Sabtu, 02 November 2019

# festival Drumblek # Festival Kampung Ragam Warna

Penuh Keringat, Semangat dan Hebat di Festival Drumblek Kampung Ragam Warna

Keberangkatan saya menuju Festival Drumblek Kampung Ragam Warna sempat meragukan. Pertama, ragu karena tidak ada teman bareng berangkat ke sana dan ragu tidak dapat izin dari orang rumah. Maklum ya saya pergi meninggalkan 2 anak di rumah. Bersyukurnya keraguan nomor dua enggak jadi masalah, aman dapat izin dari suami dan anak-anak bersama ibu selama saya pergi. Keraguan nomor satu masih jadi pertimbangan sebelum pesan tiket kereta.  Saya beranikan diri pergi sendiri dari Jakarta menuju Kampung Ragam Warna.

Kereta Kertajaya dari stasiun Pasar Senen hari Jumat siang itu (251019) mengantarkan saya sampai stasiun Weleri. Perjalanan 6 jam 10 menit seperti tak terasa dijalani. Pilihan kursi dekat jendela membuat penglihatan saya berseri. Baru kali ini saya pergi dengan kereta jarak jauh pada siang hari, biasanya kan dapat jadwal pada malam hari. Sembari menghabiskan waktu, saya sempat mengerjakan tugas tulisan karena dateline menanti. Sekitar jam 20.10 WIB akhirnya saya sampai di stasiun Weleri.

Tulisan icon Kampung Ragam Warna


Sebenarnya acara Festival Drumblek Kampung Ragam Warna diadakan pada tanggal 26 & 27 Oktober 2019. Sengaja saya datang sehari sebelumnya karena sempat singgah di rumah salah satu teman blogger bernama Nyi Penengah Dewanti. Oh ya, saya juga dijemput oleh Zain "si blogger klimis" di stasiun Weleri. Kebaikan mereka sangat membantu saya yang datang sendiri. Begitulah keuntungan dari pertemanan satu profesi.

Tidak disangka bertemu teman blogger yang sudah lama pindah ke Jember. Ternyata mba Prita HW beserta anak dan suami ikut juga acara ini. Beberapa tahun tak bertemu dengan mbak Prita, dari sebelum hamil anak pertama dan baru dipertemukan kembali setelah ada si bayi lucu Tangguh dan sekarang sedang hamil lagi. Bahagianya bisa jalin silaturahmi. Kami pun berangkat bersama ke Festival Drumblek Kampung Ragam Warna esok hari.

Jalanan antar rumah warga penuh warna-warni

Hari Pertama, Malam Minggu di Kampung Ragam Warna


Motor Zain melaju di tengah terik matahari. Panasnya di Kendal ternyata lebih menusuk kulitku daripada panasnya di Depok. Tidak lupa pakai sunscreen dan hand & body sebagai pelindung kulit. Tepat adzan dzuhur berkumandang kami tiba di Kampung Ragam Warna dan langsung registrasi. Sempat ada kesulitan saat registrasi karena panitia kurang maksimal menginfokan tentang rundown kegiatan dan penginapan.

Ini pertama kalinya saya datang ke Kampung Ragam Warna. Sebenarnya melihat sebuah area tempat tinggal yang diwarna-warnai begini sudah tak asing bagi saya. Karena sebelumnya saya tahu ada Kampung Warna Warni Jodipan di Malang, Taman Kampung Bekelir di Tangerang dan Kampung Pelangi di Semarang. Konsep uniknya sama yaitu menampilkan berbagai warna di tiap sudut rumah warga. Tapi saya yakin di Kampung Ragam Warna ada yang berbeda. Tahun ini Festival Drumblek Kampung Ragam Warna diikuti sekitar 350 lebih peserta yang daftar dan sekitar 250  lebih peserta yang hadir.

