Senin, 06 Maret 2017

# autisme # lomba foto

Tingkatkan Kepedulian Melalui Program "Kita Sama"

Manusia adalah mahluk sosial. Berinteraksi dan berkomunikasi dengan banyak orang. Saling mengahargai dan menghormati itu sangat penting dalam berkehidupan sosial. Manusia tidak bisa hidup sendiri, pasti butuh bantuan orang lain. Tanamkan rasa empati dalam diri kita agar tetap saling peduli. Tidak semua orang itu sama, secara fisik atau mental. Ada disekitar kita orang-orang yang membutuhkan perlakuan khusus, misalnya anak penyandang autisma. 

Sebagai tanda kepedulian sesama terhadap anak penyandang autisma untuk masa depannya, Selasa 28 Februari 2017 telah diluncurkan program baru khusus anak berkebutuhan khusus (ABK) dari perusahaan Interface.BPN dan Optima Media yaitu KITA SAMA. 

ki-ka : MC Mely Munial, David Wibowo, Rani Karina Basri, Kang Hery 


"KITA SAMA merupakan kegiatan yang dapat membentuk dan merubah persepsi, baik untuk penyandang, orangtua dan masyarakat" jelas Rani Karina Basri, Community Marketing Director Interface.BPN.

Dikutip dari website autisma.or.id autisme adalah gangguan perkembangan kompleks yang gejalanya harus sudah muncul sebelum anak berusia 3 tahun. Gangguan neurologi pervasif ini terjadi pada aspek neurobiologis otak dan mempengaruhi proses perkembangan anak. Akibatnya anak tidak bisa secara otomatis belajar berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitar, seolah-olah ia hidup dalam dunianya sendiri. 

Program ini juga mendapatkan dukungan dari Yayasan Autisma Indonesia, Tiga Generasi, Peduli Autisme, PT Indolakto (Indomilk) PT Hutchison Three, Artsphere, MNC Channels, IRIS Indonesia, Pathfinders dan pihak-pihak lainnya.

Ki-ka : Feriyana Widodo (Ketua YAI), Saskhya Aulia Prima, M.Psi (Psikolog 3 Generasi),
 ibu Rani Karina Basri

Launching program ini turut dihadiri oleh Feriyana Widodo, artis sekaligus ketua dari Yayasan Autisma Indonesia. Beliau mempunyai seorang anak penyandang autisme, berusia 23 tahun dan sekarang kuliah di IPB. Yayasan Autisma Indonesia (YAI) berdiri pada tahun 1997, dimana isu tentang autis mulai merebak di kalangan masyarakat. Yayasan ini ada untuk membantu anak berkebutuhan khusus untuk tetap berkarya. Setiap tahunnya diadakan kegiatan kampanye peduli autisme untuk merasakan kebersamaan antara penyandang, orangtua dan sekolah.

"Autisme itu bukan penyakit tapi hambatan dalam melakukan sesuatu, terutama dalam hal berinteraksi dan berkomunikasi" jelas Saskhya Aulia Prima, M.Psi. Anak penyandang autisme itu fokus pada satu kegiatan. Makanya ia akan "jatuh cinta" dengan kegiatan yang ia suka. Misalnya menyusun balok sampai tinggi, melukis atau menggambar. Sebenarnya semua orang punya sisi autisme, tapi tergantung dengan challenge yang diberikan. Bagi anak berkebutuhan khusus bidang yang paling menonjol adalah art (seni) seperti menggambar atau melukis karena menyalurkan ekspresi pikiran dan perasaan mereka, mengurangi stress dan ketegangan sehari-hari. Orang tua dapat mengetahui bakat, minat dan potensi mereka di masaa depan.

Maya Sujatmiko ( Kurator dan konsultan seni)
Willy Yoh (Dosen di UI dan pecinta photografi)

Peluncuran program KITA SAMA terdiri dari 2 lomba bercerita dan lomba menggambar warna khusus penyandang autisma. Lomba dibuka untuk umum. Untulk lomba menggambar berwarna ditujukan untuk semua penyandang autisme di seluruh Indonesia & berumur 15 tahun. Untuk kompetisi Foto Bercerita bisa diikuti oleh seluruh warga Indonesia yang memiliki kerabat berkebutuhan khusus dapat menjadi peserta dan mengirimkan foto bercerita dalam bentuk rangkaian foto dengan minimal 3-6 foto dan setiap foto disertai dengan cerita (caption) yang mengandung min.200 kata. Hasil dari kedua lomba tersebut dikirimkan melalui programkitasama@gmail.com dan bisa ke instagram @programkitasama dengan menyertakan tagar #FOTOKITASAMA #GAMBARKITASAMA.

Keterangan lengkap lomba




Willy Yoh selaku juri ingin mengajak seluruh masyarakat memberikan perhatian khusus dan ruang kembang bagi para penyandang autisme dalam karya kreatif. Seni menjadi wadah bagi anak berkebutuhan khusus dalam menyalurkan ekspresinya. Bahkan bisa menjadi lahan pekerjaan untuk masa depan. Mereka juga manusia biasa, mahluk Tuhan yang saling membutuhkan karena Kita Sama.

***




4 komentar:

  1. betul , malah sekaarng ada sekolah yang mau menerima anak autisme

    BalasHapus
  2. Anak Autis ternyata bukan suatu yang memalukan ya, mereka bisa cerdas seperti anak pada umumnya.

    BalasHapus
  3. Kegiatan positif yang patut mendapat perhatian. Terima kasih infonya dan ijin share ya mak..
    Betul anak-anak penderita autis sebetulnya juga banyak memiliki kelebihan...selalu demikian adanya.

    BalasHapus
  4. I like this blog and your style of writing, everything is understandable! thanks for your work!

    BalasHapus