Selasa, 05 September 2017

Perubahan yang Diinginkan Dalam Berasuransi

Saya pernah melamar pekerjaan di salah satu perusahaan melalui online. Perusahaan yang saya kirim lamarannya itu adalah perusahaan asuransi. Beberapa lama kemudian saya dipanggil untuk hadir ke kantornya. Saat itu saya masih fresh graduate dari kuliah. Jadi, saya coba semua setiap lowongan pekerjaan termasuk yang satu itu. Ketika datang ke kantornya di bilangan jalan Sudirman Jakarta, saya bertemu langsung dengan seorang pria. Awalnya saya tidak tahu dia siapa, tapi setelah tahu pria itu seorang agent asuransi. Saya diberikan penjelasan panjang lebar tentang produk asuransi. Mulai dari pengenalan sampai cara mendapatkan target. Ngantuk? Pastilah. Teoritis sekali penjelasannya. Kira-kira sampai 2 jam. Jujur, tidak ada yang menyangkut di otak saya. Hasilnya saya tidak menerima pekerjaan itu. Bukannya sombong tapi belum sreg aja. 

Seiring waktu berjalan dan saya juga sering mengikuti acara yang diselenggarakan asuransi, perlahan saya membuka mata dan hati untuk mengetahui lebih dalam tentang asuransi. Terutama tentang asuransi jiwa dan pendidikan. Mengapa 2 asuransi tersebut? Asuransi jiwa diperuntukkan bagi pemegang polis untuk berjaga-jaga jika meninggal dunia. Asuransi pendidikan berguna bagi pemegang polis yang memiliki anak untuk biaya sekolah di masa depan. Kebetulan di keluarga saya, ibu dan kakak sudah memiliki asuransi hari tua dan pendidikan. Saya doang yang belum punya 😣. 

Nah, kebetulan sekali saya menghadiri lagi acara yang diselenggarakan asuransi di daerah Sudirman Jakarta. Tapi bukan tempat yang waktu saya melamar lho. Kantor asuransi yang terletak di lantai 20 gedung Sahid Sudirman Center adalah PT Equity Life Indonesia. Kamu pernah dengar? Pasti, saya pun pernah dengar nama asuransi jiwa ini, namun tidak terlalu tahu. Saya hadir dalam rangka merayakan 30 tahun Equity Life Indonesia. Yap, PT Equity Life Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri asuransi jiwa individu dan kumpulan dari tahun 1987. Equity Life Indonesia memiliki produk yang lengkap melingkupi asuransi jiwa, kesehatan sampai dana pensiun.




PT Equity Life Indonesia sudah berusia 30 tahun, tapi belum banyak orang yang tahu keberadaanya. Tepatnya 16 September 2017 perusahaan asuransi ini berdiri. Selama itu pula Equity Life Indonesia telah meraih 9 penghargaan pada ajang Top Agent Awards yang diselenggarakan oleh Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) di Palembang. Di usianya yang sudah matang ini, Equity Life Indonesia yakin dan siap untuk menjangkau lebih banyak masyarakat Indonesia dari seluruh lapisan ekonomi dan sosial agar dapat memiliki perlindungan jiwa dan kesehatan dengan jalur mudah melalui jalur distribusi yang dimiliki yaitu Agency, Group Business, Bancassurance, Retail Insurance, dan Cimmunities Market. Pastinya juga didukung dengan mengembangkan rangkaian teknologi terbaru.

Para agent dan presiden direktur Equity Life Indonesia

Kali ini di ulang tahunnya ke 30, Equity Life mengangkat tema #UntukmuIndonesia. Hal ini bertujuan menghadirkan beberapa rangkaian kegiatan untuk meningkatkan rasa kecintaan terhadap bangsa dan mengajak masyarakat Indonesia untuk berkontribusi menjaga serta melestarikan nilai-nilai dan budaya Indonesia. Pantas saja pas saya masuk ke dalam ruangan acara tata panggungnya berhiaskan candi, wayang, aneka buah-buahan. Didominasi dengan warna hijau membuat suasana menjadi teduh dan nyaman. Serasa ada di hutan tropis berada di ruangan itu. Equity Life Indonesia juga meluncurkan microsite www.equity.co.id/equity30. Dari microsite tersebut menghadirkan kompetisi foto dan blog dengan hadiah perlindungan diri gratis senilai Rp 30.000.000 selama 30 hari kepada 30.000 masyarakat Indonesia. Hanya perlu mendaftar dan melengkapi data diri di microsite.

Blogger gathering bersama Equity Life Indonesia

Jujur saya masih ragu untuk memiliki asuransi. Beberapa asuransi yang saya ketahui memasang tarif premi yang cukup besar. Maklum saja di keluarga saya hanya suami yang mencari nafkah dengan gaji yang relatif kecil. Jadi masih dipertimbangkan untuk mengambil asuransi. Hal ini berkaitan dengan layanan yang diberikan nasabah. Seharusnya asuransi bisa memberikan  kelonggaran pembayaran premi. Misalnya gajinya sekian, premi asuransi bisa di negosiasikan. Bisa disesuaikan dengan kemampuan nasabah. Saya mengerti jika perusahaan asuransi telah menghitung premi dan hasil yang akan didapatkan oleh nasabah. Mayoritas masyarakat Indonesia berada di kelas menengah ke bawah. Jika ingin menyadarkan masyarakat akan pentingnya berasuransi, berikan premi yang sesuai dengan kemampuan nasabah. Saya yakin banyak yang berminat. Revolusi dalam berasuransi juga terlihat.

Pada jaman milenial ini semua kebutuhan terhubung dengan internet. Teknologi digital pun juga harus lebih maju. Tentunya perusahaan asuransi termotivasi untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Majunya teknologi digital juga sebagai wujud dari revolusi asuransi. Memberikan kemudahan bagi nasabah untuk mendapatkan informasi lengkap tentang asuransi yang dipilih. Produk asuransi yang paling sering dibahas adalah asuransi jiwa. Menurut saya produk ini selaras dengan kondisi kebanyakan orang saat ini, terutama bagi masyarakat urban. Keselamatan seseorang sangat penting nilainya. Memiliki asuransi bukan berarti "menyumpahkan" diri segera meninggalkan dunia ini, tapi untuk berjaga diri jika terjadi sesuatu dengan diri kita, ada yang menanggungnya.

Semoga dengan adanya perubahan masyarakat Indonesia bisa lebih sadar akan berasuransi. Anggap saja seperti menabung di bank, tapi tidak memiliki kartu ATM dan nomor rekening. Jadi tidak bisa diambil sesuka hati karena ada ketentuan waktu untuk pengambilan uangnya. Saya harap bisa memiliki asuransi yang sesuai dengan kemampuan ekonomi dan bisa menyelamatkan keadaan nanti.



***


Cordlife AWESOME : Merayakan World Cord Blood Day Pertama Karena Pentingnya Menyimpan Darah Tali Pusat

Memiliki buah hati adalah dambaan setiap pasangan suami istri. Hadirnya si kecil menjadi pelengkap sebuah keluarga. Ada yang langsung diber...