Indonesia Humanitarian Summit 2025, Ajang Penggerak Perubahan Nyata Dompet Dhuafa

Tidak ada komentar
Tiada kata yang tepat selain mengucap syukur telah melewati masa-masa berat di tahun 2025 hingga dapat bertahan di 2026. Memang belum banyak pencapaian pribadi yang meledak, tapi jika mengutip kata-kata Reza Rahadian dalam ulasan film Pangku, bertahan dalam kondisi apa pun di kehidupan, itu sudah suatu pencapaian tersendiri.

Kita semua tahu bahwa dunia sedang dalam perubahan besar yang penuh ketidakpastian. Hal itu memengaruhi ke berbagai sektor ekonomi, sosial, budaya hingga kemanusiaan. Dari kondisi itu banyak yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), daya beli melemah, minim lapangan kerja, dan ketimpangan ekonomi. Hal itu berdampak nyata bagi Indonesia dalam kondisi rentan miskin. 


Film Greenland 2 - Migration, Upaya Pindah Tempat Dari Kiamat Sugra

Tidak ada komentar
Pada dasarnya bencana alam dapat diantisipasi oleh manusia dengan memperhatikan tanda-tandanya. Namun jika kejadian juga, manusia nggak bisa terhindar dari bencana itu.

Dalam pandangan islam, bencana alam termasuk kiamat kecil atau sugra karena merusak sebagian kehidupan manusia. Meskipun terkena bencana akan selalu ada upaya untuk menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman. 

Upaya itu saya saksikan saat menonton film Greenland 2 - Migration di bioskop yang sudah tayang sejak tanggal 7 Januari 2026. Melanjutkan cerita keluarga John Garrity dari film Greenland pertama tahun 2020 yang terkena dampak dari serangan komet yang menghantam bumi dan membuat kepunahan massal sebesar 75%.

Film Timur, Iko Uwais Dari Aktor Laga, Kini Jadi Sutradara

Tidak ada komentar
Lama menghilang dari dunia aktor laga, tiba-tiba muncul dengan satu karya. Kali ini Iko Uwais membuktikan dirinya bisa jadi sutradara dalam film Timur. Film yang mengisahkan tentang konflik, perjuangan, hingga rasa kuat persaudaraan dibalut dengan drama dan indahnya bela diri para pemain. Sumpah ya, saya puas teriak-teriakan selama nonton.

Suasana press conference dan screening
Film Timur
 
Turunnya hujan di hari Kamis, 4 Desember 2025 nggak menghentikan Gelaran Gala Premiere film Timur yang didukung penuh oleh BNI dan tim acara membuat area Epicentrum XXI disulap menjadi representasi "Hutan Rimba Timur" yang dramatis dan megah. Saat saya masuk mau ambil tiket, sempet lewatin para pekerja pembuat set. Ada beberapa kayu yang masih belum terpasang dan karpet coklat terasa becek tapi tetap estetik.

Sebenarnya saya agak awkward datang ke gala premiere film Timur karena memakai kostum yang beda warna. Ketika orang-orang pakai baju serba hitam, saya memakai baju warna putih ada gambar bunga-bunga kuning. Memang nggak ada info sebelumnya soal dresscode, cuma kali ini merasa aneh sendiri. But no problem, nggak diomelin juga sama Iko Uwais.

Hadir di press screening film Timur

Acara ini dihadiri oleh jajaran penting produksi, termasuk Executive Producer Yentonius Jerriel Ho; Executive Producer, Sutradara, dan Aktor Utama Iko Uwais; Produser Ryan Santoso; serta jajaran cast: Aufa Assegaf, Jimmy Kobogau, Macho Hungan, Yusuf Mahardika, Yasamin Jasem, Amara Angelica, Stefan William, Bizael Tanasale, Beyon Destiano, Andri Mashadi, Adhin Abdul Hakim, dan Fanny Ghassani. Nggak ketinggalan pengisi OST Nyanyian dari Timur yaitu Audy Item. 

Film Timur menceritakan tentang prajurit bernama Timur (Iko Uwais) yang bergabung dalam sebuah tim untuk menyelamatkan para ilmuwan dari sandraan para kelompok bersenjata di pedalaman hutan belantara. Terinspirasi dari peristiwa Mapenduma 1996, namun alur cerita menyorotkan tentang rasa patriotisme dan persaudaraan. 