Mereka serius melukis payung

Aneka gambar peserta lomba lukis payung

Bagus-bagus kan hasil lukisan payung peserta

Kampung Ragam Warna terletak di Dusun Mranggen, Desa Kutoharjo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal. Diresmikan pada bulan Mei 2018 oleh Bupati Kendal. Area yang diwarnai hanya 2 RT saja dengan dimodali cat sebanyak 8000 liter untuk mengecat 100 rumah yang dihuni lebih dari 500 warga dan jalan. Menuju lokasi jaraknya sekitar 23 Km atau diperlukan waktu 40 menit dari Stasiun Semarang Poncol menggunakan transportasi online. Kalau mau naik kendaraan umum bisa menuju terminal Mangkang dan lanjut ke arah Kaliwungu. Sekarang lebih enak karena ada Trans Jateng jurusan Semarang - Kendal dengan ongkos Rp 4.000. Pemberangkatan mulai jam setengah enam pagi sampai setengah tujuh malam.

Rundown hari pertama cukup padat, mulai dari siang hari ada wokshop SMOCK (Seni Model Cak Kaliwungu) berupa kerajinan tangan dari kain percak yang dibentuk menjadi wayang, kartunis, membuat makanan tradisional (Sumpil) yaitu makanan khas daerah setempat yang terbuat dari beras seperti ketupat, berukuran kecil, dibungkus oleh daun bambu, bentuknya segitiga, disajikan bersama parutan kelapa atau serundeng kelapa, biasanya dibuat menjelang maulid Nabi Muhammad SAW atau weh-wehan (saling mengirim makanan), dan ada lomba lukis payung yang boleh diikuti oleh siapa saja. Saya juga ikutan lho lukis payung meskipun enggak menang, yang penting hati senang. 

Keringat terus bercucuran dari dahi dan ketiak. Cuaca memang benar-benar panas sekali di sana. Padahal saya banyak ngademnya di rumah - rumah warga. Sambil melukis payung, keringat saya enggak berhenti bercucuran. Rasanya mau berendam di air dan minum es terus. Tapi saya harus tahan diri banyak minum es, kalau sakit di kampung orang kan repot.

Pemberian lukisan ampas kopi dari Camat Kaliwungu ke Manajer Pacific Paint Area Jateng

Penampilan Rebana Modern

Siang berganti malam, para warga tak henti berlalu lalang. Lampu-lampu mulai dinyalakan bersiap membuka acara dan sambutan. Malam mingguku sedikit berbeda di Kampung Ragam Warna, diselimuti oleh semangat dan kehebatan warganya. Jamuan dan sambutan mereka membuatku betah rasanya. Ditambah keceriaan bertemu dengan banyak peserta dari berbagai daerah. Ada blogger, vlogger, photographer yang tak lelah berburu konten dan suasana malam minggu semakin meriah.

Semakin malam, semakin meriah dengan s rangkaian acara. Ada sambutan dari Bapak Bambang Yogi selaku inisiator Kampung Ragam Warna, Camat Kaliwungu Bapak Nung Tubeno dan acara pun resmi dibuka dengan pukulan gong oleh Bapak Sanuan  kampung seorang sesepuh setempat dan penyerahan lukisan ampas kopi oleh Bapak Suryanto Tjokrosantoso selaku Direktur Pacific Paint wilayah Jawa Tengah. Kemeriahan malam minggu itu dilanjutkan oleh penampilan Tari Anak Kampung Ragam Warna, Rebana Modern dan Band Daun Bambu. Musik raggae menambah malam minggu semakin syahdu.

Hari Kedua, Meriahnya Festival Drumblek Kampung Ragam Warna 


Saya memutuskan untuk menginap di rumah warga. Karena kalau harus balik ke rumah Nyi memerlukan banyak waktu juga. Lagipula acara hari kedua dijadwalkan mulai jam 9 pagi. Tidur saya semalam cukup untuk mengisi energi di hari kedua acara ini. Saya siap bercucuran keringat lagi dan semangat ikuti rangkaian acara sampai selesai.

