Perlindungan Gajah



Indonesia memiliki beragam flora dan fauna yang tersebar di seluruh wilayah. Ada beberapa yang memiliki hewan atau tumbuhan endemik khas wilayahnya. Cendrawasih burung khas Papua, Komodo reptil khas Nusa Tenggara Timur atau Gajah mamalia khas Sumatera. Akhir - akhir ini banyak pemberitaan tentang eksploitasi hewan dari habitatnya sendiri oleh oknum tak bertanggung jawab. Orangutan yang berada di hutan Kalimantan habis diburu oleh masyarakat setempat hanya karena ingin membakar hutan dan membuka ladang pertanian. Hewan - hewan liar itupun hijrah ke pemukiman penduduk, mengganggu aktivitas manusia karena habitat aslinya dimusnahkan. Begitupun yang terjadi dengan Gajah yang ada di Sumatera, tepatnya daerah Sumatera Utara.


Akibat kondisi yang memprihatinkan ini, pada bulan Oktober 2015 Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia mengadopsi bayi gajah bernama Eropa dari Conservation Response Unit Tangkahan, dimana CRU mendukung konservasi dan ekowisata berbasis masyarakat di Kawasan Ekosistem Leuser. Sebelumnya bulan Juni 2015 gajah muda bernama Aras dari Unit Patrol Gajah diadopsi terlebih dahulu oleh Delegasi Uni Eropa sebagai maskot Uni Eropa yang melambangkan komitmen terhadap kesinambungan. 


Saya dan Vincent Guerrend (Ambassador Uni Eropa) juga si maskot Eropa

Minggu 19 Juni 2016 bertempat di IFI Thamrin telah diluncurkan film dokumenter pendek yang mempromosikan perlindungan gajah "Save Our Forest Giants" yang dibintangi dan diproduksi oleh Nicholas Saputra juga Amanda Marahimin atas dukungan dari Uni Eropa sekaligus buka puasa bersama. Aktor ini pernah mengunjungi wilayah Tangkahan dan melihat kondisi gajah-gajah yang berada di Taman Nasional Tangkahan sekitar 10 tahun yang lalu. Bagaimana kondisi gajah di penangkaran taman nasional, para pawang gajah dan ancaman Virus Herpes Gajah Endoteliotropik (EEHV) yang telah mematikan bayi-bayi gajah bernama Tangkah, Namo dan Amelia di usia mereka yang masih muda. Sampai sekarang belum diketahui asal virus tersebut dan vaksin untuk penyembuhannya. 

(Ki-ka) MC, Wahdi Azmi, Nicholas Saputra,
Vincent Guerrend

Acara peluncuran film dokumenter ini dihadiri oleh Wahdi Azmi ( Unit Tanggap Konservasi Tangkahan) Nicholas Saputra (Aktor), Vincent Guerrend (Duta Besar Uni Eropa) dan Dirjen Konservasi SDA dan Ekositem Dr. Ir Tachrir Fathoni,Msc. Harapan muncul dari Vincent Guerrend agar film dokumenter ini menginspirasi banyak orang dan kita semua bisa melindungi mamalia besar ini.




Yuk, sebagai warga Indonesia kita harus mendukung dan melindungi hutan dan hewannya yang saling memiliki kontribusi masing-masing. Jangan sampai kita merusak habitat mereka yang menjadi keseimbangan hidup di bumi ini. Lestarikan warisan flora dan fauna Indonesia, agar kelak regenerasi bangsa juga bisa melihat kekayaan alam ini. Simak film dokumenter "Save Our Forest Giants" berikut ini.





8 komentar:

  1. ya karena banyak hutan yang ditebang jadi habitat gajah hilang ya, makanya perlu tempat yang nyaman gajah tinggal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Indonesia memiliki populasi gajah sekitar 1500an yg tersebar di kebun binatang dan konservasi. Belum kehitung pula yg dialam liar.

      Hapus
  2. Huwaa.. Nicholas Saputra ganteng banget, eh jadi gagal fokus :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmm bu Lubena bisa aja, fokusnya yang cakep-cakep..

      Hapus
  3. Wah ada Nic...iya suka kasihan melihat nasib hewan-hewan dilindungi di Indonesia...apalagi gajah...sedih ya habitatnya sudah makin kecil..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sedihnya lagi bayi gajah kurang dari usia 3 tahun mati karena EEHV tersebut, namun vaksinnya belum ditemukan. Karena belum ada sokongan biaya dari pemerintah setempat & nasioanl.

      Hapus
  4. Waaaaaahhh nicsap <3 syakep bangeeeeetttttt.Langsung nonton film dokumenternya ah. Makasi infonya maaaak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Judulnya AADG ya, Ada Apa Dengan Gajah, hehe..

      Hapus