Timur memiliki saudara nggak sedarah bernama Apollo (Aufa Assegaf) dan Sila ( Jimmy Kobogau). Bertahun-tahun Apollo dan Timur berpisah, namun Timur masih menganggap persaudaraan nggak akan pernah putus. Sedangkan Timur dan Sila bergabung dalam satu tim yang sama. Apollo turut bergabung dengan kelompok bersenjata tersebut. Dari peristiwa inilah, Timur berasa di posisi dilema, antara menyelesaikan tugas atau tetap mempertahankan persaudaraan.


Dalam sesi wawancara dengan Iko Uwais ia mengatakan bahwa Timur adalah mimpi yang ia wujudkan bersama tim. Iko Uwais tumbuh besar bersama orang Indonesia Timur, sebuah keluarga yang turut merawatnya dari kecil. Maka karena itu ia ingin mempersembahkan sebuah cerita untuk sahabat-sahabatnya di Indonesia Timur. Iko Uwais berasal dari keluarga Betawi dan Sunda, jadi nggak ada keturunan orang Indonesia Timur. 

Dibalik misi penyelamatan ada pimpinan Kopasus yang memantau pergerakan para tim di lapangan. Saya nggak sangka sih kalau "beliau" lah yang pernah memimpin operasi pembebasan penyanderaan tersebut pada saat itu. Sebenernya ilfil pas adegan dia, karena terasa kurang kontribusinya dalam misi penyelamatan ini. Dulu bebasin orang disandera, sekarang bebasin puluhan juta hektare kebon sawit ditebang abis, eaaaaa...

Di awal-awal cerita ketegangan sudah dimunculkan. Tapi saya belum teriak-teriak nih. Masih mengikuti alur cerita dan sempat ngantuk juga, efek dingin dalam bioskop kali ya. Aksi berantemnya juga belum banyak dan intens. Walaupun Iko Uwais sudah tembak-tembakan sama para kelompok bersenjata, tapi aksi bela dirinya masih sedikit. 

Makin lama makin seru. Dari 5 orang tim khusus, sisa Timur dan Sila saja yang bertahan melawan pemberontak. Di sinilah pertarungan sesungguhnya yang lama dan intens. Martial art (seni bela diri) sangat jadi indah dari sudut pandang kamera. Seakan-akan penonton diajak mengikuti gerakan pemain. Ditambah adegan tusuk menusuk dan gorok menggorok makin pecah teriak saya beserta penonton lainnya. Wajar saja jika rating usia 17+ untuk menonton film ini. 


Film Timur merupakan karya pertama rumah produksi Uwais Picture. PH ini didirikan oleh Ryan Santoso dan Iko Uwais. "Lebih dari lima tahun kami bermimpi membangun rumah produksi yang dapat membawakan film-film laga berkelas internasional,” kata Ryan Santoso.  Hal ini sebagai bukti persaudaraan keduanya di balik layar.

Dengan hadirnya film Timur membuktikan bahwa Iko Uwais nggak cuma jago di depan kamera, tapi di belakang kamera juga sebagai sutradara. Debutnya sebagai sutradara disambut positif oleh para penonton yang hadir saat gala premiere. Bisa jadi film Timur menetapkan standar baru bagi genre laga-emosional di Indonesia.

Saksikan pengalaman sinematik yang menegangkan sekaligus menggugah, sebuah kisah tentang keberanian, pengkhianatan, dan perjuangan tanpa akhir untuk menemukan jalan pulang dalam film Timur tayang di bioskop mulai tanggal 18 Desember 2025. 

Untuk informasi lebih lanjut dan konten eksklusif, ikuti akun media sosial resmi @filmTimurofficial dan @uwaispictures.

Reza Rahadian Bertabur Pujian Atas Film Pangku

Tidak ada komentar
Reza lagi, Reza lagi... 
Kata-kata yang terlontar ketika sebuah film yang diperankannya akan tayang di bioskop. Wajar saja jika ada yang bilang begitu, karena Reza Rahadian sudah bermain di sekitar 80an lebih film. Padahal banyak juga film yang nggak ada Reza Rahadian. Tapi kini, ia nggak menjadi aktor, melainkan menyutradarai dan menulis naskah di film perdananya berjudul Pangku.

Sebenarnya, ini kali kedua saya menonton. Pertama saya menonton bersama komunitas Parentsquads (tgl 16/10) di Lippo Mall Kemang, Jakarta. Kedua, kedua saya berkesempatan hadir di press screening dan gala premiere di Epicentrum XXI, Jakarta dari KOMiK Kompasiana, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda (28/10). Meskipun sudah 2x nonton, tetap menguraikan air mata di akhir film.