Sesuai susunan acara hari kedua yaitu lomba drumblek. Para peserta mulai berdatangan membawa dan berbagai instrumen musik dengan personel yang banyak. Sebelum tampil, saya sempat menghampiri 2 peserta lomba drumblek seperti RNB12 dan Aleka Classical. Mereka seniman muda dari Kaliwungu yang berbakat.

Bersama grup RNB12 

Kostum unik a la Zoro dari Aleka Classical

Drumblek merupakan kesenian musik marching band tradisional dari daerah Salatiga pada tahun 1986. Berawal dari keterbatasan alat musik yang dimiliki, sehingga muncul ide untuk memanfaatkan barang bekas sebagai alat musik utama. Mulai dari situ kesenian musik ini bertahan dan menyebar ke berbagai daerah sekitar. Sampai sekarang menjadi kesenian musik tradisional yang terkenal.

Drumblek terdiri dari peralatan seperti jerigen minyak, drum bekas, simbal, gamelan, potongan bambu, paralon bekas, dan alat musik modern pendukung lainnya. Bunyi yang dihasilkan enggak kalah bagusnya dari bunyi alat musik modern.

RNB12 kepanjangan dari Remaja Anak BPI (Bumi Pelataran Indah) sebuah komplek di sekitar Kaliwungu yang tampil diurutan nomor 10. Terdiri dari 5 personel wanita dan 10 pria. Grup drumblek ini sudah ada sejak tahun 2017. Saya asyik ngobrol dengan Bagus yang masih duduk di kelas 3 SMA. Bagus dan teman-temannya sering tampil di acara lain juga selain di Festival  Drumblek Kampung Ragam Warna ini, "Kami sering juga diundang acara-acara atau ikut lomba," jelas Bagus.

Usia mereka masih muda-muda, masih usia sekolah SMP dan SMA. RNB12 sering mengikuti lomba drumblek di sekitar Kaliwungu. Alasan mereka memainkan alat musik tradisional ini karena ingin meneruskan tradisi kesenian. Tentunya hal ini juga disambut baik oleh pemerintah setempat.

Grup drumblek selanjutnya yang saya temui adalah Aleka Classical dengan kostum a la Zoro-nya. Aleka kepanjangan dari Anak Leluhur Kampung Anyar dan Classical diambil dari musik klasik yang mereka mainkan. Mereka terbentuk sejak tahun 2017 dengan 10 personel. Tahun lalu, mereka memenangkan juara pertama dalam kategori kelas pemula.

Saya kagum dengan konsep yang ditampilkan oleh peserta lomba drumblek. Mereka tampil all out. Terlihat sekali kentalnya seni dalam diri mereka. Dari kostum, alat musik yang digunakan, dan kesiapan penampilan dari tiap personel. Bisa dibilang sebuah konsep seni yang sempurna. Tidak hanya RNB12 dan Aleka Classical yang tampil, tapi ada juga grup Cobra, Krespon Lite, Pakar, Sekawan Masa, Anblotan Etnika, dan I VJ.

Adik-adik dari grup Anblotan Etnika sebelum tampil

Semangat peserta lomba drumblek dan warga yang hadir bertambah dengan hadirnya Ibu Bupati Kendal, dr. Mirna Annisa, MSI. Ia berpesan agar dijaga kampungnya dan terus mempertahankan kesenian khas daerah Kaliwungu.

Ada satu kegiatan unik di Festival Drumblek Kampung Ragam Warna ini. Saya bertemu dengan seniman lukis ampas kopi bernama Andre Himawan. Ia tengah asyik melukis saat saya menghampiri.

"Melukis apa mas?" tanya saya.

"Ini melukis Candi Borobudur," jawabnya sambil tetap serius melukis.

Ia tidak merasa terganggu dengan kehadiran saya dan beberapa teman yang ingin tahu tentang lukisan ampas kopi ini. Saya pikir ampas kopinya bisa dari kopi apa saja, ternyata dari kopi khusus yaitu kopi cete, kopi serbu bertekstur halus. Bakat melukisnya dari sang ayah dan ia jadikan hobi yang menghasilkan. Namun bukan jadi sumber penghasilan utama karena ia juga bekerja. Mulai melukis dari ampas kopi sejak tahun 2016 atas saran dari seorang teman.

