Film Greenland 2 - Migration, Upaya Pindah Tempat Dari Kiamat Sugra

Tidak ada komentar
Pada dasarnya bencana alam dapat diantisipasi oleh manusia dengan memperhatikan tanda-tandanya. Namun jika kejadian juga, manusia nggak bisa terhindar dari bencana itu.

Dalam pandangan islam, bencana alam termasuk kiamat kecil atau sugra karena merusak sebagian kehidupan manusia. Meskipun terkena bencana akan selalu ada upaya untuk menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman. 

Upaya itu saya saksikan saat menonton film Greenland 2 - Migration di bioskop yang sudah tayang sejak tanggal 7 Januari 2026. Melanjutkan cerita keluarga John Garrity dari film Greenland pertama tahun 2020 yang terkena dampak dari serangan komet yang menghantam bumi dan membuat kepunahan massal sebesar 75%.

Dalam film pertamanya, Greenland jadi tempat perlindungan terakhir. Di sana ada kompleks bunker bawah tanah didekat Pangkalan Luar Angkasa Pituffik. Para pengungsi yang selamat dikirim ke sana. Selama 5 tahun mereka bertahan hidup di dalam bunker, bahkan mereka menyebut kehidupan new normal.

Ketegangan sudah ada sejak film baru dimulai. Ketika John Garrity keluar dari bunker untuk melihat situasi di luar. Dengan menggunakan baju Alat Pelindung Diri (APD) lengkap dengan masker khusus ia menyusuri area Greenland dan menemukan sebuah kapal sekoci yang masih bisa digunakan di pantai. Tiba-tiba badai radiasi datang dan John Garrity harus balik ke bunker secepat mungkin sebelum pintu bunker tertutup.

Kebayang dong ngos-ngosannya orang lari sekencang mungkin  dikejar-kejar badai biar selamat. Beruntunglah John Garrity bisa masuk lagi ke dalam bunker. Tapi badai dan gempa susulan terus menerjang bunker. 

Di dalam bunker itu ada berbagai macam orang dan jabatan. Dari ilmuwan sampai aparat negara. Pada suatu rapat mereka menyatakan keadaan akan semakin buruk. Maka mereka berdiskusi untuk menyusun strategi untuk berpindah ke tempat aman berikutnya. Salah satunya ada di Eropa Barat, tepatnya di Prancis Selatan. Ada apa sih di sana? 


Akibat hantaman komet raksasa bernama Clarke sebesar 14 km,maka terbentuklah kawah besar yang dindingnya bisa mencegah badai radioaktif terbentuk. Di sana udara dan airnya bersih dari radiasi. Kehidupan bisa jadi lebih baik di sana dan kawah adalah kesempatan terakhir umat manusia. 

Gempa bumi terus menggemparkan bunker dan pengungsi berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri. Mereka berebutan menaiki kapal sekoci yang hanya muat sekitar 10 orang. Dari 3 sekoci hanya 1 yang berhasil lolos dari gelombang Tsunami. Keluarga Garrity ada di dalam sekoci yang lolos itu.

Dalam film pertamanya, Greenland jadi tempat perlindungan terakhir. Di sana ada kompleks bunker bawah tanah didekat Pangkalan Luar Angkasa Pituffik. Para pengungsi yang selamat dikirim ke sana. Selama 5 tahun mereka bertahan hidup di dalam bunker, bahkan mereka menyebut kehidupan new normal.

Ketegangan sudah ada sejak film baru dimulai. Ketika John Garrity keluar dari bunker untuk melihat situasi di luar. Dengan menggunakan baju Alat Pelindung Diri (APD) lengkap dengan masker khusus ia menyusuri area Greenland dan menemukan sebuah kapal sekoci yang masih bisa digunakan di pantai. Tiba-tiba badai radiasi datang dan John Garrity harus balik ke bunker secepat mungkin sebelum pintu bunker tertutup.


Kebayang dong ngos-ngosannya orang lari sekencang mungkin  dikejar-kejar badai biar selamat. Beruntunglah John Garrity bisa masuk lagi ke dalam bunker. Tapi badai dan gempa susulan terus menerjang bunker. 

Di dalam bunker itu ada berbagai macam orang dan jabatan. Dari ilmuwan sampai aparat negara. Pada suatu rapat mereka menyatakan keadaan akan semakin buruk. Maka mereka berdiskusi untuk menyusun strategi untuk berpindah ke tempat aman berikutnya. Salah satunya ada di Eropa Barat, tepatnya di Prancis Selatan. Ada apa sih di sana? 

Akibat hantaman komet raksasa bernama Clarke sebesar 14 km,maka terbentuklah kawah besar yang dindingnya bisa mencegah badai radioaktif terbentuk. Di sana udara dan airnya bersih dari radiasi. Kehidupan bisa jadi lebih baik di sana dan kawah adalah kesempatan terakhir umat manusia. 

Gempa bumi terus menggemparkan bunker dan pengungsi berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri. Mereka berebutan menaiki kapal sekoci yang hanya muat sekitar 10 orang. Dari 3 sekoci hanya 1 yang berhasil lolos dari gelombang Tsunami. Keluarga Garrity ada di dalam sekoci yang lolos itu.

Selama menuju Prancis Selatan banyak rintangan yang dialami. Namun John Garrity (Gerard Butler), Allison (Morena Baccarin) dan Nathan (Roger Dale Floyd) terus bertahan dan bersama-sama menghadapinya. John and Allison sangat mengkhawatirkan anaknya yang punya sakit diabetes.


Selama menonton 98 menit film Greenland 2 - Migration bikin momen tegang dan merasa ngos-ngosan. Apalagi kalau bencana tiba-tiba muncul di kala orang-orang sedang sedikit menikmati kehidupan. Ibaratnya baru aja napas, eh mesti lari-lari lagi menghindari serangan komet atau gempa bumi. Kayak nggak mau lihat orang seneng aja gitu.

Film bergenre thriller bencana ini masih disutradarai oleh Ric Roman Waugh. Visual bencana yang ditampilkan sangat meyakinkan, walaupun saya tahu itu hanya efek visual. Tapi bikin tegang dan geregetan selama nonton. Setelah menonton film Greenland 2 - Migration, banyak hal positif yang saya renungkan. 

In real life, kiamat sugra sudah banyak terjadi. Buktinya kejadian bencana di Sumatera. Manusia sudah bisa melihat tanda-tanda bencana alam, namun dengan rasa acuhnya tidak memedulikan. Semoga hal ini jadi sebuah pelajaran hidup ke depannya. Bersyukurlah kita masih selamat dari kiamat kecil, tapi suatu hari kiamat kubra datang, apa upaya kita? 

Oh ya ada keharuan juga di film ini karena kondisi kesehatan John Garrity semakin memburuk. Prediksi dokter ia hanya bertahan hidup beberapa minggu saja. Nah, kira-kira keluarga John Garrity sampai atau nggak ke kawah Clarke yang ada di Prancis Selatan? Menurut keyakinan saya... Ah tonton saja filmnya di bioskop ya. 

Tidak ada komentar