"Teman itu kasih saran coba deh melukis pakai ampas kopi. Ternyata baru dicoba asyik dan menarik, lanjut sampai sekarang" ceritanya.

Alat-alat yang digunakan untuk melukis mudah ditemukan seperti kuas kecil, ampas kopi, kertas watercolor A3, air, pensil, dan pisau kecil.

Coba melukis bersama mas Andre Himawan

Sudah banyak hasil karya lukisannya. Salah satunya dikirim ke Moskow sebagai cinderamata saat acara Festival Indonesia. Sebenarnya ia tidak menjual lukisannya, hanya sebagai  bentuk apresiasi diri. Tapi kalau ada yang mau beli boleh saja. Harga lukisan dipatok mulai dari 300 ribu rupiah, tergantung dari tingkat kesulitan dan ukurannya. Ia lebih suka melukis objek realis atau pemandangan alam. Melukis wajah orang baginya cukup sulit karena takut tidak mirip.

Lukisan Candi Borobudur dari ampas kopi selesai dalam waktu satu setengah jam. Kehadiran saya dan teman-teman tidak menganggu konsentrasinya untuk menyelesaikan proyek lukisan ini. Saya kagum dengan bakat melukis yang mas Andre miliki. Sayangnya, saya harus berkeliling lagi melihat peserta lomba drumblek beraksi.

Harapan untuk Kampung Ragam Warna


Wow, sebenarnya selama 2 hari di Kampung Ragam Warna belum cukup bagi saya karena belum sepenuhnya saya jelajahi. Saya merasa betah. Bagaimana tidak? Sajian makanan tak berhenti, keramahan warganya, kemeriahan acaranya, semangat panitianya, dan tentunya kehebatan dari para senimannya.

Banyak harapan yang saya inginkan dari Kampung Ragam Warna. Tentunya untuk kemajuan kampung ini. Karena potensi yang ada bisa dikembangkan lagi. Kalau bisa ramainya kampung tidak hanya saat festival saja, tapi juga setiap waktu yang ditentukan. Kegiatan yang sudah dijalani saat festival ini bisa terus berlanjut.

Kehebatan dari para pemenang lomba drumblek

Kegiatan melukis payung, kerajinan tangan kain percak, atau menikmati makanan sumpil bisa ditemui para wisatawan yang datang. Misalnya diadakan sebulan dua kali. Jadi, ada hal yang berkesan pulang dari Kampung Ragam Warna. Bukan hanya kenang-kenangan foto instagramable semata.

Ibu Wiwik Wijaya selaku inisiator Kampung Ragam Warna mengakui memang belum ada kegiatan rutin sepeti itu, namun bisa saja jadi pertimbangan seiring berjalannya  waktu. Diadakan Festival Drmblek Kampung Ragam Warna tidak hanya mengangkat kesenian lokalnya, tapi juga meningkatkan ekonomi kreatifnya. Pendapatan warga bisa terus bertambah.

Festival Drumblek Kampung Ragam Warna diadakan setiap tahunnya. Saya yakin tahun-tahun berikutnya akan menambah banyak pengunjung yang datang, jika semua kegiatan rutin dijalani. Teman saya, Zain bilang sebenarnya ada stasiun Kaliwungu yang sudah lama tidak beroperasi. Sayang banget kan. Kalau saja  stasiunnya diaktifkan kembali, makin mudah pengunjung menjangkau kampung ini.

Semoga bertemu lagi dengan mereka di festival drumblek kampung ragam warna berikutnya

Acara Festival Drumblek Kampung Ragam Warna ditutup oleh pengumuman para pemenang dari lomba lukis payung dan drumblek. Hadiah yang diberikan banyak sekali yaitu berupa uang dari para pihak sponsor. Selamat buat grup RNB12 telah memenangkan juara 3 lomba drumblek tahun ini. Tambah lagi prestasinya.

Pengalaman perjalanan yang penuh keringat, semangat dan kehebatan di Kampung Ragam Warna. Saya tak menyangka bisa jalan-jalan sejauh ini dan pertama kali menghadiri acara festival semacam ini. Banyak pengalaman tak bisa saya lupakan selam di sini, apalagi saat membagikan sepaket minyak angin cap kapak. Nama Kampung Ragam Warna tidak hanya terdengar sampai Moskow saja, tapi seluruh dunia. Semoga bisa cepat kembali ke kampung penuh warna warni ini lagi.




***

43 komentar:

  1. Aku nggak sempat foto di tulisan kampung ragam ahahahaha.
    Kemarin setelah mencari konten, ngobrol santai, lanjut ada acara di Semarang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaahh sayang banget kak. Kami puasss banget foto-foto di situ. 😆

      Hapus
  2. Aduh, seru banget bacanya deh. untungnya gk ada hujan ya mbak. Tapi jadinya panas banget ya ��

    Walau begitu seneng ya liat pesertanya all out & semangat gitu ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cuaca panasnya terbayarkan dengan segelas es biji selasih dan penampilan keren para peserta.

      Hapus
  3. Kusuka banget lihat foto anak-anaknya pada neglukis payung kertasnya euy. senang banget lihat kreativitas mereka-mereka itu.

    Warna-warni memang bisa bikin ceria dan lebih hidup yaa..

    btw, kalau musim hujan gini, warna-warni cat-nya gampang luntur gak ya?!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Payungnya bukan buat hujan-hujanan, tapi buat dipajang.

      Hapus
  4. Kuranggg waktunyaaa yaa. Berkesan meski panas2an, wkwk. Btw, itu pengalaman membagikan paketan cap kapak ga lupa ya, hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha,, nggak terlupakan itu bagiin minyak cap kapak. Pesan sponsor mesti disebarkan.

      Hapus
  5. Masya Allah Mama Gieee, berkah banget ini yaaa. Dari kerjaan bisa menjelajah ke berbagai tempat dengan keunikannya, bisa silaturahmi dengan teman di Kota berbeda pula. Btw aku baru tahu tentang Festival Drumblek ini, walau sambil panas-panasan, Pesertanya keliatan antusias dan total semua, kereeen.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berkat ngebolang ke sini, aku jadi tambah pengalaman tentang Indonesia dan keunikannya.

      Hapus
  6. Cantik banget tempatnya ya.... jadi pingin mampir kalau suatu saat ke arah sana. Acaranya ternyata seru banget ya... menyesal aku ngga daftar hahahahhaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo mampir nanti mba Memez. Tahun depan bakal ada lagi.

      Hapus
  7. WOw tuklisannya lengkap sekali mama sagara. Aku nggak datang ke sana tapi seolah olah ada dsana. Seru banget emang jadi nggak keliru kalau sampai keringetan :D

    Senangnya ada kegiatan yang mendukung promosi wilayah ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kamu sibuk kerja sih mba..😀. Pemerintah setempat dukung banget kegiatan massal macam begini.

      Hapus
  8. Kebayang panasnya sampe keringatmu bercucuran. Tapi puas ya melihat mereka all out tampil maksimal, apalagi anak-anak muda yang ditampilkan, semoga terus semangat mengangkat budaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begini rasanya kerja dengan keringat tapi hasil tak berkhianat. Benar-benar pertunjukkan yang melupakan penat.

      Hapus
  9. Wah ini sih kerwn banget kak. Sepakat nih,kalo stasiunnya beroperasi lagi tinggal cuss yak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya perlu dukungan dari masyarakat juga buat aktifin stasiunnya lagi.

      Hapus
  10. Duh lihat lukisan di payung2 itu...cantik2 amat ya. Ga kalah deh sama payung Tasik. Laras seru amat bisa merasakan kebahagiaan di sana, foto2 dengan mereka yg terlibat di acraa menarik ini. Festival Drumblek Kampung Ragam Warna Kendal ini mengingatkan aku akan Kampung Warna-warni di Malang.. hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Secara konsep hampir sama dengan kampung warna-warni lainnya. Cuma di Kaliwungu ini yang bikin beda yaitu drumbleknya.

      Hapus
  11. payungnya cuakeeepp.. dijual nggak? tahu gitu nitip buat dibeliin huhu.. cakep banget kampungnya, kesana naik apa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naik kereta sampe Weleri pas perginya dan ke Semarang pulangnya.

      Hapus
  12. warbiyasak yaaa kaka nurul semangat berkelananya.
    untung support system mendukung. Kalau ejkeh maaah belum tentu.
    tapi jadi banyak cerita nanti ke anak-anak. Yeaah, selama diizinin suami, its all fine

    BalasHapus
  13. Baru denger dan tahu ada festival Dumblek, pas lihat kampung warna warni sempat kepikiran pasti banyak budget untuk memyulap kampung ini jd keren. Tp begitu ada logo brand Pasific paint, jd terjawab pertanyaan itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sponsornya keren ini mau kasih berliter-liter cat buat Kampung Mranggen jadi Kampung Ragam Warna.

      Hapus
  14. Baru tahu kalau ada beberapa kampung warna warni di Indonesia. Pastinya kampungnya jadi cerah dan meriah penuh warna ya mbak. Btw drumblek ternyata plesetan dari drumband ya ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya plesetan dari drumband atau marching band gitu. Cuma beda instrumennya aja.

      Hapus
  15. Warga di sana terasah ya kreativitasnya. Kampung warna di sini sudah ada sejak kapan, Rul? Warga di sana sudah sejak lama berkreasi seperti ini, ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kampung Ragam Warna ada sejak tahun 2018 diresmikan langsung sama Bupati Kendal.

      Hapus
  16. Kemarin ikutan menggambar payung kayu dong di sana.
    Seru bangeeetttt...

    Anw, warganya ramah-ramah ya. Seneng pas keliling dapet banyak senyum. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kamu ikut yg tahun lalu ya kak? Saya belum tahu sih tahun lalu ada festival seru begini. Syukurnya tahun ini bisa ikutan.

      Hapus
  17. Berkunjung ke kampung warna-warni aja sudah bikin senang ya. Apalagi ditambah dengan berbagai kegiatan seperti lukis payung dan festival musik. Tentu membawa kesan mendalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya kegiatan tersebut mau diterapkan terus di Kampung Ragam Warna.

      Hapus
  18. Kemarin padahal aku pengen ikutan ini loh, karena baru balik dari Ausie jadi gak berangkat. Bertepatan juga dengna suamiku dinas jadi anakku gak ada yang jagain deh. Seru ya lihat acaranya, apalagi foto-fotomu juga bikin iri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti kamu juga capek banget kan kak Cici. Jadi lebih baik istirahat sambil jaga si kecil.

      Hapus
  19. Wih seru banget kaka main ke kampung warna, aku baru tau di kendal ada juga yg namanya kampung warna. Hihi seru ya kalau main ke daerah lain selain jabodetabek, rasanya itu beda. Ya meski panasnya lebih berasa �� tapi aku duka suasana daerah

    BalasHapus
  20. seru banget kampung warna warni ini.... harus mampir nih kalau mau ke Yogya :)

    BalasHapus
  21. Wuaaa ambience nya beda-beda ya tiap kampung warna, sip noted setelah ak kunjungi kampung warna-warni Jodipan Malang, next trip bisa kesini ini kalo jalan sekalian ke Jogja. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cobain Dys datang ke sini. Grup Drumbleknya banyak dan menarik lho.

      Hapus
  22. Manteb banget kampung ragam warnanya. Jadi pengen gabung anak anak buat kayak itu. tapi juga pake blonde wall. hahaha nice post kakak

    BalasHapus